Budaya / SeniCerpen

Aku (bukan) Monster

Cerpen : Devian Amilla

“Maaf, bu. Tidak boleh ada monster di tempat ini.” Kata pemilik yayasan tersebut kepada Ibu. Pemilik yayasan tersebut menoleh ke arahku dengan tatapan ngeri. Ibu tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Sambil berlalu kudengar Ibu seperti berbisik kepada dirinya sendiri, “Anakku bukan monster.” Kuikuti langkah kaki Ibu yang semakin cepat. Kutarik ujung bajunya untuk menyuruhnya berhenti. Ibu menoleh kearahku sambil memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Ia berusaha menutupi rasa marahnya.

“Ada apa, sayang? Fahri capek, ya? Kita cari satu sekolah lagi sebelum pulang, ya.”

Aku menggelengkan kepala. Ini sudah berjalan seminggu, tapi tak satupun sekolah mau menerimaku sebagai muridnya. Ibu bersikeras menyekolahkanku di sekolah umum, ia tak mau aku dianggap berbeda. Apalagi dianggap sebagai ‘monster’.

“Fahri mau pulang, Bu.” dengan terbata-bata kuutarakan niatku pada ibu. Ibu menggelengkan kepala dengan tegas. Ibu menarik tangankku untuk tetap berjalan. Aku tidak mau. Aku bersikeras berdiri dan tidak mau bergerak.

“Fahri, apa yang kamu lakukan? Ayo bergegas, sebentar lagi hari mulai gelap.”

“Fahri mau pulang sekarang!”

“Tidak! Kita tidak akan pulang sebelum nama kamu ada di salah satu sekolah di kota ini.” Kurasakan suara ibu bergetar.

“FAHRI MAU PULAAAANGGG!!!” Aku berteriak. Aku tidak lagi menghiraukan sekitarku. Aku menangis sejadi-jadinya. Kulihat Ibu panik dan berusaha menenangkanku. Aku mengambil batu yang berada di sekitarku, melemparkannya ke segala arah. Orang-orang yang berada di jalan sempurna melihatku dengan tatapan ngeri, seperti melihat monster yang lepas dari peradabannya. Ya, beginilah aku. Aku bisa sangat berbahaya jika kemauanku tidak terpenuhi. Aku bahkan sulit mengontrol emosiku.

Sejak lahir aku divonis dokter mengidap Down Syndrome. Aku memang berbeda dengan anak-anak lain seusiaku. Saat ini aku berusia 8 tahun. tapi bentuk fisikku tak seperti teman-temanku. Kepalaku lebih kecil dari kepala anak normal lainnya, ukuran hidungku kecil dan datar, itulah yang sering kali membuatku sulit bernapas. Ukuran mulutku juga kecil, menguncup dan punya lidah yang tebal, dan mengakibatkan lidahku sering menjulur keluar. Bentuk mataku miring dan tidak memiliki lipatan kelopak mata. Kulitku kering, leherku juga pendek, tangan dan jari-jari kakiku pun pendek. Pertumbuhan gigiku juga terbilang lambat dan tumbuh tidak beraturan. Sekarang, kalian paham kenapa Ibu pemilik yayasan tadi mengataiku ‘monster’ kan?

Baca Juga:  Banyak Jalan Menuju Roma

Aku tidak pernah menginginkan terlahir seperti ini, begitu pun Ibuku. Mungkin, Ibu memimpikan anak laki-laki yang tampan dengan bola mata yang indah dan senyum yang mempesona. Tapi kenyataannya, Ibu melahirkan seorang anak laki-laki yang mengidap Down Syndrome. Begitulah hidup, kadang manusia hanya bisa berencana dan berangan-angan, selebihnya Tuhan lah yang berkuasa atas segalanya.

