Analisis Perbankan Indonesia Telaah Krisis 1997

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Krisis moneter yang terjadi pada tahun 1997 telah menimbulkan dampak sangat mendalam bagi sistem perekonomian dan perbankan nasional. Berdasarkan hal tersebut, maka telaahan fenomena krisis ekonomi nasional saat itu menurut Letnan Jenderal TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin adalah suatu analisis krisis perbankan yang dapat dirinci dalam beberapa hal.

Satu diantaranya adalah dalam konteks sistem moneter meliputi pertama, kenaikan nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar telah membuat catatan neraca secara nyata ikut naik.

Hal ini kata Sjafrie disebabkan karena sistem pencatatan neraca perbankan adalah dalam mata uang Rupiah sehingga catatan valuta asing pada Bank Devisa terapresiasi secara otomatis. Kenaikan ini tercatat baik di sisi kiri neraca (asset) maupun di sisi kanan neraca (liabilities).

Kedua, lanjut dia pada situasi krisis. Dimana posisi pinjaman bank kepada nasabah terutama Bank Devisa naik otomatis dan tidak bisa ditarik serta merta, sementara pada posisi sumber dananya, para nasabahnya menarik dana dan memindahkan ke bank asing, akibat krisis kepercayaan.

Ketiga, mengenai bank yang dirush oleh pemilik dana tidak mempunyai likuiditas cukup, karena dananya tertanam di nasabah peminjam.

Dan keempat, tegas Sjafrie akibatnya pemerintah memasok dana ke perbankan melalui program penjaminan nasabah. Dengan demikian catatan uang beredar di Bank Indonesia akibat pasokan, menjadi naik.

“Jadi naiknya jumlah uang beredar bukan disebabkan oleh suatu aktivitas ekonomi, melainkan karena fluktuasi nilai tukar,” tegas Sjafrie dalam bukunya berjudul Komitmen dan Perubahan Suatu Persepsi dab Perspektif.

Pewarta/Editor: Romandhon