Connect with us

Budaya / Seni

6 Sajak WS Rendra Penggedor Hati Baja Penguasa

Published

on

Ilustrasi Rendra Baca Sajak di Awan/Ilustrasi nusantaranews/latar by isahorreg

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Delapan tahun sudah Penyair besar Indonesia WS Rendra berpulang ke Rumah Tuhan. Delapan tahun pula, Rendra hadir sebagai getar batin dari sajak-sajak yang ia tulis dan dibaca oleh para pecinta, pengagung, sahabat, keluarga, dan siapa saja yang sempat membacanya. Rendra, si burung merak, ia menulis sajak untuk membela kebenaran. Ia tegas dan tidak ada kompromi bagi ketidakadilan. Karenanya, di masa hidupnya ia begitu lantang memprotes sistem pemerintahan.

Untuk mengetuk pintu jiwa dan hati yang masih ada, redaksi nusantaranews.co memilihkan beberapa sajak almarhum WS Rendra yakni “Kesaksian Akhir Abad”, “Orang-Orang Miskin”, “Sajak Sebatang Lisong”, “Kecoa Pembangunan”, “Sajak Bulan Mei 1998 di Indonesia”, dan “Maskumambang”.

Kesaksian Akhir Abad

Ratap tangis menerpa pintu kalbuku.
Bau anyir darah mengganggu tidur malamku.
O, tikar tafakur !
O, bau sungai tohor yang kotor !
Bagaimana aku akan bisa
membaca keadaan ini?

Di atas atap kesepian nalar pikiran
yang digalaukan oleh lampu-lampu kota
yang bertengkar dengan malam,
aku menyerukan namamu:
Wahai, para leluhur Nusantara!

O, Sanjaya !
Leluhur dari kebudayaan tanah!
O, Purnawarman!
Leluhur dari kebudayaan air!
Kedua wangsamu telah mampu
mempersekutukan budaya tanah dan air!

O, Resi Kuturan ! O, Resi Nirarta !
Empu-empu tampan yang penuh kedamaian!
Telah kamu ajarkan tatanan hidup
yang aneka dan sejahtera,
yang dijaga oleh dewan hukum adat.
O, bagaimana mesti aku mengerti
bahasa bising dari bangsaku kini ?

O, Kajao Laliddo! Bintang cemerlang Tana Ugi !
Negarawan yang pintar dan bijaksana !
Telah kamu ajarkan aturan permainan
di dalam benturan-benturan keinginan
yang berbagai ragam
di dalam kehidupan:
Ade, bicara, rapang, dan wari.

O, lihatlah wajah-wajah berdarah
dan rahim yang diperkosa
muncul dari puing-puing tatanan hidup
yang porak-poranda.
Kejahatan kasat mata
tertawa tanpa pengadilan.
Kekuasaan kekerasan
berak  dan berdahak
di atas bendera kebangsaan.

O, anak cucuku di jaman cybernetic !
Bagaimana akan kalian baca
prasasti  dari jaman kami ?
Apakah kami akan mampu
menjadi ilham kesimpulan
ataukah kami justru
menjadi sumber masalah
di dalam kehidupan?

Dengan puisi ini aku bersaksi
Bahwa rakyat Indonesia belum merdeka.
Rakyat yang tanpa hak hukum
bukanlah rakyat merdeka.
Hak hukum yang tidak dilindungi
oleh lembaga pengadilan yang mandiri
adalah hukum yang ditulis di atas air !

Bagaimana rakyat bisa merdeka
bila polisi menjadi aparat pemerintah
Dan tidak menjadi aparat hukum
yang melindungi hak warga negara ?

Bagaimana rakyat bisa merdeka
bila birokrasi negara
tidak menjadi abdi rakyat,
melainkan menjadi abdi
pemerintah yang berkuasa?

Bagaimana rakyat bisa merdeka
bila  hak pilih mereka dipasung
tidak boleh memilih secara langsung
wakil-wakil mereka di dewan perwakilan,
dan juga tidak boleh memilih secara langsung
camat mereka, bupati, walikota, gubernur,
dan presiden mereka?

Dan partai-partai politik
menganggap rakyat hanya abdi partai
yang dinamakan masa politik partai!
Atau kawula partai!

