Ekonomi lesu
(Foto: Ilustrasi/Via Ray White/RW)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Betapa pun kerasnya Menteri Perdagangan (Mendag) membantah fakta tentang penurunan daya beli masyarakat, hal itu akan terpatahkan dengan sendirinya oleh kenyataan dan realitas di lapangan. Artinya, menurunnya daya beli masyarakat pertanda perekonomian Indonesia sedang lesu dan tidak bergairah.

Menurut Direktur Eksekutif Indonesia Development Monitoring (IDM) Bin Firman Tresnadi, ada beberapa hal yang menjadi penyebab utama dari kelesuan ekonomi saat ini.

“Fokus pemerintah terhadap infrastruktur menyebabkan kemandekan di banyak sektor. Hal ini disebabkan proyek infrastruktur Jokowi ini bersifat jangka panjang dan lambat balik modal,” kata dia kepada NusantaraNews.co di Jakarta, Kamis (21/9/2017).

Kedua, kata Bin Firman, populasi masyarakat yang semakin meningkat di usia produktif tidak di iringi dengan akses lapangan kerja yang setimpal, menyebabkan banyaknya pengangguran terselubung.

“Bahkan banyak perusahaan yang gulung tikar seperti Sido Muncul dan beberapa perusahaan ritel,” katanya.

Ketiga, ketika PHK terjadi di mana-mana, maka banyak orang yang memutuskan untuk membuka usaha. Semakin lama waktu berjalan, semakin banyak UKM-UKM yang beroperasi. Hal itu menimbulkan persaingan yang sengit, di mana penghasilan mereka akan ‘terbagi-bagi’ lantaran banyaknya usaha yang jalan. Apalagi kalau jumlah penjual lebih banyak ketimbang jumlah pembeli, maka akan banyak penjual yang harus menutup usahanya.

“Para pemilik modal, menunggu regulasi yang tepat dari pemerintah. Alhasil, mereka pun menahan dana mereka sebelum diinvestasikan. Dengan mandeknya investasi, membuat perusahaan-perusahaan kekurangan dana segar untuk ‘bertahan hidup’. Padahal di saat seperti ini, banyak perusahaan yang membutuhkan suntikan dana agar tetap beroperasi. Alhasil, perusahaan pun terpaksa melakukan efisiensi bahkan PHK,” kata dia menyebutkan poin keempat.

Bin Firman menjelaskan, efek domino pun terjadi, ketika semuanya serba sulit maka tingkat belanja masyarakat semakin menurun. Dengan menurunnya tingkat belanja, maka dunia usaha kehilangan ‘omset’ yang lumayan besar. Seperti yang sudah ditebak, kalau dunia usaha kehilangan ‘omset’, maka kebangkrutan tinggal menunggu waktu.

“Sungguh mengerikan memang, lesunya perekonomian Indonesia tahun ini. Jika Jokowi tidak punya gebrakan yang bisa membuat ekonomi ini membaik, jangan harap dia bisa dua periode,” terangnya.

Terakhir, Bin Firman menyebutkan bahwa proyek infrastruktur Jokowi itu padat modal, bukan padat karya. (ed)

(Editor: Eriec Dieda)

Komentar