Connect with us

Global

AS Pemasok Senjata Terbesar Dalam Perang Yaman

Published

on

AS Pemasok Senjata Terbesar Dalam Perang YamanAS Pemasok Senjata Terbesar Dalam Perang Yaman

Ilustrasi 155mm M109A5/A6 self-propelled howitzer system

NUSANTARANEWS.CO –  Amerika Serikat (AS) adalah pemasok senjata terbesar dalam Perang Yaman. Demikian pula serangan besar-besaran pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi yang menggempur kota pelabuhan Hudeidah yang dikuasai oleh front perlawanan pasukan Houthi yang sekali lagi menggunakan senjata buatan AS dan negara-negara barat. Media mainstream barat tampak tidak peduli dengan serangan membabi buta pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi tersebut.

Washington Post melaporkan bahwa AS telah menjual senjata ke Arab Saudi senilai US$ 20 miliar dan Inggris US$ 4 milliar dalam tahun lalu. Sebagai informasi, menurut Owen B. McCormack, di masa pemerintahan Obama, AS secara rahasia telah menjual lebih banyak senjata kepada pemerintah asing dibandingkan presiden AS lainnya sejak Perang Dunia II – mencapai lebih dari US$ 169 miliar.

Penerima utama ekspor senjata buatan Amerika adalah Arab Saudi. Hampir 10 persen ekspor senjata AS diterima Arab Saudi, dan 9 persen ke Uni Emirat Arab. Sebelum menyerang Yaman, Arab Saudi telah menjadi pengimpor senjata terbesar kedua di seluruh dunia pada 2010-2014

Seperti dilaporkan Congressional Research Service, bahwa pada awal 2010, pemerintahan Obama telah menjual senjata senilai US$ 90,4 miliar kepada Saudi. Sementara Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm, menambahkan bahwa impor senjata Dewan Kerjasama Teluk (GCC) meningkat 71 persen dari tahun 2005-2009 sampai 2010-2014. Jelas ini sebuah bisnis perang yang sangat menguntungkan.

Dalam laporan CRS 2016, terungkap bahwa Timur Tengah tetap menjadi pasar utama penjualan senjata AS. Berdasarkan program Penjualan Militer Asing (FMS), tercatat kesepakatan sebesar US$ 63 miliar pada tahun 2016. Lebih dari dua pertiga dari nilai kesepakatan tersebut adalah dengan Arab Saudi, Kuwait, Qatar, dan UEA untuk pesawat tempur, helikopter, tank, rudal, bom, dan senjata lainnya. Bahkan pada hari-hari pertama pemerintahan Trump, terdapat tambahan US$ 1,04 miliar perjanjian FMS dengan Arab Saudi dan Kuwait.

Pemasok persenjataan utama lain di Timur Tengah adalah Inggris dan Prancis yang masing-masing menyumbang kurang dari 10 persen pasokan senjata ke wilayah tersebut.

Rusia merupakan pemasok senjata terbesar kedua setelah AS di walayah tersebut. Menurut laporan CRS 2016. Rusia juga melakukan intervensi militer di Suriah dan menyediakan sistem pertahanan udara ke Suriah dan Iran.

Belakangan penjualan senjata AS ke Timur Tengah mengalami peningkatan, terutama ke Arab Saudi yang sedang melakukan perang di Yaman – Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat telah menyepakati penjualan senjata seharga US$ 1,3 miliar ke Arab Saudi. Hal itu diumumkan oleh Kementerian Pertahanan AS (Pentagon) pada Kamis, 5 April 2018.

Senjata yang dijual ke Arab Saudi berupa 180 set 155mm M109A5/A6 self-propelled howitzer system – meriam yang mampu melakukan mobilitas seperti tank namun tidak memiliki kapabilitas tempur serupa. Senjata itu digunakan untuk serangan artileri jarak jauh. (Banyu)

Komentar

Advertisement

Terpopuler