Connect with us

Mancanegara

Amerika Provokasi Cina di Laut Cina Selatan

Published

on

Ilustrasi Pulau Buatan Cina/REUTERS/ U.S. Navy/Handout

Ilustrasi Pulau Buatan Cina/REUTERS/ U.S. Navy/Handout

NUSANTARANEWS.COTensi di kawasan Asia Pasifik, khususnya di kawasan Laut Cina Selatan (LCS) kembali meningkat dengan cepat terutama terkait dengan beberapa perselisihan klaim teritorial. Peselisihan teritorial tersebut melibatkan Cina, Jepang, Vietnam, Filipina, Malaysia, Brunei dan Taiwan. Kawasan itu menjadi rebutan banyak negara karena memiliki cadangan sumber energi dan merupakan jalur utama lalu lintas perdagangan dunia.

Oleh karena itu, tidak mengherankan bila sampai hari ini, Cina tetap mengklaim kepulauan Spratly sebagai wilayahnya, dan menolak dengan tegas keputusan “Tetap” Pengadilan Arbitrasi Internasional yang berbasis di Hague – yang memutuskan bahwa Cina tidak memiliki hak klaim teritorial di LCS.

Seperti diketahui proses arbitrase diprakarsai oleh Filipina pada Januari 2013, namun pihak Beijing menolak dengan tegas keputusan Arbitrase tersebut. Pada gilirannya AS yang tidak terlibat sengketa akhirnya turut menentang klaim Cina atas LCS tersebut. Bahkan menegaskan bahwa kawasan maritim itu harus menjadi ruang netral internasional yang dijamin kebebasannya. Dan menindak lanjuti misi-misi sebelumnya, kapal perusak USS John S. McCain kembali melakukan misi navigasi di sekitar pulau buatan Cina di LCS pada hari kamis kemarin. Misi ini adalah kali ketiga kapal perang AS hadir di LCS.

Sehubungan dengan itu, pemerintah Cina telah berulang kali menyuarakan protesnya terhadap tindakan AS di wilayah itu, yang dianggap sebagai pelanggaran kedaulatan. Sebelumnya pada bulan Mei, USS Dewey berlayar di Mischief Reef dengan misi serupa. Lalu pada bulan Juli, USS Stethem juga melintasi gugusan pulau Paracel di LCS yang diklaim oleh Beijing sebagai Kepulauan Xisha. Cina menganggap tindakan AS itu sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional, dan juga sebagai aksi provokasi politik dan militer yang serius.

Baca Juga:  Suriah Menentang Keras Agresi Militer AS-Turki di Suriah Utara

Operasi navigasi kapal perusak rudal USS John S. McCain yang hanya berjarak enam mil dari pulau buatan Cina di kepulauan Spratly di LCS sejak kemarin telah mengundang reaksi keras dari Beijing yang menyatakan bahwa tindakan provokasi AS akan mendorong militer Cina untuk lebih meningkatkan kemampuan pertahanan guna menjaga kedaulatan dan keamanannya. Kementerian Pertahanan China, seperti dilansir oleh sputnik, mendesak Amerika untuk segera menghentikan provokasi dengan dalih apapun.

“Pada saat ini, hubungan antara angkatan bersenjata China dan Amerika Serikat menunjukkan perkembangan yang stabil. Namun, tindakan provokatif Amerika Serikat tersebut secara signifikan menghambat kepercayaan strategis bilateral, dan juga menciptakan kesulitan dan hambatan untuk meningkatkan hubungan antara angkatan bersenjata dua negara, “bunyi pernyataan itu.

Menurut seorang pejabat Angkatan Laut AS kepada Fox News yang dilansir Jumat (11/8/), telah mengkonfirmasi operasi kapal perusak tersebut. Operasi navigasi dilakukan dengan dukungan pesawat pengintai Angkatan Laut AS P-8, namun pesawat itu tetap berada di luar wilayah udara yang diklaim Beijing. (Banyu)

Loading...

Terpopuler