Berita UtamaMancanegaraTerbaru

Amerika Sibuk Mengejar Ketertinggalannya Dalam Pengoperasian Rudal Jelajah Hipersonik

Amerika sibuk mengejar ketertinggalannya dalam pengoperasian rudal jelajah hipersonik.
Amerika sibuk mengejar ketertinggalannya dalam pengoperasian rudal jelajah hipersonik/Foto: Airforce Technology

NUSANTARANEWS.CO, Pentagon – Amerika sibuk mengejar ketertinggalannya dalam pengoperasian rudal jelajah hipersonik. Amerika Serikat (AS) terus mengejar ketertinggalannya dalam pengoperasian rudal jelajah hipersonik sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rusia dan Cina. Hal tersebut terlihat dari rilis Jenderal Heath Collins, Pejabat Eksekutif Program Angkatan Udara untuk Senjata, yang mengatakan bahwa booster test flight (BTF) dari Lockheed Martin ARRW akan dilakukan dalam 30 hari ke depan.

Pentagon menjanjikan bahwa rudal hipersonik ARRW buatan Lockheed, Raytheon, dan Badan Proyek Penelitian Lanjutan Pertahanan (DARPA) tersebut akan segera melakukan penerbangan perdana.

Angkatan Udara AS akan menembakkan Senjata Respon Cepat atau Air-launched Rapid Response Weapon (ARRW) AGM-183A yang digadang-gadang akan meningkatkan kemampuan serangan hipersonik AS sekaligus memberikan respons cepat menyerang target bernilai tinggi.

Dikatakan juga bahwa pengujian akan dilakukan di California’s Naval Air Station Point Mugu, lokasi fasilitas pengembangan dan pengujian rudal utama AS.

Baca Juga:  Isi Kursi Semua Dapil di Pemilu 2024, PAN Jawa Timur Buka Lowongan Caleg Warga NU Dan Muhammadiyah

Ketika AS sibuk berjuang untuk menghadirkan rudal hipersonik pertamanya, Rusia dilaporkan sedang bersiap untuk menguji senjata hipersonik berikutnya, sedangkan Cina sudah menempatkan rudal-rudal hipersoniknya.

Rudal AGM-183A sedang dikembangkan di bawah program ARRW, yang merupakan proyek pembuatan prototipe cepat dari Elemen Program Prototipe Hipersonik Angkatan Udara AS.

Lockheed Martin mendapat kontrak senilai lebih dari US$ 480 juta untuk merancang ARRW, prototipe senjata hipersonik kedua, setelah Senjata Serangan Konvensional Hipersonik (HCSW), pada Agustus 2018. HCSW kemudian dibatalkan karena kendala anggaran pada Februari 2020.

USAF kemudian melakukan uji terbang captive-carry pertama rudal ARRW pada Juni 2019, sedangkan uji terbang kedua rudal selesai pada Agustus 2020 dengan menggunakan pesawat pembom B-52 Stratofortress yang membawa rudal untuk pengujian dari Pangkalan Angkatan Udara Edwards di California.

Untuk pengembangan lebih lanjut, Lockheed Martin menerima modifikasi kontrak senilai US$ 988,8 juta untuk tinjauan desain kritis ARRW, pengujian dan dukungan kesiapan produksi, pada Desember 2019. Pekerjaan tersebut diharapkan akan selesai pada Desember 2022.

Baca Juga:  TNI Gelar Deteksi Dini dan Vaksinasi 185 Ekor Sapi di Desa Tusan

Angkatan Udara AS meminta US$ 382 juta untuk pendanaan pengembangan program ARRW pada tahun fiskal 2021 dan akan membutuhkan tambahan sebesar US$ 581 juta untuk pengembangan setelah tahun 2022. Sebanyak 33 rudal ARRW akan dikembangkan di bawah program tersebut.

Rudal AGM-183A ARRW sedang dikembangkan sebagai sistem senjata berukuran kecil yang diluncurkan dari udara dengan kecepatan hingga Mach 20 dan jangkauan sekitar 925 kilometer. Rudal tersebut akan dibawa di bawah sayap pesawat pembom B-52H.

Teknologi boost-glide (TBG) taktis Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) sedang digunakan di bawah program ARRW untuk pengembangan komponen berkecepatan tinggi rudal. TBG adalah program bersama antara DARPA dan Angkatan Udara AS. Sistem demonstrasi TBG akan diintegrasikan ke dalam payload ARRW.

Dua teknologi penting sedang dievaluasi untuk meningkatkan bahan rudal, yang akan memungkinkannya menahan suhu ekstrim dengan kecepatan hipersonik.

AGM-183A ARRW menggunakan sistem boost-glide hipersonik di mana roket mendorong muatannya ke kecepatan tinggi. Muatan tersebut kemudian dipisahkan dari roket sebelum terbang sebagai glider yang tidak bertenaga menuju target.

Baca Juga:  Kebijakan Pemerintah Bermasalah, Aliansi Mahasiswa di Jawa Timur Gelar Aksi

Aeroshell rudal dijatuhkan dari ketinggian dan hulu ledak peluncur hipersonik dilepas untuk meluncur dan bermanuver ke target dengan kecepatan hipersonik yang akan menciptakan dampak ledakan yang dahsyat. (Agus Setiawan)

Ikuti berita terkini dari Nusantaranews di Google News, klik di sini.

Related Posts

1 of 3.050