Connect with us

Cerpen

72 Jam yang Lalu, Cerpen Nasrul M Rizal

Published

on

cerpen, cerpen, nasrul m rizal, 72 jam, 72 jam yang lalu, nusantaranews, cerpen nusantara, cerpen indonesia, cerpenis indonesia, nusantara news

The Persistence of Memory by Salvador Dali 1931. (Foto: Dictio Community)

72 Jam yang Lalu, Cerpen Nasrul M Rizal

Jujur aku bingung harus memulai cerita ini dari mana. Terlebih tidak semua orang mengalami apa yang aku alami. Memang betul, awalnya aku enggan memberitahu kepada siapa pun. Tapi aku pikir tidak ada salahnya untuk membagi cerita ini. Beruntung, kamu satu-satunya dari miliyaran orang di dunia ini yang bisa mendengarnya.

Tujuh tahun silam ada seseorang yang tidak sengaja berkenalan denganku di sebuah cafe. Ya, aku sering datang ke cafe paling ramai di ibu kota itu. Setiap hari ratusan orang mengunjunginya: ada yang hanya makan siang lantas pergi, ada yang bercengkrama dengan teman kantor, menikmati waktu istirahat, berkumpul dengan keluarga, dan tidak sedikit yang menikmati kebersamaan dengan kekasihnya.

Aku malas untuk berlama-lama duduk di cafe itu. Namun, semenjak berkenalan dengan gadis itu, aku bersenang hati untuk berlama-lama menikmati waktu. Sebelumnya, boleh dibilang hanya hitungan jari saja, aku berlama-lama mencicipi makanan di sana. Bukan karena makanannya tidak enak, tapi … rahasia deh, biar kau penasaran. Di pertemuan pertama aku hanya berkenalan saja, namanya Riani. Dia lebih suka dipanggil Ria. Walau sebentar, tapi pertemuan itu tidak bisa aku lupakan begitu saja.

Pada pertemuan yang ke dua, aku berkesempatan bertukar kata lagi, lebih banyak dari sebelumnya.

“Akhir-akhir ini aku sering lihat kamu, padahal sebelumnya tidak sekali pun batang hidungmu nampak,” ucap Ria mengawali pembicaraan.

“Hmm … soalnya aku dengar, dari teman, katanya makanan di cafe ini enak. Karena penasaran, makanya aku coba, dan aku ketagihan hehe.”

“Bener sih, red valvet di cafe ini rasanya luar biasa,” ucapnya sambil mengaduk-ngaduk jus jeruk yang tinggal setengah.

“Selain red valvet apalagi daya tarik cafe ini?”

“Karena cafe ini sangat istimewa bagiku,” Ria berbicara tidak semangat.

“Istimewa?” aku menyelidik.

Belum sempat Ria menjawab. Seseorang berseragam putih menghampiri kami.

“Maaf, cafenya mau tutup. Silakan untuk melakukan pembayaran di kasir,” ucap pelayan cafe mantap.

Tanpa disuruh dua kali, Ria beranjak ke kasir. Namun, secepat mungkin aku menahannya. Biar aku saja yang membayar semua pesanannya. Meskipun tersipu malu, akhirnya dia menyerah oleh bujukkanku. Aku mempersilakan Ria untuk keluar terlebih dulu.

“Lain kali kalau saya sedang ngobrol dengan perempuan itu, jangan dulu tutup. Tidak peduli sampai tengah malam sekali pun.”

“Tapi bos … ”

“Tidak apa-apa ini pengecualian.”

***

Aku hanya bertemu dengan dia empat kali saja. Selebihnya berkomunikasi lewat dunia maya. Kau masih ingat apa yang aku katakan di awal? Cinta itu melewati batasan logika. Rupanya itu menimpaku.

“Ria, mungkin ini terlalu cepat untukmu, kamu baru mengenalku beberapa minggu saja. Tapi aku sudah mengenalmu dari dulu. Jauh sebelum kamu mengenalku. Kamu tahu, terkadang cinta itu tidak dimengerti oleh logika. Dan sekarang aku merasakannya sendiri.

“Aku merasa nyaman bertukar kata denganmu. Setiap minggu, aku datang ke cafe ini karena dirimu. Ria, maukah kamu …” kata yang ingin aku ucapkan mendadak menghilang. “Maukah kamu menikah denganku?” Lega sekali rasanya kata-kata itu berhasil keluar dari bibirku. Namun, di saat yang bersamaan, jantungku berdetak kencang tak terkira. Harap-harap cemas menanti jawabannya.

Ria menghela nafas panjang lalu mengembuskannya perlahan.

