Demonstrasi anti-pemerintah yang dimulai di Iran pada hari Kamis kini telah menyebar ke beberapa kota besar dan menjadi gelombang demonstrasi terbesar sejak kerusuhan pro-reformasi nasional Iran di tahun 2009. Foto: BBC
Demonstrasi anti-pemerintah yang dimulai di Iran pada hari Kamis kini telah menyebar ke beberapa kota besar dan menjadi gelombang demonstrasi terbesar sejak kerusuhan pro-reformasi nasional Iran di tahun 2009. Foto: BBC

NUSANTARANEWS.CO – Ibu kota Iran, Teheran tengah bergejolak. Hal ini lantaran meletusnya aksi demonstrasi besar-besaran anti pemerintah. Demonstran menuduh pemerintah Iran salah kelola perekomian negara di bawah kepemimpinan Hassan Rouhani. Padahal, Iran tercatat sebagai negara kedua terbesar ekonominya di Timur Tengah dengan cadangan gas alam terbesar kedua di dunia.

Aksi demonstrasi sudah berlangsung selama sepekan. Sampai saat ini tercatat sudah memakan korban 21 orang tewas dan lebih dari 450 orang ditangkap.

Peristiwa politik yang bergejolak di Iran segera mendapat respon dari Amerika Serikat dan Eropa. Koran-koran besar dan saluran-saluran televisi global tiba-tiba dengan sangat intensif dan ekstensif mengabarkankan demo di Iran. Seperti di orkestrasi, secepat kilat info-info itu menyeruak masuk ke portal-portal berita nasional dan lokal, lalu terpajang di telapak tangan setiap orang melalui grup-grup media sosial.

Inti dari semua informasi itu hampir sama, yakni rakyat Iran menghendaki pergantian rezim. Dan mungkin orang pertama yang berkicau menyambut baik (tuntutan) demo itu adalah Donald Trump. Tak berselang lama disusul sohibnya dari Parlemen Eropa (PE) pada Senin (2/1) Pavel Telicka yang menjabat sebagai wakil presiden PE.

The protest that was triggered by dissatisfaction with the rise in prices and corruption by the authorities soon turned into a political demonstration calling for regime change. (Protes yang dipicu ketidakpuasan akibat kenaikan harga dan korupsi oleh penguasa, dengan cepat berubah menjadi demonstrasi politik yang menyerukan pergantian rezim),” tulis NCRI Iran News.

BACA: AS, Israel dan Sekutu Sedang Memainkan Perang Proksi di Iran

Ditambahkan lagi Telicka, kolega saya dan saya di Parlemen Eropa sudah lama mempromosikan sebuah negara Iran yang bebas dan sekuler, dan kami sangat simpati kepada oposisi Iran yang demokratik pimpinan Maryam Rajavi, yang menjadi pembicara tamu di Konfrensi Brussels pada tanggal 6 Desember (My colleagues and I in the European Parliament have long been promoting a free, secular Iran, and we are very sympathetic to the democratic Iranian opposition led by Maryam Rajavi, who was guest speaker at the Brussels conference on December 6).

Pada intinya, Telicka yang notabene warga berkebangsaan Republik Ceko meminta agar Uni Eropa campur tangan membantu para demonstran menekan pemerintahan Iran.

Pertanyaan menarik, siapa sebenarnya Maryam Rajavi? “Dengan menuliskan namanya di mesin pencari, semua misteri tentangnya akan terkuak. Dia keturunan dari keluarga Dinasti Qajar dan istri dari Massoud Rajavi, tokoh penting dan pemimpin Mujahideen Khalq Organisation (MKO). Kadang juga disebut People’s Mojahedin Organization of Iran (PMOI). Saat Saddam Husein mengobarkan perang terhadap Iran yang baru selesai membentuk pemerintahan baru paska jatuhnya Shah Reza Pahlavi, Maryam Rajavi dan MKO-nya memilih menyeberang ke Iraq dan berperang di pihak Saddam. Di titik ini, masyarakat Iran menganggapnya sebagai pengkhianat,” kata pengamat Timur Tengah, Muhammad Rusli Malik, Jakarta, Jumat (5/1/2018).

BACA JUGA: Kalah di Suriah, Arab Saudi Geser Perang ke Lebanon

Rusli menjelaskan, setelah Saddam Husein jatuh dan penguasa baru di Baghdad lebih dekat ke Teheran, posisi MKO di Irak bagai di atas bara. Akhirnya Maryam Rajavi pindah ke Paris, sementara ribuan anggota MKO oleh PBB direlokasi ke Albania dan mengikuti proses redakilasasi.

Pada tahun 1993, Maryam Rajavi terpilih sebagai Presiden National Council of Resistance of Iran (NCRI). Organisasi ini menjadi payung terhadap semua organisasi oposisi yang beraktivitas di luar Iran. Jabatan itu masih dijabat sampai sekarang.

