Connect with us

Hankam

Analis Pertahanan: Militer Indonesia Sudah Biasa Belanja Alutsista

Published

on

KRI I Gusti Ngurah Rai 332 dan KRI Re Martadinata 331. (FOTO: lancer cell)

KRI I Gusti Ngurah Rai 332 dan KRI Re Martadinata 331. (FOTO: lancer cell)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Analis Pertahanan dan Alutsista TNI Jagarin Pane mencatat bahwa perjalanan menumbuhkan kekuatan alutsista militer Indonesia sudah berlangsung sembilan tahun sejak program MEF (Minimum Essential Force) diterbitkan tahun 2010. Dengan sebuah peta jalan besar untuk mampu menumbuhkembangkan koleksi alutsista berteknologi terkini. Perjalanan sepanjang waktu itu sudah memberikan nilai tambah yang luar biasa bagi institusi militer negeri pejuang.

Kamis (28/6/2018) lalu, kata Jagarin, sebuah kapal perang baru jenis LST (Landing Ship Tank) diluncurkan di Lampung dari sebuah galangan kapal swasta nasional yang berprestasi. Galangan kapal itu saat ini sedang membangun 4 kapal perang LST untuk TNI AL setelah sebelumnya sukses membangun KRI Teluk Bintuni 520 yang selanjutnya menjadi nama kelas LST ini, Bintuni Class.

Baca Juga:

Selain itu, kata dia, PT PAL Surabaya saat ini membangun 1 kapal perang jenis LPD (Landing Platform Dock), 1 kapal selam Nagapasa Class dan 3 Kapal Cepat Rudal. Galangan kapal swasta nasional lainnya juga ikut bersuka cita karena kecipratan proyek membangun belasan Kapal Patroli Cepat (KPC), Kapal logistik BCM TNI AL, kapal-kapal Bakamla dan KKP. Artinya semua galangan kapal nasional di negeri ini sedang bergembira ria mendapatkan rezeki besar dari program MEF TNI.

“Tentara langit kita juga sudah memesan 11 jet tempur Sukhoi SU35 dan diprediksi akan menambah minimal 5 unit lagi. Disamping itu Kemhan juga sedang memproses pengadaan 5 pesawat Hercules seri J dari AS, sedang mempersiapkan tambahan 3 skadron tempur dengan calon terkuat F16 Viper, tambahan helikopter Apache, kemudian menambah sedikitnya 5 radar militer, menambah perolehan Oerlikon Skyshiled dan peluru kendali anti serangan udara jarak sedang Nasams,” tutur Jagarin dalam catatan analisisnya, seperti dikutip nusantaranews.co, Sabtu (14/7/2018).

Jagarin menjelaskan, jet tempur Golden Eagle yang jumlahnya 15 biji juga diperkuat dengan infrastruktur radar Elbit, menambah jet latih Grob dan KT1 Wong Bee. Pesanan Helikopter Caracal, pesawat CN295 terus dilakukan. PT DI sebagai pintu gerbang penyaluran produksi kerjasama sedang menyelesaikan berbagai order pekerjaan seperti 11 Helikopter anti kapal selam Panther untuk TNI AL.

PT Pindad, kata dia, juga sedang bersinar terang dengan berbagai pesanan TNI AD. Produksi panser Anoa terus berjalan, proyek tank medium Kaplan produksi bersama dengan Turki, rantis Komodo, panser Badak, ranpur Sanca. Semua industri pertahanan strategis sedang sibuk dengan berbagai aktivitas bisnis alutsista untuk militer kita.

“Jadi sudah terbiasalah kalau kita membaca berita atau mendengar kabar berlanja alutsista tentara yang terus menerus. Padahal ini baru ingin memenuhi kebutuhan minimal alutsista TNI, belum sampai pada kebutuhan memadai apalagi ideal. Program MEF dirancang menjadi 3 jilid. Jilid I sudah khatam, sekarang kita di jilid II dan terakhir MEF jilid III tahun 2020-2024. Akan banyak pesanan baru skala besar untuk berbagai jenis alutsista mulai akhir tahun ini dan MEF jilid III nanti,” jelas Jagarin.

Menurut Jagarin, perolehan alutsista sepanjang sembilan tahun ini sangat luar biasa. “Dan kita patut bersyukur karena pengambil keputusan di republik ini tidak terlambat memperkuat militernya apalagi ketika dihadapkan dengan kondisi kawasan terkini yang dinamis dan hangat. Laut Cina Selatan adalah hotspot yang paling tinggi tensinya dan akan menjadi kawasan yang penuh dengan provokasi dan saling gertak utamanya antara Cina dan AS,” ujarnya.

Jagarin menambahkan, terkait dengan manajemen belanja alutsista, catatan kita adalah kemasan manajemen Kemhan harus terus menerus dikawal, dikritisi dan dievaluasi. Kasus Helikopter Agusta Westland AW101 dan yang terakhir soal satelit militer yang menjadi rumor internasional karena Kemhan gagal bayar diharapkan bisa menjadi wahana instrospeksi. Kinerja Kemhan sebagai pemegang anggaran terbesar dan manajemen pengadaan alutsista adalah ujian sesungguhnya.

Manajemen Kemhan diharapkan mampu menyuarakan aktualisasi perkembangan kinerja dan tantangannya. Jangan sampai sebuah bottle neck proyek lalu menjadi sorotan media yang menunjukkan belum terkoordinasinya paket-paket decision strategis dan taktis. Selama 4 tahun ini kita melihat suasana itu dalam mekanisme bermanajemen. Anggaran yang dikucurkan pemerintah adalah yang terbesar, maka penggunaannya juga diharapkan terukur dan terstruktur.

“Kita mengapresiasi perkuatan militer negeri ini. Apalagi jika dihadapkan pada konflik kawasan yang mudah panas. Semua negara di kawasan ini sedang membangun kekuatan militernya secara sistematis. Kita lihat Vietnam, Filipina, Singapura, Thailand, Australia, Jepang serius banget mengembangkuatkan militernya. Cina apalagi, benar-benar tak terbendung dengan libido membangun kekuatan militer ofensif secara besar-besaran,” kata Jagarin.

Maka, lanjutnya, berita belanja alutsista yang sudah menjadi berita biasa itu dan dikonsumsi masyarakat luas, tidak enak jua diperdengarkan lagu sumbangnya manakala ada proyek yang sumbang prosesnya. Misalnya pesanan 2 kapal perang jenis LST di Koja Bahari yang mestinya sudah diluncurkan paralel bersama KRI Teluk Bintuni beberapa tahun lalu sampai saat ini belum selesai jua.

Kendati demikian, kata dia, perjalanan program MEF ini masih panjang. Dan sepanjang waktu itu kita akan mendapatkan berita-berita yang membanggakan dan membungakan hati untuk perkuatan militer kita. Kedatangan berbagai jenis alutsista dan kembali memesan berbagai jenis alutsista adalah konsumsi berita yang sudah biasa.

“Nah sepanjang waktu itu pula bisa minimalisir berita-berita sumbang. Tentu dengan model komunikasi dan gaya kepemimpinan yang lincah, cerdas, jelas, terukur dan terstruktur. Public Relation adalah pintu komunikasinya. Semua rumor dan sentimen negatif bisa diluruskan sehingga tidak menimbulkan opini yang keliru. Semoga ya karena bahagia itu sederhana,” kata Jagarin dalam catatannya yang ditulis di Yogyakarta, 29 Juni 2018 lalu.

Pewarta: M. Yahya Suprabana
Editor: Achmad S.

Komentar

Advertisement

Terpopuler