Connect with us

Budaya / Seni

Amak – Kisah Nanda Dyani Amilla

Published

on

Nindityo Adipurnomo | 2013 | MA ZU's Fashion 1 | Gouache on paper | Taman Budaya Yogya Exhibition| http://koreamosaic.net
Nindityo Adipurnomo | 2013 | MA ZU's Fashion 1 | Gouache on paper | Taman Budaya Yogya Exhibition| http://koreamosaic.net

NUSANTARANEWS.CO – Amak, begitu aku memanggilnya. Perempuan hebat yang dari rahimnya-lah aku ada. Perempuan tua berusia 65 tahun yang tak pernah menunjukkan rasa sakitnya, meskipun aku tahu ia sudah terlalu sering merasakan sakit di bagian kaki. Hari ini aku pulang, setelah satu tahun aku merantau ke Jakarta. Amak tak pernah alpa menanyakan kesehatanku. Hampir setiap hari perempuan tua itu mengirimiku pesan singkat. Tentu saja bukan Amak yang mengetiknya, tapi Kinta, anak Tek Minah, tetangga kami.

Amak tinggal seorang diri di rumah gadang peninggalan ayah. Kakak tertuaku tinggal di Semarang, bersama istri dan dua anak laki-lakinya. Jarang sekali pulang untuk menengok Amak. Meski seringkali Amak menyuruhnya datang untuk sekadar mencicipi kolak yang dicampur lemang, makanan kesukaan kakak tertuaku. Tapi kesibukan membuat dia tak mampu memenuhi keinginan Amak.

“Pulanglah, Nak. Sabontar sajo. Amak rindu.” Begitu kata Amak dua tahun silam, saat aku belum berangkat menuju Jakarta, meninggalkan Amak sendiri. Entah apa yang dikatakan kakak tertuaku di seberang telepon, yang jelas aku bisa melihat wajah Amak muram. Mungkin kakak tertuaku itu menolak permintaan Amak dengan seribu alasan. Lain lagi dengan kakak keduaku. Sekarang dia tinggal di Palembang, ikut suaminya. Hal yang sama pun diutarakan Amak padanya, pulang. Amak merindukan kami, katanya. Tapi, jawaban yang sama pun diterima telinga Amak. Kakak keduaku, tidak bisa pulang karena suaminya melarang.

Aku sendiri, saat kakak perempuanku itu menjadi nak daro—pengantin perempuan—saat ia menikah, sudah tidak menyukai calon marapulai—pengantin laki-laki—itu. Bagaimana bisa aku menyukainya, jika menghormati Amak saja dia tak bisa. “Amak suruh pindah saja ke kamar Inun, biar malam ini Ibu dan adik perempuanku menempati kamar Amak.” Begitu ucap lelaki yang telah menjadi  iparku. Aku mendengar percakapan kakak perempuanku dengan suaminya di beranda rumah, saat pesta pernikahan sudah usai.

Baca Juga:  Perempuan dan Beringin

Rasanya, aku tidak habis pikir. Bagaimana mungkin iparku itu mengusir Amak dari kamarnya sendiri demi kenyamanan tidur Ibu dan adik perempuannya. Ini rumah Amak, harusnya Amak lebih pantas mengatur, bukan diatur. Tapi lagi-lagi, Amak mengalah. Malam itu, Amak tidur di kamarku. Memeluk tubuhku dan menyisir rambutku dengan jemarinya. Amak berpesan, semoga kelak aku tidak salah memilih laki-laki. Pesan Amak kuterjemahkan sebagai sebuah doa. Aku yakin, Amak berpengharapan ia bisa mendapatkan menantu yang baik satu kali lagi.

Hari ini aku pulang dan Amak sangat bahagia. Aku pun begitu. Rasa bahagiaku tidak terkira saat aku dipeluk Amak. Hangat tubuhnya masih terasa seperti dulu ia memelukku. Aku menghapus airmata Amak yang tiba-tiba saja membanjiri pipinya. Amak bilang dia sangat bahagia melihat aku pulang. Amak tidak tahu, bahwa aku lebih bahagia karena bisa kembali melihat wajah cantik Amak.

Dua minggu aku di rumah dan Amak sangat melayaniku. Amak membuat kolak, lemang, jagung bakar, gulai ikan, dan bermacam-macam makanan enak saat aku ada di rumah. Dua minggu itu pula, aku memanjakan Amak dengan menyiapkan telingaku untuk mendengarkan ceritanya. Tentang kesepiannya ketika kami semua pergi merantau, tentang kesehariannya yang hanya ditemani Kinta, dan tentang mimpi Amak belakangan ini yang selalu dipenuhi ayah.

