3 Buah Cerita Bohong Dari Penulis Autobiografi (Bag. I)

Ilustrasi. hronika.info
Ilustrasi. hronika.info

Cerpen: Agus Hiplunudin

(1)

Sebagai penulis autobiografi, instingku terdidik untuk cepat bekerja jika ada seseorang yang memintaku untuk menuliskan tentang perjalanan hidupnya—secara individu (auto). Entah itu kisah politiknya, bisnisnya, atau apalah yang berhubungan dengan sepak terjangnya yang kemudian menghasilkan kesuksesan besar baginya yang mungkin menginspirasi orang yang membaca autobiografi tersebut. Namun, yang lebih karap; aku dimintai untuk membuat autobiografi para politisi dari mulai anggota DPRD hingga presiden. Adapun tujuan dari autobiografi tersebut; terutama bagi para politisi agar mereka dikenal baik oleh masyarakat—pemilih mereka, dalam autobiografi itu sang politisi dicitrakan sebagai manusia setengah Dewa. Dan yang paling aku senangi dari beliau-beliau itu, mereka sangatlah royal, dari merekalah selama aku hidup di dunia memiliki harta yang lumayan, atas uang mereka pula aku membeli rumah dua lantai, bebera mobil di antaranya tergolong mewah, dan aku memiliki beberapa benda koleksi berharga semisal arloji Kolumbus made in Spanyol, asli. Dan lagi, terima kasih pada mereka (orang-orang yang telah dibuatkan autobiografinya olehku), sebab merekalah aku terhindar dari kemiskinan yang menakutkan selagi aku hidup di dunia.

Setelah aku mati, minatku untuk membuat autobiografi itu tetap kuat. Namun, kali ini ada hal yang berbeda; selagi aku hidup di dunia motivasinya adalah uang, namun lain halnya setelah kumati—menulis autobiografi demi kepuasan diri sendiri saja.

Aku celingukan di tengah-tengah jubelan berjuta-juta orang yang mati, ada yang mati karena terlindas truk gendengen, dibunuh, lanjut usia, narkoba, penyakit kelamin, dan banyak lagi penyebabnya. Namun yang pada mati tersebut telah dibangkitkan kembali oleh Tuhan, dalam pikirku: betapa banyaknya orang mati di setiap harinya, aku berdecak.

Baca Juga:  Femonena Golput Hantam Telak Kubu Jokowi

Tampak olehku, sesosok bertibuh putih dan bercahaya menghampiriku, aku yakin, ia adalah malaikat. “Hai kau malaikat ya?” sapaku, sebelum ia menyapaku—aku menyapa duluan, “Ia, kau betul,” jawabnya sambil tersenyum, sungguh senyumannya itu dapat menyejukkan kalbu, pula dengan sorot matanya, begitu hening, seakan firdaus berada di sana. Aku ingat cerita-cerita dari ustadz bahwa semua malaikat itu baik, sehingga timbul keberanianku untuk bertanya padanya.

“Bolehkah aku bertanya?” kataku. “Boleh, “ jawabnya. Dalam pikirku, ternyata benar, bahwa semua malaikat itu baik.

“Bolehkah saya meminta sesuatu?” kataku.

“Oh, kenapa tidak!” jawabnya, sangat ramah.

“Aku ingin membuat autobiografi?”

“Silakan. Oh, kamu penulis autobiografi itu ya? Yang mati karena didor (ditembak) tentara itu ya, karena orang yang kau bautkan autobiografinya ternyata seorang komunis, dan kau kena getahnya,” ujar malaikat itu.

“Kau betul,” kataku.

“Di sini kau tak usah takut, di sini semua perbedaan idiologi baik Komunis, Kapitalis, Fasis, Islamis, Kristenis, atau Yahudinis—semuanya sama di hadapan Tuhan, yang membedakan cuma kadar ketakwaannya,” penjelasan malaikat itu.

Sempat terpikirkan olehku, jangan-jangan Tuhan memiliki universitas, buktinya malaikat ini, tahu betul tentang idiologi—baik yang bersumber dari sosial politik maupun yang bersumber dari suatu agama tertentu, di mana mereka sepanjang hayat gontok-gontokan di dunia.

“Lantas siapa yang hendak kau buatkan autobiografinya?” sambungnya.

“Nenek moyang umat manusia!” jawabku.

“Oh, silakan kalau begitu. Mari ikuti aku.”

Kemudian malaikat itu beranjak dan aku mengekor, di belakangnya. Di bawalah aku pada sebuah tempat yang lengang dan sepi. “Silakan. Aku akan melanjutkan pekerjaanku,” ujar malakait itu—ia berlalu meninggalkanku.

Tampak olehku, seorang perempuan sedang duduk di bawah sebuah pohon besar yang rindang daunnya, lebat bunga serta buahnya. Perempuan tersebut sedang asyik mengunyah, ia menikmati kelezatan buah qhaldi. Itu pasti Nenek, tapi di manakah Kakek? Tanya dalam hatiku..

Baca Juga:  Ini Permintaan Sutopo Sebelum Meninggal Kepada Najwa Shihab

Aku mengedarkan tatapanku, menyapu sekitaran pohon qhaldi, tak jauh dari situ terdapat sebuah saung. Kemudian, terdengar olehku, Nenek memanggil Kakek, dan Kakek segera keluar dari saung tersebut, kini Nenek tidak sendirian, ia berhasil membujuk rayu Kakek untuk menikmati buah qhaldi, bersama-sama.

…. Bersambung ….

Agus Hiplunudin, lahir di Lebak-Banten, 1986. Ia lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Serang-Banten, Jurusan ADM Negara sudah lulus dan bergelar S. Sos. Dan, pada April 2016 telah menyelesaikan studi di sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Jurusan Ketahanan Nasional, bergelar M. Sc. Kini bergiat sebagai staf pengajar Mata Kuliah Filsafat Ilmu dan Etika Administrasi Negara di STISIP Stiabudhi Rangkasbitung. Sekaligus sebagai Direktur Eksekutif SAF (Suwaib Amiruddin Foundation) periode 2017-2019. Adapun karya penulis yang telah diterbitkan: yakni: Politik Gender (2017) Politik Identitas dari Zaman Kolonialis Belanda hingga Reformasi (2017), Politik Era Digital (2017), Kebijakan, Birokras, dan Pelayanan Publik (2017), Filsafat Eksistensialisme (2017)—diterbitkan oleh Grahaliterata Yogyakarta. Adapun karya sastra dalam bentuk cerpen yang telah diterbitkan di antaranya: Yang Hina dan Teraniaya (2015 Koran Madura), Perempuan Ros (2015 Jogja Review), Peri Bermata Biru (2015 Majalah Sagang), Audi (2015 SatelitePost) Demi Suap Nasi (2015 Koran Madura), Filosofi Cinta Kakek (2017, Biem.co), Ustadz dan Kupu-kupu Malam (2017, Biem.Co). Aroma Kopi dan Asap Rokok (NusantaraNews, 2017) tercecer pula dalam buku antologi kumcer. Adapun novelnya yang telah terbit; Dendam yang Indah (2017, JejakPublisher.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Baca Juga:  Ziarah Situs Sejarah Tempo Dulu Edisi Keraton Kacirebonan