Bagaiman rakyat bisa merdeka bila  pemerintah melecehkan perdagangan antardaerah
dan mengembangkan merkantilisme Daendels
sehingga rela menekan kesejahteraan buruh,
petani, nelayan, guru
dan serdadu berpangkat rendah?

Bagaimana rakyat bisa merdeka
bila  propinsi-propinsi sekedar
menjadi tanah jajahan pemerintah pusat?
Tidak boleh mengatur ekonominya sendiri,
tatanan  hidupnya sendiri,
dan juga keamanannya sendiri?

Ayam, serigala, macan, ataupun gajah,
semuanya peka pada wilayahnya.
Setiap orang juga ingin berdaulat
di dalam rumahtangganya.
Setiap penduduk ingin berdaulat
di dalam kampungnya.
Dan kehidupan berbangsa
Tidak perlu merusak daulat kedaerahan.

Baca Juga:  Sunarti Soewandi, Wanita di Balik Kebesaran Rendra dan Bengkel Teater

Hasrat berbangsa dan naluri rakyat
untuk  menjalin ikatan dayacipta antarsuku,
yang penuh keanekaan kehidupan,
dan memaklumkan
wilayah pergaulan yang lebih luas
untuk merdeka bersama.

Tetapi lihatlah selubung kabut saait ini !
Penjajahan tatanan uang,
penjajahan modal,
penjajahan kekeraan senjata,
dan penjajahan oleh partai-partai politik,
masih merajalela di dalam negara !

Dengan puisi ini aku bersaksi
bahwa sampai saat puisi ini aku tandatangani
para elit politik yang berkedudukan
ataupun yang masih berjalan,
tidak pernah memperjuangkan
sarana-sarana kemerdekaan rakyat.
Mereka hanya rusuh dan gaduh
memperjuangkan kedaulatan
golongan dan partainya sendiri.
Mereka hanya bergulat untuk posisi sendiri.
Mereka tidak peduli kepada posisi hukum,
posisi polisi, ataupun posisi birokrasi.
Dengan picik
mereka  akan mendaur-ulang
malapetaka bangsa dan negara
yang telah terjadi !

O, Indonesia ! Ah, Indonesia !
Negara yang kehilangan makna !
Rakyat sudah dirusak tatanan hidupnya.
Berarti sudah dirusak dasar peradabannya.
Dan akibatnyta dirusak pula kemanusiaannya.
Maka sekarang negara tinggal menjadi peta.
Itupun peta yang lusuh
dan  hampir sobek pula.

Pendangkalan kehidupan bangsa telah terjadi.
Tata nilai rancu.
Dusta, pencurian, penjarahan,
dan kekerasan halal.
Manusia sekedar semak belukar
yang  gampang dikacau dan dibakar.
Paket-paket pikiran mudah dijajakan.
Penalaran amanah yang salah
mendorong  rakyat terpecah belah.

Negara tak mungkin kembali diutuhkan
tanpa  rakyatnya dimanusiakan.
Dan manusia tak mungkin menjadi manusia
Tanpa dihidupkan hatinuraninya.

Hatinurani adalah hakim adil
untuk diri kita sendiri.
Hatinurani adalah sendi
dari kesadaran
akan kemerdekaan pribadi.

Dengan puisi ini aku bersaksi
bahwa  hatinurani itu meski dibakar
tidak bisa menjadi abu.
Hatinurani senantiasa bisa bersemi
meski  sudah ditebang putus di batang.
Begitulah fitrah manusia
ciptaan  Tuhan Yang maha Esa.

31 Desember 1999, Candi Ceto
6 Nop 2001, Balikpapan

Orang-Orang Miskin

Orang-orang miskin di jalan,
yang tinggal di dalam selokan,
yang kalah di dalam pergulatan,
yang diledek oleh impian,
janganlah mereka ditinggalkan.

Angin membawa bau baju mereka.
Rambut mereka melekat di bulan purnama.
Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,
mengandung buah jalan raya.

Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa.
Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya.
Tak bisa kamu abaikan.

Bila kamu remehkan mereka,
di jalan  kamu akan diburu bayangan.
Tidurmu akan penuh igauan,
dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka.

Jangan kamu bilang negara ini kaya
karena orang-orang berkembang di kota dan di desa.
Jangan kamu bilang dirimu kaya
bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.
Dan perlu diusulkan
agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.
Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.

