Politik

Aktivis Kemanusiaan Terpukau dengan Pemikiran Prabowo Subianto

fitnah pelanggar ham, fitnah penculikan, prabowo subianto, pembenci prabowo, bullying, fitnah prabowo dipecat, nusantaranews
Prabowo menjadi pembicara dalam acara The World in 2019 Gala Dinner yang diselenggarakan majalah The Economist di Hotel Grand Hyatt Singapura, Selasa (27/12). (Foto: dok. The Economist)

NUSANTARANEWS.CO, JakartaAktivis kemanusiaan Natalius Pigai mengaku sangat terpukau dengan ide, gagasan, pemikiran Prabowo Subianto. Menurutnya, mantan Danjen Kopassus itu memiliki pemikiran yang sangat brilian.

Prabowo Subianto seorang jenderal intelektual, politikus, negarawan yang cemerlang, saban hari menyisihkan waktu untuk membaca buku-buku terbaik dalam berbagai bahasa,” kata dia dikutip dari keterangan tertulis, Jakarta, Rabu (3/4/2019).

“Salah satu buku yang pernah di bawahnya saat debat ke dua Capres tanggal 17 Februari 2019 berjudul Fals of Nation (Negara Gagal). nti dari buku Negara Gagal tersebut berkesimpulan bahwa negara gagal karena sumber daya alam dikuasai sekelompok kecil oligarki, sementara kebijakan politik dan hukum negara berorientasi untuk memperkuat kepentingan sekelompok kecil oligarki ekonomi dan politik tersebut,” sambungnya.

Tokoh asal Paniai, Papua ini menilai, pandangan cerdas Prabowo tampak nyata saat dirinya mengikuti debat calon presiden menjelang Pilpres 2019.

“Jika membaca pandangan Prabowo Subianto sebenarnya secara tersirat menyatakan kegaulauan atas kegagalan pemerintah saat ini yang membawa bangsa Indonesia tersandera dalam ancaman penetrasi kapital, hegemoni politik negara lain,” sebutnya.

Baca Juga:  Survei SMRC, Dukungan Masyarakat Desa Untuk Partai Golkar Masih Kuat

“Akibatnya negara makin tidak berwibawa karena perilaku amoralitas penguasa; kebocoran keuangan negara, korupsi merajalela, memperdagangkan pengaruh, jual beli jabatan, perilaku mesum yang justru dilakukan oleh orang-orang yang melingkari istana, pusat kekuasaan negara,” lanjut dia.

Mantan Komisioner Komnas HAM ini menambahkan, Prabowo bukanlah tipe pemimpin yang suka berdebat, berwacana bahkan mengumbar kata-kata. Bahkan, kata dia, hampir tidak pernah bermain kata-kata gimik atau bahkan menyerang pribadi sebagaimana dipertontonkan oleh kandidat petahana.

“Berdiam tidak berarti apatis terhadap negara, berdiam sembari mengarahkan mesim politik Gerindra berkerja sungguh-sungguh demi rakyat, bangsa dan negara,” paparnya.

“Prabowo sangat memahami apa yang dipertontonkan penguasa yang menyebabkan kerusakan fundamental soal integrasi sosial dan ancaman integrasi nasional,” lanjut Natalius.

(eda)

Editor: Eriec Dieda

Related Posts

1 of 3,063