Berita UtamaLintas NusaTerbaru

4 Tahun Natal, William Wandik: Orang Asli Papua Tak Menemukan Kedamaian di Papua

4 Tahun Natal, William Wandik: Orang Asli Papua Tak Menemukan Kedamaian di Papua
4 Tahun Natal, William Wandik: Orang asli Papua tak menemukan kedamaian di Papua.

NUSANTARANEWS.CO, Papua – Dalam perayaan Natal di bulan Desember Tahun 2021 ini, suasana perayaan terasa berbeda di 4 Kabupaten di Tanah Papua, tidak seperti perayaan Natal di tahun-tahun yang damai, dimana setiap keluarga OAP (Orang Asli Papua) dapat pulang berkumpul bersama keluarga.

Mereka memetik hasil kebun dari kebun sendiri, mempersembahkan perjamuan makan terbaik dari hasil peternakan sendiri, untuk merayakan hari lahirnya “Yesus Kristus” yang menjadi Juruselamat bagi umat di seluruh dunia, dengan suka-cita dan perasaan yang penuh syukur karena telah diberi banyak berkat selama 12 bulan dalam setahun.

“Sejak empat tahun yang lalu, dalam momentum perayaan Natal pada akhir tahun 2018, operasi militer dimulai di wilayah Nduga, Tanah Papua. Status Quo, “operasi militer” hingga Desember 2021 ini tidak menunjukkan pertanda akan berakhir,” kata Ketua Umum DPP GAMKI (Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia) William Wandik saat dikonfirmasi, Selasa (28/12).

Baca Juga:  Juara Umum Krida Internasional SH Terate Cup 2022 Direbut DKP Madiun

Dikatakan oleh Wandik, di Tanah Papua, situasi berbeda justru terjadi pada setiap perayaan Natal, di mana aksi saling balas dendam, saling menumpahkan darah, antara kelompok bersenjata versus aparat personil militer dan kepolisian, terus berlanjut. Korban tewas dari dua belah pihak terus bermunculan, seperti menghitung angka-angka kematian yang telah lazim diwartakan oleh media nasional.

“Suasana operasi militer di Tanah Papua selalu digambarkan sebagai peristiwa penegakan kedaulatan oleh personil militer dan kepolisian, “kampanye nilai-nilai heroisme” melawan para pemberontak. Padahal, di balik konflik bersenjata tersebut ada ratusan ribu/hingga jutaan OAP yang tersebar di 4 Kabupaten yang menjadi basis operasi militer, tidak merasakan suka-cita perayaan Natal,” terangnya.

Dikatakan oleh Wandik, lazimnya, dalam perayaan Natal setiap keluarga akan berkumpul bersama. Kerabat dan handai-taulan yang tinggal berjauhan datang berkumpul bersama di kampung halaman, anak-anak akan mencari orang tua dan orang-orang tua akan memberikan hadiah kepada anak-anaknya.

Dalam sudut pandang teologi Kristen,sambung politisi senayan ini, Tuhan Yesus hadir di tengah-tengah manusia yang beriman dan percaya untuk menebus dosa-dosa manusia, memberikan pengampunan kepada para pembuat dosa dan makar, dengan cukup mengimani kelahiran-Nya.

Baca Juga:  Regulasi Robot Trading di Indonesia Belum Jelas, Masyarakat Bisa Jadi Korban

Perayaan Natal yang sebelumnya ramai dengan dekorasi lampu hias dan pohon Natal di sudut-sudut rumah dan kampong, kata William Wandik kini gelap gulita, berganti dengan suasana horor dan menakutkan akan adanya peristiwa berdarah yang terus berlangsung dari hari ke hari.

“Bagi mereka yang tidak merasakan bagaimana kampung-kampung mereka dijadikan basis operasi militer, tentunya akan mudah mengatakan bahwa kehadiran aparat militer dan kepolisian dalam tugas operasi militer adalah untuk memberikan jaminan keamanan,” terangnya.

Dibeberkan olehnya, di sepanjang 4 kali perayaan Natal, sejak Natal di tahun 2018 hingga perayaan di tahun 2021 ini, suasana kedamaian, suka-cita, dan suasana religius dalam merayakan hari Natal tidak pernah dirasakan oleh OAP (Orang Asli Papua).

“Justru yang terjadi adalah teror ketakutan yang terus menghantui kehidupan masyarakat di kampung-kampung, yang selama beberapa tahun bahkan membangun pelayanan di gereja sekalipun tidak dapat dilakukan karena umat harus hidup berpindah-pindah dari dan ke shelter pengungsian untuk sekedar mencari rasa aman,” jelasnya.

Baca Juga:  H Herman Apresiasi Aksi Pembentangan Bendera Merah Putih di Atas Perairan Sebatik

Dengan fakta-fakta tersebut, kata Wandik, GAMKI menyatakan sikap terutama kepada Presiden, Panglima TNI, dan Kepala Kepolisian Republik Indonesia, bahwa karena umat Kristen di Tanah Papua telah mendapatkan jaminan keselamatan seperti yang dijanjikan dalam Al-Kitab, namun perayaan Natal di “Tanah Injil” Tanah Papua terus dihantui dengan kebijakan operasi militer yang telah menciptakan konflik berdarah selama 4 kali perayaan Natal, maka tentunya Tuhan juga akan mengadili sikap para pemimpin di negeri ini yang telah menumpahkan darah di Tanah Injil, Tanah Papua.

“Sepanjang pertumpahan darah terus mewarnai hari-hari perayaan Natal di Tanah Papua, maka selama itu pula kedamaian di seluruh pelosok Indonesia tidak akan pernah baik-baik saja.Setiap darah umat yang percaya terhadap Tuhan Yesus Kristus yang tumpah di wilayah pelayanan gereja di Tanah Papua, akan menjadi satu alasan penyebab hadirnya bencana di tempat lain di Republik ini,” tutupnya. (setya)

Ikuti berita terkini dari Nusantaranews di Google News, klik di sini.

Related Posts

1 of 3,049