3 Buah Cerita Bohong Dari Penulis Autobiografi (Bag. III)

lukisan ekspresiesme (Ilustrasi). Foto: Dok. huseinaremania
lukisan ekspresiesme (Ilustrasi). Foto: Dok. huseinaremania

Cerpen: Agus Hiplunudin

(3)

Aku segara kembali ke tempat antrian, namun antrianku masih lama. Aku penasaran juga pada perempuan cantik yang kata Kiai Haji Kasiman, akan masuk neraka itu.

“Hai Nona!” sapaku padanya.

“Ia, siapa kau?” tanyanya sedangkan mukanya bermuram durja.

“Aku pembuat autobiografi. Akan mewawancarai Nona.”

Perempuan itu tak lantas mengiakan, namun tercenung sejenak, selanjutnya ia menganggukkan kepala, pertanda setuju.

“Siapa nama Nona, juga tempat tanggal lahir Nona?”

“Namaku, Sondari, aku asal Banten, kelahiran 19….” jawabnya, tak bersemangat.

“Kenapa saudari Sondari, bermuram durja?”

“Kang, taukah Akang, aku ini seorang pelacur. Itu apa artinya?”

Aku menggelengkan kepala.

“Kang, seorang pelacur setelah diadili oleh Tuhan, mukanya akan menghitam seperti dibakar, dari vaginanya keluar nanah yang bukan main baunya, serta vaginanya itu, akan ditusuk besi berasal dari api neraka,” Sondari menjelaskan.

Dan aku bergidik ngeri.

Tibalah, giliran Sondari dihadapkan pada pengadilan Tuhan. Sondari terlihat kuyu, barangkali ia sudah pasrah untuk menghuni neraka.

“Kau Sondari?” kata Tuhan dengan suara-Nya Yang Maha Agung.

“Kau pelacur’kan?”

“Kau Maha Tahu Tuhanku.”

“Kau yang memberi minum anjing yang sedang kehausan itu’kan?”

“Aku sudah tak ingat lagi Tuhanku.”

“Ya, kau memang hamba-Ku yang memiliki keikhlasan. Atas karenanya, sebagai ganjarannya; kau layak masuk surga,” kata Tuhan dengan suaranya, Yang Maha Lembut, dan keputusannya Yang Maha Adil.

Seketika, muka Sondari tampak bahagia, gurat senyumnya mengembang, parasnya tak menyiratkan kesedihan sedikit pun. Kemudian, Sondari diapit oleh dua malaikat tampan, barangkali mengantarnya menuju surga. Aku pun bergeming, hendak hati mengikutinya. “Hei kau hendak ke mana?” sergah sesosok bertubuh putih dan bercahaya, tentunya ia sesosok malaikat. “Sekarang tiba giliranmu, dihisab oleh Tuhan,” sambungnya, membuat tubuhku melemas, bagaikan kapas tersiram air.

Baca Juga:  Menhan: Pancasila ini Rahmat dan Hidayah dari Allah

“Hai kau!”

“Ya aku Tuhanku.”

Terlintas saja dalam pikiranku, jika gelar ‘kiai haji’ tidak ada nilainya di mata Tuhan, barangkali gelar akademik memiliki makna tersendiri bagi Tuhan. Oleh karenanya, dengan sepontan aku berujar:

“Tuhanku, namaku Diaz. Aku pencinta ilmu selagi aku hidup di dunia. Karenanya aku mengenyam pendidikan hingga berjenjang-jenjang, S1 lulus, S2 lulus, hingga S3 lulus dengan sempurna. Oleh karenanya mentereng saja gelar doktor di depan namaku, dan orang-orang memanggilku, dengan panggilan DR Diaz.”

“Tak perlu bagiku gelar-gelar akademik itu,” sergah Tuhan, melemaskanku.

“Kau pembuat autobiografi itu’kan?” tanya Tuhan Yang Maha Tahu, pertanyaan di mana jawabannya—sebenarnya telah diketahui-Nya.

“Ia Tuhanku.”

“Kau telah membuat ratusan autobiografi pejabat’kan: dari mulai anggota DPRD, bupati, gubernur, calon mentri, mentri, hingga persiden.”

“Ia Tuhanku, Yang Maha Tahu,” sanjungku, sedikit membujuk, jika di dunia sanjungan cukup ampuh meluluhkan hati orang, barangkali Tuhan pun demikian.

