Connect with us

Hankam

Analis Pertahanan Sambut Gembira Janji Pemerintah Naikkan Anggaran Alutsista Menjadi Rp 75 Triliun

Published

on

Audit Alutsista TNI. (Foto: Ilustrasi NusantaraNews)

Anggaran Alutsista. (Foto: Ilustrasi NusantaraNews)

NUSANTARANEWS.CO, Semarang – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto menyampaikan janji pemerintah untuk memperkuat sistem persenjataan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Salah satu caranya menambah anggaran alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang selama ini terbilang rendah.

Anggaran alutsista tahun 2015 ada Rp 40 triliun, tahun 2019 akan jadi Rp 75 triliun,” kata Wiranto saat konfrensi pers 4 Tahun Kerja Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla di Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta, Kamis (25/10/2018) lalu.

Baca juga: Analis Pertahanan Optimistis Menanti Alutsista Strategis TNI

Penambahan anggaran penguatan alutsista, kata Wiranto, sangat penting. Sebab, alutsista merupakan alat pertahanan kedaulatan negara dari serangan luar. Apalagi belakangan ini ancaman dari luar mulai terjadi. Selain menambah anggaran alutsista, pemerintah berencana menambah Pos Lintas Batas Negara (PLBN). Saat ini, tercatat baru ada 7 PLBN di sejumlah titik di Tanah Air.

Menanggapi hal itu, Analis Pertahanan dan Alutsista TNI menyebut kabar dari Menkopolhukam adalah kabar bagus yang membanggakan. Dari jumlah yang besar itu, kata Jagarin, sangat terbuka pembelian alutsista TNI dalam jumlah yang signifikan. “Dan sebagaimana prediksi kita akan ada kontrak pengadaan alutsista dalam skala besar,” katanya di Semarang baru-baru ini.

Baca juga: Keniscayaan Penguatan Alutsista TNI AL

“Kita patut mensyukuri, karena perkuatan alutsista militer kita sejatinya bukan beban negara tetapi investasi untuk tujuan jangka panjang sejalan dengan perjalanan eksitensi bangsa ini. Program Minimum Essential Force (MEF) yang sudah berjalan selama 9 tahun akan semakin memperlihatkan kuantitas dan kualitas persenjataan TNI. Meski harus diakui masih jauh dari kriteria ideal,” jelasnya.

Jagarin memprediksi jenis alutsista yang akan dibeli Indonesia tahun depan, antara lain 2 Kapal perang jenis Destroyer Iver Class, 2 Kapal perang pengadaan lanjutan Martadinata Class, 3 Kapal cepat rudal, 2 Kapal penyapu ranjau, 2 Kapal selam pengadaan lanjutan Nagapasa Class, 5 Pesawat angkut berat Hercules tipe J, 8 Helikopter angkut serba guna Chinook, 8 Helikopter serang Apache batch 2, 16 jet tempur F16 Viper, 60 Tank Amfibi untuk Marinir, 60 Panser amfibi untuk Marinir, 60 Tank Harimau untuk TNI AD, 5 battery peluru kendali Nassam, 16 UAV, dan 5 Radar Master T.

Baca juga: Modernisasi Alutsista TNI AD: Pandur II 6×6 Positif Diakuisisi

Sementara dalam waktu dekat ini, lanjut Jagarin, akan ada peluncuran kapal selam baru KRI 405 Alugoro bersama 1 kapal perang jenis LPD KRI Semarang 504 di Surabaya. Kapal perang lainnya yang akan diselesaikan tahun ini adalah 2 kapal jenis LST Bintuni Class, 1 kapal tanker Tarakan Class, 2 Kapal cepat rudal dan 3 Kapal patroli cepat.

“Kita juga sedang menantikan kedatangan alutsista jenis peluru kendali jarak sedang Nassam, kedatangan lanjutan rudal Starstreak, Radar master T dan MLRS Astross. Sementara 11 jet tempur Sukhoi SU35 yang sudah ditandatangani kontraknya akan mulai berdatangan akhir tahun depan lengkap dengan persenjataannya,” katanya.

Baca juga: Pengamat Ungkap Paradoks Poros Maritim Tapi Anggaran Pertahanan Kecil

Jagarin menambahkan, program pengadaan Tank harimau produksi bersama Pindad dan Turki sedang mempersiapkan produksi massal akhir tahun ini. TNI AD untuk tahap I memesan 54 unit sementara kebutuhan yang diperlukan matra darat ini ada di kisaran 400 unit. Paskhas TNI AU juga sudah mulai menerima puluhan Ranpur Turangga dari industri pertahanan swasta nasional.

“Dengan begitu semakin cerah dan benderang perjalanan perkuatan alutsista militer kita. Dan program ini akan berlanjut terus sampai tahun 2024 sebagaimana harapan target MEF TNI bisa tercapai. Setelah itu tentu akan bergerak pada kebutuhan menuju kriteria ideal. Semoga,” harap Jagarin.

Pewarta: Roby Nirarta
Editor: M. Yahya Suprabana

Advertisement

Terpopuler