Karena jejaknya yang begitu banyak dalam melakukan aksi-aksi terorisme di berbagai tempat, termasuk terhadap warga Amerika dan rakyat Iran, Washington dan negara-negara sekutunya di Eropa mendaftarkannya sebagai organisasi teroris pada tahun 1997. Dan tentu saja Maryam Rajavi secara pribadi termasuk di dalamnya. Tetapi pada tahun 2012, saat ISIS dan organisasi militan Islam lainnya berusaha menguasai Irak dan menjatuhkan Bashar al Asaad di Suriah, status sebagai organisasi teroris dicabut. Amerika dan Eropa bahkan mendekatinya.

Pada 27 Maret 2012, seperti dikutp IBTimes, mantan Walikota New York, Rudolph Giuliani, bersama mantan Jaksa Agung Amerika, Michael Mukasey, mantan Duta Besar Amerika untuk PBB, John Bolton, dan beberapa mantan pejabat negara lainnya menjumpai Maryam Rajavi di Villepinte, dekat Paris. Setelah itu, Giuliani, dalam jumpa pers menyarankan agar Amerika Serikat menggunakan MKO untuk melakukan serangan militer terhadap program nuklir Iran.

The Badhdad Post melaporkan, sebuah surat bertanggal 9 Januari 2017 yang ditandatangani oleh lebih 20 orang mantan pejabat Amerika dikirm kepada Donald Trump sebagai Presiden-terpilih. Melalui surat itu, mereka meminta kepada Trump untuk membangun dialog dengan MKO, sebagai organisasi dominan dalam NCRI, dalam rangka pergantian rezim di Tehran.

BACA JUGA: Amerika Serikat Kalah Perang di Suriah Melawan Rusia dan Iran

Tanggal 14 April 2017, seperti ditulis di laman Maryam Rajavi, Senator John McCain, menemui Maryam Rajavi di Tirana, Albania. Dalam pertemuan itu, muncullah dialog berikut ini:

Senator McCain: You are an example to everyone in the world that is struggling for freedom. (Anda adalah contoh bagi setiap orang di dunia yang berjuang demi kebebasan)

Maryam Rajavi: As the regime is beset by deepening crises, we are closer than ever to our goal of freedom. (Saat rezim mengalami krisis yang dalam, berarti kita semakin dekat pada tujuan kebebasan kita).

Pada 12 Agustus 2017, NCRI kembali menurunkan sebuah tulisan yang menyebutkan sebuah delegasi senior dari Senat Amerikayang dipimpin oleh Roy Blunt, kembali menjumpai Maryam Rajavi di Tirana, Albania. Dalam kesempatan itu, Blunt menyampaikan harapannya agar MKO sukses dalam memperjuangkan demokrasi dan hak asasi manusia di Iran. Dan Maryam Rajavi membalasnya bahwa pergantian rezim adalah niscaya.

Masalahnya sekarang, mungkinkah mayoritas rakyat Iran yang agamis itu menerima Maryam Rajavi beserta MKO dan NCRI-nya sebagai pemimpin pengganti Ayatullah Sayyid Ali Khamenei?

“Tidak usah bicara kapabilitas, bicara rekam jejak saja, ibu beranak dua itu agaknya mengalami kesulitan. Karena Iran adalah sebuah bangsa yang punya nasionalisme tinggi. Sementara, ketika jutaan rakyat Iran kehilangan nyawanya akibat digempur Saddam Husein, Maryam Rajavi beserta suami dan milisinya justru berperang melawan bangsanya sendiri,” kata Rusli.

Itu mungkin sebabnya, kata dia, sehingga walaupun jejaknya pada demonstrasi di Iran kali ini tidak bisa disembunyikan, tetapi tak satu pun poster yang mengusung dirinya. Dan tak seorang demonstran pun yang menyuarakan namanya.

Ia mengatakan, kalau memang demonstran menuntut pergantian rezim seperti yang dikatakan media-media Barat dan pengutip-pengutipnya di Timur, lalu siapakah sebenarnya tokoh alternatif itu? Bukankah demo besar di tahun 2009 saja ada tokoh utamanya? Pasti masih ingat nama ini, Mir Hossein Mousavi dan Mehdi Karroubi. “Sayangnya kedua tokoh ini tak pernah lagi kedengaran suaranya, termasuk di hari-hari demonstrasi kini,” imbuhnya.

Karena tidak ada tokoh utamanya, lanjut Rusli, maka bisa dipastikan bahwa demonstrasi kali ini bukan untuk melakukan pergantian rezim. Tetapi hanya untuk men-Suriah-kan Iran, sebagai balas dendam mereka atas kekalahan mereka di semua fron seperti Irak, Suriah, Lebanon, Palestina, Qatar, Bahraen, dan Yaman. Itu sebabnya, di bawah ketiak 17.000 tentara Amerika, ada ribuan petempur ISIS dan veteran milisi-milisi piaraan Amerika, Israel, dan Saudi di Suriah sudah disiagakan di Afghanistan.

“Tetapi sayangnya, makar mereka kali ini gagal lagi. Jutaan demonstran pro rezim yang memenuhi jalan-jalan di berbagai kota pada Rabu 3 Januari lalu, mempertegas kegagalan itu dan sekaligus menghakhiri demo rekayasa tersebut,” pungkasnya. (red)

Editor: Eriec Dieda

Komentar