Connect with us

Budaya / Seni

Ampunan di Atas Cakrawala – Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim

Published

on

H.Amang Rahman Jubair, "Salamun Qoula Min Robbi Rokhim", 1984/Koleksi Lukisan: anakwayan9.blogspot.co.id

H.Amang Rahman Jubair, “Salamun Qoula Min Robbi Rokhim”, 1984/Koleksi Lukisan: anakwayan9.blogspot.co.id

Di Atas Cakrawala

Tuhan
yang telah menciptakan langit dan bumi
yang memutar rotasi bola bumi menjadi siang dan malam
yang mencurahkan air langit dari angkasa
yang menjadikan tanah gersang merekah hidup subur
serta menghidupkan beragam aneka fauna
yang bersel satu, dua dan tiga
yang merayap berjalan di atas kaki

Tuhan,
Yang menghembuskan perkisaran angin dan mega, di atas cakrawala luas dunia
Tuhan,
Yang menjadi raja dari segala keadaan awal dan akhir
Tuhan,
“Aku tertunduk sujud pada-Mu.”
karena aku yakin pada Nakhul-yaakin dan Ainul-yaakin
karena aku bukan Bersaksi Tiada Tuhan selain Allah
dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah
di bawah ayoman tangkuban perahumu
berdiri tegak perkasa bunga-bunga di tengah kota
sarang geledak di candra muka api Illahi
sejak kubaca mantra tiga puluh lima tahun yang lalu
pada kebisuan tembok dinding penjara kemiskinan
yang terletak pada surat Al-Baqarah
berayatkan seratus enam puluh empat
yang berisikan makna “Lembu Banteng Ketaton.”
yang membikin jiwaku meraba-raba
menjadikan aku seorang Mu’min pada dua kalimat
menjadikan aku seorang Muslim yang berhadapan dengannya setiap saat
yang merelakan diri untuk bersembah
untuk mencari keridloan Allah semata
pada detik kesyahduan di antara seribu satu malam
bagai malam “Lailatul-Qadar”
dari seribu bulan sebelum duapuluh tujuh tahun
dari anggota tubuhku yang kecil
dalam hatiku
memancarkan sinar ketauhidan
yang telah menerangi dari segala cahaya pijar
yang telah menembus tembok celah-celah dinding terali besi
bagai kekuatan yang maha dahsyat memantul
mengabarkan gejolak setiap atom dalam jiwaku
meraba-raba dalam kebutaanku
karena kini aku melihat Dia
yang tiada duanya
yang tiada berganda
yang tiada beranak dan tak beranakkan
yang tiada beribu-bapak
yang tiada bersekutu
yang cuma  satu
tidak bersifat dua puluh
tidak terbatas dan terhingga
Dia Esa yang tanpa awal dan akhir
Maha tunggal, maha mengetahui dari segalanya

Baca Juga:  Ketika Kopi Menyejarah

Allahu-Akbar – yang maha besar, maha suci, dan berada di mana-mana
sesatlah baginya yang menyekutukan Dia
berdosalah baginya yang memusyrikkan Dia
laknatlah baginya yang tidak mempercayainya Dia
celakalah baginya yang menyebalkan Dia

aku memanjatkan doa pada-Nya
bagai merangkai bunga buat kekasih
di tengah keagungan matahari kebenaran
telah memberantas ilmu sirik yang selalu meminta-minta pada benda mati
pada pekuburan “kramat”
pada kebisuan memberhala manusia
pada benda tengkorak hidup manusia
mintalah pada-Nya di atas kakimu sendiri
pada pekuburan sang wali Sunan Kalijaga
pada pekuburan sang Mujahid yang berontak bangkit dari liang lahat

berbahagialah aku menjadi tembusannya
yang tidak sudi aku menyembah padanya
aku hanya sekadar mengasungkan namanya
yang telah menambatkan azimat
pada dada manusia dari sembilan puluh sampai seratus tigapuluh lima juta ummat
yang memancangkan bendera Tuhan
di atas tiang Negara berpancasila

tidak ada yang kubangga meskipun keturunan Sunan Kalijaga
karena aku anak dari Adam dan Hawa
laksana Fatimah putrid seorang Rasul Muhammad bin Abdullah
yang diterima Allah karena amal perjuangannya
yang tidak lepas dari perhitungan di hari kala
yang menambatkan dada seorang penggembala
bintang kehormatan seorang doktor honoris causa

2016

A  M  P  U  N  A  N

Di pelataran agung-Mu nan lapang
kawanan burung merpati
sesekali sempat memunguti
butir-butir bebijian
yang kau taburkan

Lalu terbang lagi
menggores-gores biru langit
melukis puji-puji
nan hening

Di pelataran agung-Mu nan lapang
aku setitik noda
setelah burung merpati
menempel pada pekat gumpalan
yang menyeret warna
bias kelabu
berputaran
mengabur melaju

Luruh dalam gemuruh
Talbiah
Takbir dan
Tahmid

Dikejar dosa-dosa
dalam kerumunan dosa
Ada sebaris doa
setiap kuucapkan
lepas
terhanyut airmata
tersangkut di kiswah
nan buram

Baca Juga:  Gerhana Bulan di Langit Borobudur

Di pelataran agung-Mu nan lapang
aku titik-titik tahi merpati
mengempal dalam titik noda
berputaran
mengabur melaju

Luruh dalam gemuruh
Talbiah
Takbir dan
Tahmid

Mengejar ampunan
dalam lautan ampunan
terpelanting
dalam
Khauf dan rajaa

2016

Simak: Lautan Cinta, Telagaku Menimbun Darah Amis

Restoe Prawironegoro Ibrahim, lahir di Surabaya. Karya-karya sastranya sudah banyak menghiasi di beberapa media massa, yaitu cerpen, sajak, essai. Dan pernah jadi wartawan hiburan. Hobbi menulisnya sejak tahun 1984 sampai sekarang ini. Mukim di Jakarta.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resinsi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: redaksi@nusantaranews.co atau selendang14@gmail.com.

Loading...

Terpopuler