Connect with us

Hankam

Ambisi Cina Perluas LCS, Analis Pertahanan: Natuna Menjawab Tantangan Atas, Kiri dan Kanan

Published

on

Pertahanan Indonesia di Natuna atas ambisi Cina melebarkan wiilayah teritori Laut Cina Selatan. (FOTO ILUSTRASI: NUSANTARANEWS.CO)

Pertahanan Indonesia di Natuna atas ambisi Cina melebarkan wiilayah teritori Laut Cina Selatan. (FOTO ILUSTRASI: NUSANTARANEWS.CO)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Analis Pertahanan dan Alutsista TNI, Jagarin Pane menegaskan bahwa, perairan Laut Cina Selatan (LCS) merupakan salah satu kawasan teritori yang ia sebut deman terus-menerus. Hal itu disebabkan oleh ambisi teritori Cina yang yang haus sumber daya alam tak terbarukan. Dan LCS yang kaya akan “nutrisi” disebut menjadi target untuk menghidupi masa depan milyaran warganya.

Di sisi yang lain, lanjut Jagarin, Kepulauan Natuna di hadapan klaim Cina terhadap pulau-pulau atol dan perairan LCS. Cina membangun pangkalan militer besar dan menantang siapa saja yang coba-coba memasuki perairan LCS tanpa izin. “Nah Cuma AS yang bisa mengimbangi si Naga yang sedang menggeliat,” kata Jagarin, dilansir dari laman pribadinya, Jumat (28/12/2018).

Baca Juga:

“Namanya saja Naga yang menggeliat, bisa saja lalu ekornya atau semburan apinya masuk ke wilayah Natuna dan bilang: Ini punya owe juga, haiyya. Maka kita pun bersiap menghadapi kondisi terburuk itu dengan membangun pangkalan militer terintegrasi segala matra. Dan infrastruktur pangkalan di Natuna baru saja diresmikan penggunaannya oleh Panglima TNI,” sambung Jagarin.

Menurut dia, Natuna sebagai teritori paling beresiko dan berada di garis depan teritori disiapkan untuk mampu bertahan dari serangan negara manapun yang coba mengusik. Maka disana ada pangkalan AU, pangkalan AL termasuk pangkalan kapal selam. Ada berbagai jenis kesatuan tempur seperti Raider TNI AD, Paskhas TNI AU dan Marinir TNI AL.

Baca Juga:  Warga Terima 400 Bibit Kelapa Genjah Entok
Loading...

“Berbagai alutsista juga disiapkan termasuk satuan radar berlapis mulai dari Vera NG, Master T dan Weibel,” kata Jagarin.

Ia mengungkapkan, dua elemen alutsista strategis yaitu KRI dan jet tempur hadir setiap saat selama 24 jam dan sepanjang tahun, bergiliran dan estafet. “Namanya juga pangkalan pasti harus ada isinya dong. TNI AD menempatkan satuan artileri medan, kavaleri dan infanteri akan berkolaborasi dan berintegrasi dengan matra lain dalam sebuah skema network centric warfare,” katanya.

“Selain Natuna kita juga menyiapkan pangkalan-pangkalan militer di NTT dan Papua. Di NTT disiapkan pembangunan batalyon armed dan kavaleri. Pangkalan TNI AL di Kupang ditempatkan beberapa KRI dan di El Tari disiapkan 1 flight jet tempur. Sementara di Sorong akan menjadi pangkalan induk Armada Tiga TNI AL, di Biak akan ada 1 skadron jet tempur dan 1 skadron pesawat angkut sedang. Di Jayapura disiapkan 1 skadron helikopter dan Timika ditempatkan 1 skadron pesawat intai tanpa awak (UAV),” imbuhnya.

Namun, kata Jagarin, yang menarik adalah pangkalan militer strategis Natuna. Meski disiapkan untuk menghadapi ancaman lidah Naga yang suka sembur sana sembur sini, juga memberikan manfaat ganda karena berada di titik strategis yang memisahkan Malaysia Semenanjung dan Malaysia Borneo. Juga dekat dengan Singapura.

Pangkalan militer Natuna, sambungnya, jelas memberikan dampak perhitungan strategi militer untuk Malaysia. Karena secara militer, Natuna bersama kekuatan Armada Satu TNI AL dan 3 skadron jet tempur TNI AU dianggap bisa menjadi penghadang atau mampu melakukan blokade militer untuk aliran kapal perang dan jet tempur Malaysia yang akan ke Malaysia Borneo atau sebaliknya.

Jadi, masih kata Jagarin, manfaat ganda dari adanya pangkalan militer segala matra di Natuna tentu memberikan kebanggaan tersendiri. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. “Pemikir strategis pertahanan kita ketika merencanakan pangkalan militer itu tentu tidak lepas dari “bau-bau” klaim teritori Ambalat oleh Malaysia. Maka kehadiran pangkalan Natuna memberikan efek gentar bagi Malaysia. Mau coba-coba klaim lagi sudah ada Natuna di depan hidung,” jelasnya.

Baca Juga:  Komjen M. Iriawan Menjadi Pj Gubernur Jawa Barat

Maka, kata Jagarin lagi, pekerjaan selanjutnya adalah memberikan isian menu paket lengkap untuk mencukupi kebutuhan gizi alutsista di Natuna dengan gelar permanen alutsista strategis. Termasuk kesiapan pangkalan militer pendukung utama di Batam, Tanjung Pinang, Pekanbaru dan Pontianak. Natuna tidak sendirian, dia di-back up penuh oleh pangkalan militer di dekatnya.

“Kita meyakini dalam beberapa bulan mendatang akan ada kontrak pengadaan alutsista skala besar seperti pengadaan lanjutan 3 kapal selam, 2 kapal perang destroyer, 2 fregat, 1 skadron jet tempur, UAV, Helikopter dan lain lain. Perkuatan militer kita akan terus berlanjut untuk memastikan seluruh teritori negeri ini terlindungi, terawasi dan berwibawa,” kata Jagarin.

“Natuna sudah menunjukkan kewibawaannya, bahwa kita tidak main-main soal kewibawaan teritori, kita mampu membangun kekuatan militer kita, kita juga mampu membangun industri pertahanan strategis kita baik yang dimiliki BUMN maupun swasta. Inilah salah satu kebanggaan kita memperkuat militer, industri pertahanannya pun ikut berkibar mekar,” tandasnya. (rb/mys/nn)

Editor: Achmad S.

Loading...

Terpopuler