Orang-orang miskin di jalan
masuk ke dalam tidur malammu.
Perempuan-perempuan bunga raya
menyuapi putra-putramu.
Tangan-tangan kotor dari jalanan
meraba-raba kaca jendelamu.
Mereka tak bisa kamu biarkan.

Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.
Mereka akan menjadi pertanyaan
yang mencegat ideologimu.
Gigi mereka yang kuning
akan meringis di muka agamamu.
Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap
akan hinggap di gorden presidenan
dan buku programma gedung kesenian.

Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah,
bagai udara panas yang selalu ada,
bagai gerimis yang selalu membayang.
Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau
tertuju ke dada kita,
atau ke dada mereka sendiri.
O, kenangkanlah :
orang-orang miskin
juga berasal dari kemah Ibrahim

Baca Juga:  One Day for Rendra: Mengenang Perjuangan Sastrawan Bangsa

Yogya, 4 Pebruari 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi

Sajak Sebatang Lisong

Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka

Matahari terbit.
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet,
dan papantulis-papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan.

Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang,
tanpa pilihan,
tanpa pepohonan,
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.
…………………

Menghisap udara
yang disemprot deodorant,
aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya;
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiun.

Dan di langit;
para tekhnokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas,
bahwa bangsa mesti dibangun;
mesti di-up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

Gunung-gunung menjulang.
Langit pesta warna di dalam senjakala
Dan aku melihat
protes-protes yang terpendam,
terhimpit di bawah tilam.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.

Bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya,
di bawah iklan berlampu neon,
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau,
menjadi karang di bawah muka samodra.
………………

Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.

Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.

19 Agustus 1977
ITB Bandung

KECOA PEMBANGUNAN

Kecoa Pembangunan….
Salah dagang banyak hutang…….
Tata bukunya di tulis di awan…
Tata ekonominya ilmu bintang..
kecoa…kecoa…ke…co…a…..

Dengan senjata monopoli
Menjadi pencuri….
kecoa…kecoa… ke…co…a….

Dilindungi kekuasaan…
Merampok negeri ini….
Kecoa…kecoa…ke…co…a…

Ngimpi nglindur di sangka Pertumbuhan…
Hutang pribadi di anggap Hutang Bangsa…
Suara di bungkam agar Dosa Berkuasa…
Kecoa….kecoa… ke…co…a…

Stabilitas, stabilitas katanya…
Gangsir Bank…
Gangsir Bank, Kenyataannya….
Kecoa…kecoa…ke…co…a…

Keamanan, ketenangan katanya…
Marsinah terbunuh, petani di gusur, kenyataannya….
Kecoa Pembangunan,
Kecoa bangsa dan negara
Lebih berbahaya ketimbang raja singa
Lebih berbahaya ketimbang pelacuran
Kabut gelap masa depan,
Kemarau panjang bagi harapan
Kecoa…kecoa… ke…co…a….

Ngakunya konglomerat
Nyatanya macan kandang….
Ngakunya bisa dagang,
Nyatanya banyak hutang
Kecoa…kecoa…ke..co…a…

Paspornya empat,
Kata buku dua versi…
Katanya pemerataan,
Nyatanya monopoli
kecoa…kecoa…ke…co..a…

Sajak Bulan Mei 1998 di Indonesia

Aku tulis sajak ini di bulan gelap raja-raja
Bangkai-bangkai tergeletak lengket di aspal jalan
Amarah merajalela tanpa alamat
Kelakuan muncul dari sampah kehidupan
Pikiran kusut membentur simpul-simpul sejarah

O, zaman edan!
O, malam kelam pikiran insan!
Koyak moyak sudah keteduhan tenda kepercayaan
Kitab undang-undang tergeletak di selokan
Kepastian hidup terhuyung-huyung dalam comberan

O, tatawarna fatamorgana kekuasaan!
O, sihir berkilauan dari mahkota raja-raja!
Dari sejak zaman Ibrahim dan Musa
Allah selalu mengingatkan
bahwa hukum harus lebih tinggi
dari ketinggian para politisi, raja-raja, dan tentara

O, kebingungan yang muncul dari kabut ketakutan!
O, rasa putus asa yang terbentur sangkur!
Berhentilah mencari Ratu Adil!
Ratu Adil itu tidak ada. Ratu Adil itu tipu daya!
Apa yang harus kita tegakkan bersama
adalah Hukum Adil
Hukum Adil adalah bintang pedoman di dalam prahara