Tanpa perlu membuatku menunggu lebih lama. Dia mengangguk. “Aku bersedia.” Jawabannya berhasil membuatku sangat bahagia, lelaki terbahagia.

Tiga minggu setelah aku melamarnya, kami menikah. Memulai kehidupan yang baru. Aku harus berbagi tempat tidur dengannya. Menikmati secuil waktu yang disediakan malam, mewarnai setiap detik yang disuguhkan siang, bersama. Rumahku yang biasanya dingin, kini terasa hangat oleh kehadirannya. Jangan kau tanya kemana keluargaku, karena sedari dulu, sejak aku melihat cahaya di bumi ini, aku sudah terbiasa hidup sendiri.

Selayaknya keluarga bahagia, tiada hari tanpa canda dan tawa yang menemaniku. Ria –istriku– tertawa bahak dicampur kesal kala dia tahu, kalau aku stalker setianya. Dia menggeleng-geleng kepala, tak percaya kalau aku menyimpan potongan video dirinya dari cctv.

Kebahagiaanku bertambah sempurna, seorang anak laki-laki –yang aku beri nama Aldi– hadir di tengah keluarga kecil nan bahagia. Dia membuatku menangis dan tersenyum dalam satu helaan nafas yang sama. Malam itu, tangisannya menggema ke setiap sudut Ibu Kota. Membuat semua orang yang mendengarnya tersenyum. Malam itu aku resmi mejadi seorang ayah.

Aldi tumbuh dengan baik. Rasanya aku tidak ingin berangkat kerja demi menatap dirinya tidur. Dan aku buru-buru pulang hanya karena ingin mendengar permataku menangis. Satu tahun terlewati, Aldi semakin manja saja. Dia selalu menangis kala ditinggal ibunya, padahal ada aku di sampingnya. Dua tahun berlalu, Aldi mulai memanggil papa. Aku sangat senang dipanggil papa olehnya.

72 jam lalu, Aldi berangkat sekolah, hari pertamanya. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mengantar anakku pergi sekolah, memakai seragam putih merah, topi dan dasi merah menggantung di lehernya. Dan hal ini yang sebenarnya ingin aku certikan padamu.

Bukan, bukan ketika aku mengantar anakku berangkat sekolah, tapi setelah aku mengantarnya. Kejadian yang akan membuatmu terkejut, sekaligus tidak percaya, terjadi begitu cepat. Beberapa meter sebelum aku tiba di cafe, istriku nelepon, menyuruhku untuk segera pulang. Tanpa berpikir dua kali, aku membanting setir, berbalik arah, kembali ke rumah.

Setibanya di rumah. Baru beberapa langkah masuk, aku benar-benar terkejut.

“Maafkan aku, sayang.” Ria memelukku erat. Buliran air jatuh dari matanya, membanjiri pipi.

“Kamu kenapa sayang?” tanyaku penasaran.

“Aldi.” Suara Ria hilang ditelan tangisan.

“Kenapa dengan Aldi? Tadi saat aku mengantarnya sekolah dia baik-baik saja.”

Aku sedikit bingung dengan apa yang tertangkap oleh mataku. Aneh betul tiba-tiba istriku memeluk lantas menangis seperti ini.

“Dia, dia …”

“Dia kenapa?”

“Bukan … “ susah sekali Ria untuk melanjutkan perkataannya.

“Bukan apa sayang?” tanyaku penuh rasa ingin tahu.

Dan yang paling membuatku bingung, ialah Aldi. Kenapa pula istriku menangis kala menyebut namanya.

“Dia.. dia.. bukan anakmu.” Tangis Ria pecah. Dia tersungkur di depanku.

Bagai patung pancoran, aku diam tak bergerak sedikit pun. Sayangnya, aku tidak terlihat bahagia sebagaimana patung pancoran.

Aku hanya menatap Ria yang sedang menangis tersedu-sedu di depanku.

“Maafkan aku. Dulu saat kamu menikahiku, aku sedang hamil muda. Lelaki yang menghamiliku tidak mau bertanggung jawab. Dia menghilang seakan ditelan bumi,” Ria semakin terisak, “beberapa kali aku sempat mencoba untuk menggurkan kandungan itu. Namun, selalu saja gagal. Hingga akhirnya kamu datang di kehidupanku.”

Sempurna aku membisu. Semua kata yang biasanya keluar dari bibirku hilang entah kemanan.

“Maafkan aku. Seharusnya sedari dulu aku memberitahumu,” suara Ria patah-patah, dipatahkan tangisnya.