“Kau, membuat autobiografi mereka (para penguasa dan penggila dunia)—hanya menuliskan yang baik-baiknya saja’kan. Sedangkan, keburukan-keburukan mereka engkau sembunyikan’kan,” Tuhan dengan suara-Nya yang mengguntur.

Akupun tidak bisa membela diriku, memang seperti itu pekerjaanku—sebagai penulis autobiografi aku harus mencitrakan orang yang memakai jasaku itu sedemikian rupa (dituislah hanya yang baik-baik saja, bahkan dengan banyak kebohongan). Dalam pikirku, seandainya masih di dunia barangkali aku dapat mengelak dari semua dakwaan, sebab beberapa kali terbukti aku mengelak di muka hakim dan di antaranya berhasil di antaranya lagi dapat diselesaikan dengan uang—dengan mudahnya. Namun, di hadapan Tuhan—mustahil rasanya aku mengelak, mustahil juga menyogok Tuhan.

“Wahai, kau penulis autobiografi; kau pun masuk neraka!!” demikian keputusan Tuhan Yang Maha Adil dan Maha Bijaksana.

Baca Juga:  Sektor Pertambangan Batubara Jadi Bancakan Elite Politik Selama 20 Tahun Terakhir

“Tuhan, bolehkah aku membuatkan autobiografi teruntuk-Mu?” kataku dalam ketakutan, maksud hati siapa tahu Tuhan pun seperti manusia, ingin dibuatkan autobiografi—agar terkenal.

“Apakah kau tak pernah membaca kitab suciku?” Tuhan Yang Maha Tahu mengujiku dengan suatu tanya.

“Aku membacanya, Tuhanku. Dalam kitab suci-Mu itu, Kau bilang bahwa Kau adalah Tuhan Yang Maha Esa. Kau tidak beranak tidak pula diperanakan. Kau tidak dapat disamakan dengan makhluk apapun (ciptaan-Mu). Kau tempat meminta dan memohon pertolongan,” paparku, dengan nada suara berketar dan memelas untuk dikasihani.

Tak dapat ditawar-tawar lagi. Dengan sigap. Sesosok malaikat menyeretku, namun kali ini aku tersenyum, sebab terbayang saja dalam benakku, di dalam neraka itu, aku tak sendirian—aku akan berjumpa dengan kawan-kawan seprofesiku, para penulis autobiografi.

Selesai

Lebak, 6 Agustus 2017

Agus Hiplunudin, lahir di Lebak-Banten, 1986. Ia lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Serang-Banten, Jurusan ADM Negara sudah lulus dan bergelar S. Sos. Dan, pada April 2016 telah menyelesaikan studi di sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Jurusan Ketahanan Nasional, bergelar M. Sc. Kini bergiat sebagai staf pengajar Mata Kuliah Filsafat Ilmu dan Etika Administrasi Negara di STISIP Stiabudhi Rangkasbitung. Sekaligus sebagai Direktur Eksekutif SAF (Suwaib Amiruddin Foundation) periode 2017-2019. Adapun karya penulis yang telah diterbitkan: yakni: Politik Gender (2017) Politik Identitas dari Zaman Kolonialis Belanda hingga Reformasi (2017), Politik Era Digital (2017), Kebijakan, Birokras, dan Pelayanan Publik (2017), Filsafat Eksistensialisme (2017)—diterbitkan oleh Grahaliterata Yogyakarta. Adapun karya sastra dalam bentuk cerpen yang telah diterbitkan di antaranya: Yang Hina dan Teraniaya (2015 Koran Madura), Perempuan Ros (2015 Jogja Review), Peri Bermata Biru (2015 Majalah Sagang), Audi (2015 SatelitePost) Demi Suap Nasi (2015 Koran Madura), Filosofi Cinta Kakek (2017, Biem.co), Ustadz dan Kupu-kupu Malam (2017, Biem.Co). Aroma Kopi dan Asap Rokok (NusantaraNews, 2017) tercecer pula dalam buku antologi kumcer. Adapun novelnya yang telah terbit; Dendam yang Indah (2017, JejakPublisher.

Baca Juga:  Andi Arief Diciduk Karena Narkoba, Arief Poyuono: Tidak Perlu Dipolitisasi

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]