Baca Juga:  Umat Islam Tidak Perlu Meromantisir Diri yang Anti Kritik

Bau anyir darah yang kini memenuhi udara
menjadi saksi yang akan berkata:
Apabila pemerintah sudah menjarah Daulat Rakyat
apabila cukong-cukong sudah menjarah ekonomi bangsa
apabila aparat keamanan sudah menjarah keamanan
maka rakyat yang tertekan akan mencontoh penguasa
lalu menjadi penjarah di pasar dan jalan raya

Wahai, penguasa dunia yang fana!
Wahai, jiwa yang tertenung sihir tahta!
Apakah masih buta dan tuli di dalam hati?
Apakah masih akan menipu diri sendiri?
Apabila saran akal sehat kamu remehkan
berarti pintu untuk pikiran-pikiran kalap
yang akan muncul dari sudut-sudut gelap
telah kamu bukakan!

Cadar kabut duka cita menutup wajah Ibu Pertiwi
Airmata mengalir dari sajakku ini.

(Sajak ini dibuat di Jakarta pada tanggal 17 Mei 1998 dan
dibacakan Rendra di DPR pada tanggal 18 Mei 1998)

Maskumambang

Kabut fajar menyusup dengan perlahan
bunga Bintaro berguguran di halaman perpustakaan
di tepi kolam, di dekat rumpun keladi
aku duduk diatas batu melelehkan airmata

Cucu-cucuku
zaman macam apa,
peradaban macam apa
yang akan kami wariskan kepada kalian.

Jiwaku menyanyikan lagu maskumambang
kami adalah angkatan pongah
besar pasak dari tiang.

kami tidak mampu membuat rencana menghadapi masa depan,
karena kami tidak menguasai ilmu untuk membaca tata buku masa lalu
dan tidak menguasai ilmu untuk membaca tata buku masa kini
maka rencana masa depan hanyalah spekulasi, keinginan, dan angan-angan

Cucu-cucuku
negara terlanda gelombang zaman edan
cita-cita kebajikan terhempas batu
lesu dipangku batu
tetapi aku keras bertahan
mendekap akal sehat dan suara jiwa
biarpun tercampak diselokan zaman

Bangsa kita kini
seperti dadu terperangkap dalam kaleng hutang
yang dikocok-kocok oleh bangsa adi kuasa
tanpa kita bisa melawannya
semuanya terjadi atas nama pembangunan
yang mencontoh tatanan pembangunan di zaman penjajahan
Tatanan kenegaraan dan tatanan hukum
juga mencontoh tatanan penjajahan
menyebabkan rakyat dan hukum hadir tanpa kedaulatan
Yang sah berdaulat hanya pemerintah dan partai politik

o comberan peradaban,
o martabat bangsa yang kini compang-camping
negara gaduh, bangsa rapuh
Kekuasaan kekerasan meraja lela
Pasar dibakar, kampung dibakar,
gubuk-gubuk gelandangan dibongkar
tanpa ada gantinya
semua atas nama tahayul pembangunan.

restoran dibakar, toko dibakar, gereja dibakar,
atas nama semangat agama yang berkobar
Apabila agama menjadi lencana politik
maka erosi agama pasti terjadi
karena politik tidak punya kepala,
tidak punya telinga, tidak punya hati,
politik hanya mengenal kalah dan menang
kawan dan lawan,
peradaban yang dangkal

Meskipun hidup berbangsa perlu politik,
tetapi politik
tidak boleh menjamah kemerdekaan iman dan akal
didalam daulat manusia
namun daulat manusia
dalam kewajaran hidup bersama di dunia
harus menjaga daulat hukum alam,
daulat hukum masyarakat
dan daulat hukum akal sehat

Matahari yang merayap naik dari ufuk timur
telah melampaui pohon dinding
udara yang ramah menyapa tubuhku
menyebarkan bau bawang yang digoreng di dapur
berdengung sepasang kumbang yang bersenggama

Catatan: Puisi-puisi WS Rendra di atas diambil dari berbagai sumber buku antologi puisi WS Rendra dan sebagian dari website. (SS)

Loading...

Terpopuler