Connect with us

Global

AI Atlantis Proyek Pangkalan Bawah Laut Cina Akan Dibangun di Zona Hadal

Published

on

Pembangunan Pangkalan Bawah Laut Cinta di laut Cina Selatan bernama AL Atlantis. (FOTO: Istimewa)

Pembangunan Pangkalan Bawah Laut Cinta di laut Cina Selatan bernama AL Atlantis. (FOTO: Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO, Beijing – Pasca Presiden Xi Jinping mendorong para insinyur untuk lebih berani berinovasi dan menciptakan sesuatu yang belum pernah dibuat sebelumnya, AI Atlantis sebuah pangkalan bawah laut untuk operasioanl kapal selam nirawak dan pertahanan diluncurkan di Akademi Ilmu Pengetahuan Cina di Beijing bulan ini.

Dikutip dari The South China Morning Post, Xi Jinping mengatakan, tidak ada jalan di permukaan bawah laut. “Kita (China) tidak perlu mengejar (negara lain), karena kita adalah jalannya,” tutur Xi saat mengunjungi Institut Penelitian Bawah Laut di Sanya, Hainan, Selasa (27/11/2018) lalu.

Baca Juga:

Al Atlantis rencananya dibangun di zona Hadal, wilayah terdalam samudera sekitar 6.000 hingga 11.000 meter dan biasanya berbentuk palung. Sedang biaya untuk membangun AI Atlantis dikabarkan, pemerintah menghabiskan 1,1 miliar yuan atau setara Rp2,32 triliun.

Para insinyur dinyatakan perlu mengembangkan material untuk menahan tekanan air yang sangat besar di dasar laut. Sebab, laiknya stasiun luar angkasa, kompleks bawah laut juga memerlukan dek atau geladak. “Proyek ini sama menantangnya dengan membangun koloni di planet lain untuk para robot. Teknologi bisa mengubah dunia,” ujar peneliti.

Ketika rampung, pangkalan tersebut akan dimanfaatkan untuk melakukan survei dasar laut, mengumpulkan sampel mineral, dan mencatat bentuk-bentuk kehidupan bawah laut.

Sementara itu, seorang peneliti akademi Laboratorium Kunci Samudera dan Geologi Laut Marjinal di Guangzhou, Yan Pin, mengatakan Palung Manila memiliki potensi untuk dijadikan lokasi proyek teknologi tinggi ini. “Palung Manila adalah satu-satunya tempat di Laut China Selatan dengan kedalaman melebihi 4.876 meter,” kata Yan kepada Sputnik.

Kendati demikian, kata Yan, palung tersebut juga dikenal sebagai salah satu zona gempa terbesar di dunia, karena merupakan titik temu antara lempeng tektonik Eurasia dan Pasifik. Wilayah ini, lanjutnya, dekat dengan perairan Scarborough yang menjadi sengketa antara Cina dan Filipina.

Karena itulah, Yan mengusulkan Cina menjamin keuntungan timbal balik bagi Filipina agar pemerintahan Presiden Rodrigo Duterte bisa ikut serta dalam proyek.

Laut China Selatan merupakan salah satu perairan yang paling diperebutkan. Perairan itu menjadi rawan konflik terutama setelah China mengklaim hampir 90 persen wilayah itu, yang tumpang tindih dengan sejumlah negara di Asia Tenggara seperti Filipina, Vietnam, dan Malaysia.

Namun, Beijing disebut tengah mempertimbangkan berbagi data penelitian dan teknologi dengan negara-negara pengklaim supaya bisa memenangkan dukungan untuk membangun proyek tersebut.

Pewarta: Roby Nirarta
Editor: M. Yahya Suprabana

Advertisement

Terpopuler