Connect with us

Budaya / Seni

Annora, Radio Rusak, dan Penyiar yang Misterius – Cerpen Saifu Ali

Published

on

Lukisan Jaihan, "Perempuan"/Foto: dok. rupasenirupa

NUSANTARANEWS.CO – Setiap mendengarkan radio Annora sering berkhayal bisa datang ke Kota Besar kemudian mendapatkan tanda tangan penyiar radio yang dikaguminya. Menjadi gadis berusia tujuh belas tahun yang buta sedari lahir yang mempunyai keinginan seperti itu sulit terwujud. Namun, entah kenapa pagi itu—dengan segala kekurangannya—ia asyik saja menikmati suara dari penyiar radio favoritnya yang sedang bertugas di sebuah studio nun jauh di sana.

“Jangan dirubah frekuensinya, Nek!” Annora kesal karena tiba-tiba neneknya merubah frekuensinya.

Nek Wardah memiliki pendengaran kurang baik. Ia masih mencari-cari frekuensi radio yang pas untuk usianya. Akhirnya ia mendapati acara nostalgia dengan lagu-lagu lawas. Nek Wardah tersenyum-senyum sendiri seraya menirukan lagu itu.

“Nenek! Cepat diganti!” Annora sudah cemberut dan makin naik pitam.

“Nenek tak pernah mengajarkanmu berkata kasar, Cu. Baiklah, Nenek akan menuruti permintaanmu.” Frekuensi yang diinginkan Annora kemudian dicari oleh Nek Wardah. Tapi, setelah bermenit memutar-mutar tombol pencarian, frekuensi yang dimaksud tak ditemukan.

Loading...

Annora langsung kesal sambil membuang tongkatnya. Tanpa disengaja tongkat itu terpelanting mengenai radio yang berada di atas meja. Radio itu pun jatuh ke tanah dan mati seketika.

“Apa yang terjadi, Nek?” Annora panik dengan mata berkedip-kedip setelah mendengar benda jatuh dari meja.

“Radionya mati. Rusak,” jawab Nek Wardah pendek, mukanya bersedih.

“Apa?”

Annora kemudian berdiri, berjalan meraba-raba. Ia tak menyangka, kecerobohannya membawa kesialan bagi dirinya sendiri. Dengan duduk terkulai di tanah, ia berpikir. Akankah aku bisa mendengarkan suara penyiar itu esok hari?

***

Annora membawa radio rongsok yang rusak itu ke tukang servis.

“Kerusakannya terlalu parah,” kata tukang servis, “sebab ada beberapa bagian yang sulit diperbaiki.”

“Apa sebegitu parahnya sehingga tak bisa diperbaiki lagi, Tuan?”

“Iya.”

“Tuan ini tukang servis!” Annora tiba-tiba tak bisa mengendalikan emosinya. “Pasti Tuan bisa memperbaiki kerusakan radio ini serusak apa pun! Tuan jangan berbohong!”

“Saya juga manusia biasa, Neng!” jawab tukang servis itu ketus. “Kalau tidak percaya, silakan cari tukang servis yang lebih baik dari saya!”

Mendengar kemarahan tukang servis itu, sesaat kemudian ia pun sadar. Ia tak pantas berbuat demikian. “Berapa pun uang yang Tuan minta, akan kupenuhi asalkan radio ini nyala kembali. Saya minta maaf karena sudah berkata kasar.”

“Terlalu rumit, Neng,” jawab tukang servis masih sedikit memendam amarah.

Baca Juga:  Pernikahan Bayang-bayang – Cerpen A. Khotibul Umam

“Apa tidak ada cara lain, Tuan?”

“Sudah saya bilang tadi, tidak ada.”

“Apa karena Tuan tahu kalau aku adalah gadis buta yang miskin, makanya Tuan tidak mau membenarkan radio ini?” tiba-tiba ia mendakwa dirinya sendiri.

Annora lalu pulang dengan hati remuk. Sepanjang perjalanan, ia mengeluarkan air mata kepedihan. Radio yang ada di genggamannya ini sangat berharga. Kini harapannya musnah—tak akan ada penyiar bersuara emas tiap pagi yang mengajaknya keliling dunia.

Annora terus berjalan dengan tongkatnya, menelusuri jalan. Hatinya buncah, sedih. Orang-orang pasar hanya memandangi Annora―si gadis buta yang memeluk erat radionya―dengan rasa ganjil. “Gadis buta itu sudah gila dengan radionya!”