Tetapi aku bersyukur mempunyai Ibu yang hebat. Ibuku tidak pernah malu dengan kondisiku. Ibu memperlakukanku layaknya anak normal. Meskipun seringkali aku membuat Ibu malu di depan banyak orang. Pernah suatu ketika Ibu mengajakku ke Supermarket untuk membeli keperluan bulanan. Ketika hendak masuk, Ibu berpesan, “Fahri jangan sentuh apapun ya, Nak. Kalau Fahri menginginkan sesuatu, minta pada Ibu untuk mengambilkannya.” Aku mengangguk. Ibu menarik napas lega, lalu menuntunku berjalan disampingnya.

Ketika Ibu sibuk memilih barang, kulihat seorang gadis kecil dengan bola mata berwana biru, rambutnya di kepang dua, dan tangannya sedang memegang ice cream. Mata kami beradu, saling tatap. Tiba-tiba saja gadis kecil itu menjerit dan menangis histeris. Aku sama sekali tidak mengerti, aku tidak mendekatinya apalagi menyentuhnya. Tapi gadis kecil itu menangis seperti baru melihat hantu. Sontak seluruh pengunjung berlari kearah kami. Gadis itu terus menangis sambil mengucapkan kata-kata yang tidak kumengerti.

He’s monsters! He’s monsters!”

There is a monsters!

Ibu mendengar teriakan gadis kecil itu dan langsung berlari kearahku, lalu membawaku keluar dari kerumunan orang-orang. Sejak kejadian itu, Ibu tidak pernah lagi mengajakku ke Supermarket. Sama halnya dengan yang terjadi baru saja, sudah entah berapa sekolah yang kami kunjungi, tetapi tak satupun sekolah mau menerimaku. Mereka mengaggapku monster yang berbahaya.

Akhirnya, Ibu mengalah. Ibu membawaku pulang. Selama perjalanan pulang, Ibu tidak mengajakku bicara seperti biasa. Mungkin Ibu masih marah padaku. Akibat ulahku yang melempari batu ke segala arah tadi, tanpa sengaja mengenai kepala seorang kakek yang berdiri tidak jauh dariku. Ibu terpaksa harus membayar biaya pengobatannya meskipun beliau menolaknya.

Sampai dirumah, ibu langsung menyuruhku masuk kamar. Ibu tidak mau bermain denganku seperti biasa. Ibu masih marah. Kulihat kalender di meja kamarku, hari ini adalah hari ulang tahun Ibu. Aku tersenyum, aku mengambil celengan ayam dari lemari. Kupecahkan celengan yang terbuat dari tanah liat itu, lalu kukutip uang yang berserakan di lantai dan kumasukkan ke dalam kantung plastik. Aku akan membelikan Ibu kue ulang tahun. Aku pun keluar rumah tanpa sepengatahuan Ibu.

Baca Juga:  Banyak Jalan Menuju Roma

Aku sudah berada di toko kue. Aku memberikan uang yang ada di dalam kantung plastik itu kepada petugas. Ia menanyakan padaku hendak membeli kue apa? Aku menunjuk kue tart yang dilumuri coklat dan bertuliskan “Happy Birthday” kepada petugas. Sebelum mengambil kue tart tersebut, petugas menghitung uang yang kubawa. Ternyata, setelah menghitung jumlah uang yang kubawa, uangku tidak mencukupi untuk membeli kue tersebut. Aku marah. Bilang bahwa petugas sengaja tidak memberiku kue itu. Aku mulai beringas. Aku berteriak-teriak agar petugas itu mau memberikanku kue tart.

Ketika aku membuat keributan, pemilik toko kue keluar dari ruangannya.

“Ada apa ini?”, dengan nada kesal ia bertanya pada pegawainya.

“Begini Pak, anak ini ingin membeli kue tart, tetapi uang yang ia bawa tidak cukup. Ia mengamuk dan memaksa kami untuk memberikannya.”

Pemilik toko itu terdiam, ia memperhatikanku, melihatku dengan tatapan yang berbeda. Ada rasa kasih sayang dari tatapannya. Pemilik toko tersebut langsung mengambil kue tart itu dan memberikannya untukku. Aku tersenyum, berulang kali mengucapkan terima kasih. Ia mengelus kepalaku.

