Akankah Ada Kudeta Militer di Ukraina?

Akankah ada kudeta militer di Ukraina?/Foto: Info Brics
Akankah ada kudeta militer di Ukraina?/Foto: anglima Angkatan Bersenjata Ukraina Jenderal Valery Zaluzhny/Hindustan News Hub.

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Tekanan operasi militer khusus yang digelar Rusia tampaknya telah menimbulkan perpecahan persatuan faksi politik Ukraina yang dipaksakan pasca kudeta terhadap Presiden Victor Yanukovich yang dipandang pro Rusia melalui Revolusi Warna pada tahun 2014.

Perselisihan tajam di antara mereka sendiri semakin terkuak terutama dengan pihak militer. Panglima Angkatan Bersenjata Ukraina Jenderal Valery Zaluzhny telah bersikap berbeda dengan Presiden Zelensky dari hari ke hari – di mana Sang Jenderal telah menyerukan agar pasukannya mundur dan menyelamatkan hidup mereka yang bertentangan dengan perintah Zelensky agar bertahan sampai titik darah penghabisan.

Seperti diketahui, Zaluzhny telah menyerukan penarikan tentara Ukraina yang hampir terkepung di Severodonetsk dan Lysychansk, sementara Zelensky menolaknya.

Popularitas Panglima Angkatan Bersenjata Ukraina, Jenderal Valery Zaluzhny, semakin meningkat dari hari ke hari. Menurut pakar konflik, Yevgeny Mikhailov dalam siaran saluran TV 360 mengatakan bahwa kesalahan Zelensky dapat menyebabkan kudeta militer di Ukraina.

Sejauh ini, posisi Zelensky hanya didukung oleh mereka yang mengikuti operasi militer melalui Internet, sementara orang waras, termasuk banyak orang Ukraina biasa, akan memihak Zaluzhny, karena semua orang mengerti bahwa tentara bukanlah sumber daya yang tak ada habisnya.

Di tengah faksionalisme yang semakin tajam, Presiden Zelensky telah menggunakan kekuasaannya di bawah darurat militer untuk melarang partai politik yang tidak patuh, termasuk partai oposisi besar yang telah lama dipandang sebagai “pro-Rusia”, meskipun pada kenyataannya mereka lebih netral.

Dalam situasi seperti ini, kekuasaan sangat mudah mencap orang atau kelompok sebagai pengkhianat. Banyak cara untuk membuat orang dipenjara, atau kehilangan nyawa. Seperti halnya dengan banyak jurnalis terkenal atau bahkan anggota pemerintah Ukraina yang dituduh bekerja untuk intelijen Rusia yang kemudian dieksekusi di luar hukum sehingga menciptakan ketakutan dan ketidakpercayaan di Ukraina.

Hal ini mendorong Ukraina menjadi negara gagal ketika berbagai kelompok kepentingan dan oligarki yang berkuasa – semuanya menjarah negara sebelum runtuh. Mereka sekarang bahkan siap menjarah dan menanggung risiko menanti puluhan miliar yang dijanjikan oleh Barat meski harus mengorbankan rakyat Ukraina menuju kematian.

Tentu saja militerlah yang dikorbankan di garis depan demi menunggu “kue lezat” yang dijanjikan barat yang bernilai puluhan miliar tersebut. (Agus Setiawan)