“Sayangnya keberanian itu selalu hilang. Aku takut. Takut merusak kebahagiaan kita. Menghancurkan hidupmu.

“Tujuh tahun lamanya aku menyimpan rahasia ini erat-erat, rasanya sangat menyakitkan.” Ria mencapai klimaks.

Dia menangis tersedu-sedu demi memohon maaf padaku.

Aku memeluk Ria, mengusap air matanya dengan tanganku yang dingin, seakan membeku.

“Hapus air matamu, sayang. Tidak perlu ada air mata sebanyak itu. Karena aku … “

“Karena aku tahu itu sedari dulu.” Aku tersenyum sangat tipis.

Ria mendongak. Dia berani melihatku demi meminta penjelasan. Padahal sedetik yang lalu dia menunduk dalam tangisannya.

“Dulu, kamu sering datang ke cafe dengan seorang lelaki. Melihat kedekatan kalian, aku menyimpulkan, kalau dia adalah kekasihmu. Kamu terlihat sangat bahagia, Ria. Wanita terbahagia.” Aku mengembuskan nafas panjang.

“Sayangnya itu tidak lama. Hanya bertahan tiga bulan saja. Setelah itu kamu duduk sendiri di kursi pojok cafe.

Mematung melihat jus jeruk yang tidak sedikit pun tersentuh. Tidak ada semangat yang nampak dari dirimu. Ada dua kemungkinan kamu menjadi seperti itu. Pertama, kamu sedang menunggu pacarmu yang tak kunjung datang. Kedua, kamu dikhianati olehnya.

“Melihatmu seperti itu, aku datang. Pertemuan pertama kita hanya sebatas skenario saja, bukan kebetulan, sudah aku rencanakan.”

Suasan di rumah sederhana ini hening beberapa lama.

“Memang terasa aneh, hanya hitungan jari kita bertemu tapi kamu menerima lamaranku. Dan aku tahu jawabannya setelah Aldi lahir. Aku tahu catatan kehamilanmu. Aldi lahir dua bulan lebih cepat dari seharusnya. Dia lahir saat pernikahan kita berumur tujuh bulan.”

Ria semakin terisak dalam tangisnya.

“Tapi jujur aku sangat bahagia mendengar tangisan Aldi, aku menjadi seorang ayah Ria, seorang ayah.” Tanpa diminta, air mata membanjiri pipiku.

“Malam itu aku menjadi ayah, walau Aldi bukan darah dagingku, Ria.”

Aku memeluk erat Ria. Menyisakan suara tangis dilangit-langit rumah ini.

“Aku menyayangimu dan juga Aldi. Kalian tetap menjadi bagian terpenting dalam hidupku. Hapus air matamu Ria.

Kita isi rumah sederhana ini dengan canda tawa. Kita rawat Aldi dengan baik, supaya kelak, dia bisa berbuat banyak hal untuk membuat kita bahagia.”

Tangisan sempurna membanjiri rumah sederhana ini.

Kenapa aku bisa melewati semua ini? kenapa aku bisa menyayangi Aldi meski bukan anakku? Yang pasti aku peduli pada Ria dan Aldi. Aku tidak ingin hidup mereka hancur. Dulu ibuku bunuh diri, selang beberapa jam setelah aku lahir. Tragisnya, dia membuangku di depan masjid. Sebelum tangisanku kering, beruntung ada yang memungutku, menyimpan aku di panti asuhan. Berkatnya, aku bisa tumbuh hingga sekarang. Namun, terlepas dari apa pun alasannya, aku sangat bahagia, mereka ada di hidupku.

Jika aku bisa menyayangi kucing yang tidak memiliki hubungan darah denganku, kenapa pula aku tidak bisa menyayangi Aldi, yang dilahirkan dari rahim seorang perempuan yang amat aku cintai.

Terimakasih telah mendengar ceritaku. Tak apa jika kau terlihat bingung dan tidak mengerti. Simpan saja semua pertanyaanmu itu. Sekali lagi terima kasih.

 

 

Biodata Penulis: Nasrul M. Rizal lahir ke bumi 22 tahun silam, tepatnya 27 Agustus 1995, di Garut. Saat ini sedang berusaha menamatkan studinya pada Program Studi Pendidikan Ekonomi UPI. Beberapa cerpennya telah dimuat di berbagai media seperti nusantaranews.co, florres Sastra, readzonekami.com, litera.co.id, buanakata.com, kafe-kopi.com. Aktif di komunitas kepenulisan, yang diisi oleh orang-orang galau dan jomblo, KAFE KOPI. Bisa dikepoin melalui: [email protected]

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Terpopuler