***

Selama seminggu Annora mendekam di kamar karena malas beranjak ke mana pun. Radio itu sudah menjadi belahan jiwanya. Radio itu sudah banyak menghiburnya. Hingga pada suatu malam terlintas ide untuk membawa radio rusak itu ke Kota Besar—barangkali saja bisa diperbaiki karena di sana banyak peralatan canggih. Esok paginya, ia mengutarakan maksudnya itu kepada neneknya.

“Nenek tak akan mengijinkanmu untuk pergi ke kota untuk memperbaiki radio itu,” kata Nek Wardah mengasihi cucunya. Ia sangat mencemaskan cucunya yang buta itu..

“Annora sudah dewasa. Nenek jangan khawatir,” Annora percaya diri.

“Kau jangan pergi—”

“Nek, Annora memohon pada Nenek. Ijinkanlah Annora pergi ke Kota Besar sekali ini saja. Annora ingin memperbaiki radio ini. Sekalipun kalau sampai di sana radio ini benar-benar rusak, setidaknya Annora bisa merasakan kehidupan Kota Besar.”

Nek Wardah langsung bungkam mendengar penuturan cucunya itu. Sejak lahir Annora belum pernah merasakan aroma kehidupan Kota Besar. Selama ini Nek Wardah hanya mengenalkannya pada kehidupan pedesaan yang jauh dari keramaian kota.

Annora terus mendesak. Akhirnya dengan berat hati, Nek Wardah mengijinkan Annora pergi ke Kota Besar. Saat itu juga Annora langsung mengemasi pakaiannya. Hari itu merupakan catatan penting bagi kehidupan Annora. Annora memeluk Nek Wardah. Seperti salam perpisahan untuk selamanya. Mengharukan.

***
Setelah turun dari angkutan kota, Annora langsung mencium kepulan asap kendaraan. Kini ia bisa menikmati Kota Besar. Ia sudah membayangkan kalau di sekelilingnya ada gedung-gedung pencakar langit, taman indah berisi bunga-bunga, dan air mancur yang saling bersilangan. Betapa ia sangat bahagia siang itu.

“Inilah kehidupan perkotaan!” ucapnya semangat.

Baca Juga:  Ayah dan Anak yang Menutup Kerongkongan – Kisah Ni Nyoman Ayu Suciartini

Annora lalu menelusuri trotoar Kota Besar sambil menggamit tasnya yang berisi uang dan radio. Ia bingung. Harus ke manakah aku membetulkan radio ini? pikirnya. Dan lebih membingungkan lagi manakala ada orang berlarian seperti ketinggalan kereta.

Di depan loper koran secara tak sengaja tongkat Annora mengenai kaki orang yang berjalan cepat itu. Pemuda kemeja biru itu mengaduh, jongkok, dan memegang kakinya yang kesakitan.

“Saya tidak sengaja. Maafkan kecerobohan saya,” kata Annora.

“Oke, tak masalah.”

“Apa ada yang sakit?” khawatirnya.

“Tidak,” elaknya sedikit berbohong. “Maaf, saya buru-buru. Ada urusan di Radio Venus FM!”

“Radio Venus FM? Bukankah itu nama radio tempat penyiar bersuara emas siaran?”

Pemuda Kemeja Biru itu tak menjawab sebab terlanjur bergegas.

***

Annora sampai ke lokasi studio Venus FM setelah bertanya ke beberapa orang yang ditemuinya di sepanjang trotoar. Hari itu ternyata dilaksanakan audisi penyiar baru dan ratusan muda-mudi datang mengikuti seleksi.

“Kalau Mbak tidak memiliki nomor urut, Mbak tidak bisa masuk ke studio ini,” ungkap Pak Satpam menjaga keamaanan jalannya audisi.

“Apakah untuk bertemu penyiar bersuara emas sesulit ini?”

Annora mengotot ingin masuk. Semakin dihalangi, Annora makin memberontak. Ia menerjang paksa badan kekar Pak Satpam.

“Jangan masuk sembarangan, Mbak. Jangan masuk!”

Mendengar keributan di luar, pemuda berkemeja biru yang tadi secara tidak sengaja bertemu Annora itu langsung keluar dari ruangan. Annora mengenali suara pemuda itu.