Amak sekarang sudah tua. Aku bisa merasakan keriput tangan Amak karena kelelahan mengurus rumah. Aku sendiri tidak bisa berbuat apa-apa karena kontrak pekerjaanku di Jakarta. Malam itu, Amak menanyakan sesuatu yang aku sendiri enggan menjawabnya. “Ado laki-laki yang dekat denganmu, Nak?” tanya Amak sambil menyisir rambutku dengan tangannya. Aku tidur dipangkuan Amak, di bangku panjang teras rumah. Usiaku 25 tahun, dan Amak masih suka memperlakukanku seperti anak kecil. Dan aku memang masih suka dibelai rambutnya oleh Amak.

Ingin aku menjawab, “Ado, Mak.” Tapi rasa-rasanya aku tak sanggup mengatakannya. Karena itu berarti Amak akan kehilangan waktuku untuk kembali ke rumah gadang ini. Aku anak perempuan yang memang sudah sepatutnya ikut suami, ikut semua apa yang dikatakan suami. Seperti yang terjadi pada kakak perempuanku. Aku tahu, jawabanku bisa saja membuat dua kemungkinan. Amak bahagia mendengarnya, atau Amak akan sedih menerima kenyataan bahwa anak gadis bungsunya akan meninggalkannya untuk waktu yang lama setelah menikah.

Baca Juga:  Mencintai Bunga-Bunga

Tanyolah, kapan keluarga kito akan maresek ke rumahnyo. Biar Amak siapkan manapiak bandua-nyo,” Amak tersenyum melihat wajahku dipangkuannya. Tak perlu repot-repotlah, Mak, aku lebih suka saat ini menemani Amak daripada harus memikirkan pernikahan, batinku. Lagipula, Amak tidak tahu bagaimana porak-porandanya hatiku setelah tahu kekasihku mengkhianati beberapa waktu lalu. Sulit bagiku untuk kembali mempercayainya. “Amak tak sabar ingin melihat gadis bungsu Amak jadi nak daro. Pakai suntiang gadang, pasti rancak sekali.” Amak masih berceloteh, mengeluarkan apa yang tengah dipikirkannya. Aku hanya tersenyum.

Malam itu, aku tidur dengan Amak. Ini hari ke-11 aku berada di rumah gadang. Rumah yang dirawat Amak dengan penuh kasih. Aku tidak menyangka, bahwa percakapan tadi malam adalah percakapan terakhirku dengan Amak. Karena keesokan paginya, aku melihat Amak tak bergerak di samping tubuhku. Subuh sudah berkumandang, tapi Amak belum juga bangun. Aku pikir Amak terlalu kelelahan. Jadi aku putuskan untuk sholat subuh lebih dulu, setelah itu baru membangunkan Amak.

Usai sholatku, Amak belum juga terjaga. Kulihat ia begitu tenang, tapi wajahnya sedikit pucat. Kusentuh jemari tangan Amak, dingin. Perasaan tidak enak menyergap tubuhku. Aku mengguncang tubuh Amak pelan, tapi Amak tak juga bangun. Aku memeluk tubuh Amak, jantungnya telah berhenti berdetak. Amak-ku telah pergi untuk selamanya. Aku menangis sejadi-jadinya. Meneriakkan nama Amak dengan sakit yang mendera dadaku.

Tek Minah datang bersama Kinta setelah mendengar teriakanku. Tangisanku menjadi-jadi tatkala tetangga lain ikut menghambur ke rumah gadang kami. Tapi sekeras apapun aku menangis, Amak juga tak akan bangun. Perempuan tua itu sudah lelah dan memilih tidur untuk selamanya. Ucapan Amak malam tadi hanya pengharapan, Amak tak benar-benar ingin melihatku memakai suntiang gadang. Tapi tak apa, aku percaya Amak lebih bahagia berada di sisi Tuhan bersama ayah. Tiada lagi kesepian yang merajainya. Tiada lagi tangisan rindu untuk anak-anaknya. Amak sudah berada di surga.

Baca Juga:  41 Hari Menulis Kiamat

 

Nanda Dyani Amilla

Nanda Dyani Amilla

*Cerpenis si Gadis Hujan, adalah Mahasiswi FKIP UMSU, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Penulis novel “Kejebak Friendzone”, Bentang Pustaka, 2017.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resinsi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: redaksi@nusantaranews.co atau selendang14@gmail.com.

Loading...

Terpopuler