“Sekarang, pulanglah. Berikan kue ini pada Ibumu.”

Aku mengernyitkan dahi. Darimana ia tahu kalau aku ingin memberikan kue ini untuk Ibu. Seperti mengerti kebingunganku, ia menjawabnya.

“Sudah pasti kue ini untuk Ibumu, anak tampan. Itu terlihat sekali dari matamu.”, sambil tertawa ia mengusap lembut kepalaku.

“Maukah, Bapak membantuku menulis surat untuk Ibu? Aku ingin sekali Ibu membaca tulisanku.”

Dengan senyum yang tulus, pemilik toko itu mengangguk.

***

Aku pulang ke rumah dengan selamat, diantar oleh bapak pemilik toko kue itu. Beliau tahu alamat rumahku dari gelang yang selalu kupakai kemana-mana. Ibu menulis alamat rumah kami di gelang tersebut, untuk berjaga-jaga jika aku keluar rumah tanpa sepengetahuan Ibu seperti sekarang. Begitu sampai di depan rumah, ibu langsung memarahiku. Ibu panik ketika tidak mendapati aku di kamar. Ibu mengucapkan terima kasih kepada pemilik toko itu dan langsung menarikku masuk ke dalam rumah.

Baca Juga:  Banyak Jalan Menuju Roma

Ibu mengambil dengan kasar kotak kue dari tanganku dan mencampakkannya ke atas meja. Ibu menyeretku ke arah gudang belakang, mendorongku dan mengunciku di dalam gudang yang pengap itu. Aku marah, berusaha bilang kalau kue tart itu untuk Ibu. Ibu jahat. Ibu tidak pernah seperti ini sebelumnya. Aku memukul-mukul pintu, minta dikeluarkan dari gudang. Tapi Ibu tidak mau mendengarkanku. Aku kehabisan tenaga, mulai sulit bernapas. Pukulanku di pintu pun semakin melemah. Dan aku mulai memejamkan mataku, berharap mendapatkan kekuatan.

Ibu yang sedang emosi mulai sadar dengan apa yang ia lakukan padaku. Ia membuka isi kotak kue tart tersebut. Betapa terkejutnya ia melihat kue tart yang sudah tak berbentuk lagi. Ada sepucuk surat di dalamnya. Dengan tangan bergetar dan air mata yang berjatuhan ia membaca isi surat itu.

Selamat ulang tahun, Ibuku terhebat.

Maafkan aku jika selama ini aku hanya menjadi beban untukmu

Maafkan aku karena sudah terlalu banyak air mata yang kau jatuhkan untukku

Maafkan aku karena belum bisa menjadi anak laki-laki kebanggaanmu

Mulai hari ini, aku berjanji akan menjadi anak laki-laki seperti yang selalu Ibu ceritakan sebelum tidur.

Sekali lagi, selamat ulang tahun wanita yang paling kucintai dan kuinginkan kebahagiannya…

Ingatlah selalu, Bu. Aku bukan monster seperti yang mereka katakan.

Aku FAHRI, Anak laki-laki kesayangan Ibu.

Aku bukan monster, Bu.

Aku bukan monster!

Aku bukan monster!

Air mata ibu tidak bisa berhenti setelah membaca baris terakhir dari surat itu. Ibu langsung berlari ke arah gudang, Ketika Ibu membuka pintu gudang dan mendapati aku yang sudah terbaring tak bernyawa, Ibu histeris dan menangis sejadi-jadinya sambil bergumam, “Fahri bukan monster, sayang. Maafkan Ibu.” Aku tersenyum melihat ibu dan kubisikkan di telinganya, “Selamat ulang tahun, Bu.”

*Penulis adalah Alumni UMSU Jurusan Matematika, Beberapa karyanya seperti puisi, cerpen dan opini pernah dimuat di media lokal maupun luar daerah.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Ikuti berita terkini dari Nusantaranews di Google News, klik di sini.

Related Posts

1 of 39