“Saya datang untuk bertemu penyiar bersuara emas, Mas. Di mana penyiar bersuara emas itu, Mas? Cepat katakan!”

“Di sini tidak ada penyiar bersuara emas yang Mbak cari. Sungguh ….”

“Jangan berbohong, Mas!” Annora mulai marah—meluap-luap tak jelas dan terus-menerus bertanya di mana suara penyiar bersuara emas itu; penyiar yang membuatnya bersemangat menjalani hidup, penyiar idolanya. Kemudian pemuda berkemeja biru itu langsung memahami maksud Annora dan berkata, “Pemuda bersuara emas bernama Dewa yang Mbak cari?”

“Iya, itu namanya.”

“Dia telah meninggal tiga tahun yang lalu.”

Tubuh Annora mendadak lemas. Jantungnya terasa mati. Kepalanya berdenyut-denyut. Ia ingin roboh ke lantai. Pria ini berbohong, dengusnya dalam hati.

“Sungguh, penyiar yang Mbak cari sudah meninggal dalam kecelakaan mobil,” ulangnya sekali lagi. “Selama ini kami memutar rekamannya untuk mengenang sosoknya.”

“Jadi, selama ini aku mendengarkan siaran orang yang sudah mati?” Matanya mulai berkaca-kaca.

Baca Juga:  Orang-orang Tanpa Tangan, Sebuah Cerpen

Annora masih belum percaya kalau penyiar bersuara emas itu sekadar rekaman. Ia duduk di kursi lobi. Lama. Sendirian. Rasanya semuanya masih mustahil. Satu per satu peserta audisi pulang. Suasana makin sepi dan hujan turun dengan lebatnya. Pak Satpam menyuruhnya pulang. Tetapi Annora hanya berpindah tempat dan duduk di teras studio Radio Venus FM sembari menikmati suara hujan.

Lama-lama tubuh Annora menggigil di teras studio hingga petang datang. Ia tak ingin pulang. Mukanya membiru. Radio rusak di tasnya ia keluarkan perlahan. Lelehan air mata menggenang di pipinya. Sungguh, ia merindukan suara penyiar itu. Radio rusak itu didekapnya erat sampai matanya tertutup sangat rapat.
“Mbak, bangunlah,” seorang lelaki berwajah tampan dan bercahaya mencoba membangunkanya. “Mari, saya antar pulang.”

Annora akhirnya bangun dan merapikan diri. Ia pun bertanya perihal siapa sesungguhnya lelaki yang telah sudi berbaik hati. Setelah lelaki itu mengenalkan dirinya, Annora tak percaya bahwa dialah Dewa, penyiar bersuara emas yang selama ini dicarinya. Ia tidak menyangka bisa melihat wajah lelaki itu. Ini benar-benar kejaiban yang diturunkan Tuhan di tengah hujan.

“Benarkah kau penyiar bersuara emas itu?” tanyanya sekali lagi.

Lelaki itu mengangguk, membenarkan. Lelaki itu lantas menjulurkan tangan kanannya. Mereka lalu bercanda di tengah guyuran hujan.

Kepada lelaki itu, Annora menceritakan kehidupannya sehari-hari bersama neneknya. Sungguh, malam itu Annora tak merasakan keanehan dalam dirinya di bawah guyuran hujan petang itu. Setelah perbincangan usai, Annora baru menyadari bahwa bajunya tak basah dan matanya normal, bisa melihat. Sesaat, ia pun menoleh ke belakang dan tercengang melihat tubuhnya terkulai seraya mendekap radio rusak dan dikerumuni banyak orang.

Sejenak ia geragapan bangun dari mimpinya. Orang meninggal tak bisa hidup lagi, batinnya. Entahlah, ia lalu merasa sunyi sekali, sampai menusuk ulu hatinya.[]

Semarang, 2013

Saifu Ali

Saifu Ali

Saifu Ali, lahir 11 September di Bojonegoro, Jawa Timur. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Cerpennya tersebar di berbagai media lokal dan nasional. Juga termaktub dalam antologi: Botol-botol Berisi Senja (TBJT, 2015), Rung Buaya (Unsapress, 2015), dan Perempuan Lelaki (Oase Pustaka, 2015). Bisa disapa via blogsaifuali(dot)com.

_____________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi karya baik berupa puisi, cerpen, dan esai dapat dikirim langsung ke email: redaksi@nusantaranews.co atau selendang14@gmail.com.

Loading...

Terpopuler