Connect with us

Ekonomi

129 Miliar Dolar Kerugian Ekonomi Akibat Cuaca Ekstrem

Published

on

Bencana banjir di daerah Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Sabtu (7/10/2017). (Foto: Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO – Cuaca ekstrem dinilai telah menyebabkan kerugian ekonomi sebesar 111 miliar euro pada tahun 2016 lalu. Kenyataan ini mendesak diberlakukannya undang-undang guna menghadapi perubahan iklim yang dapat meningkatkan kekeringan, badai dan banjir.

Sebuah laporan menyebutkan sejak 2010 hingga 2016, telah terjadi peningkatan sebesar 46 persen bencana cuaca, menutu penelitian yang diterbitkan dalam jurnal medis Lancet.

“Ini mengakibatkan kerugian finansial secara keseluruhan sebesar $ 129 miliar, sebuah angka yang kira-kira setara dengan anggaran Filandia,” kata hasil penelitian tersebut.

Kerugian dihitung sebagai kerusakan pada aset fisik dan tidak termasuk “nilai ekonomi” kematian, cedera atau penyakit yang disebabkan oleh kejadian ekstrem.

Namun, peningkatan bencana cuaca yang teramati dalam beberapa tahun terakhir, kata laporan tersebut, belum dapat secara pasti dikaitkan dengan perubahan iklim.

Tapi, fakta yang ditemukan mungkin masuk akal jika ditafsirkan menunjukkan bagaimana perubahan iklim mengubah frekuensi dan tingkat keparahan akibat kejadian tersebut.

Ilmuwan iklim enggan menyalahkan kejadian cuaca tertentu pada pemanasan global, sebuah fenomena yang masih perlu dipantau selama beberapa dekade.

Keuangan negara-negara miskin secara tidak proporsional terpukul keras, kata laporan yang disusun oleh para ahli dari 24 institusi akademis dan badan antar pemerintah termasuk Organisasi Kesehatan Dunia dan Organisasi Meteorologi Dunia.

Kerugian mereka dari kejadian cuaca aneh lebih dari tiga kali lebih tinggi pada tahun 2016 dibanding 2010, dan sebagai proporsi PDB, jauh lebih besar daripada di negara-negara kaya.

Di negara-negara berpenghasilan tinggi, sekitar setengah dari kerugian ekonomi diasuransikan, dibandingkan dengan kurang dari satu persen di negara-negara miskin, tulis kantor berita AFP.

Para peneliti menghitung bahwa kenaikan suhu menyebabkan hilangnya sekitar 5,3 persen produktivitas tenaga kerja di pekerja luar ruangan sejak tahun 2000.

Baca Juga:  Prancis Sahkan UU Larangan Pengeboran Minyak dan Gas

Pada periode yang sama, jumlah orang yang rentan terkena gelombang panas – menempatkan mereka pada risiko sengatan panas, gagal jantung atau dehidrasi – meningkat sekitar 125 juta.

Meningkatnya merkuri juga menyebabkan kenaikan 10 persen sejak tahun 1950 dalam penyebaran “kapasitas vektor” nyamuk yang membawa virus dengue yang berpotensi mematikan.

“Perubahan iklim diperkirakan akan berdampak pada produksi tanaman pangan, dengan kenaikan suhu satu derajat Celsius yang terkait dengan penurunan enam persen dalam hasil gandum global dan penurunan hasil panen padi sebesar 10 persen,” kata sebuah pernyataan di Lancet.

Negara-negara di dunia telah berjanji untuk membatasi pemanasan global rata-rata yang disebabkan oleh emisi gas-gas bahan bakar fosil manusia, sampai dua derajat Celsius (3,6 derajat Fahrenheit) dari tingkat Revolusi Pra-Industri.

Di atas risiko hidup, anggota badan dan properti dari gelombang panas, banjir dan badai, serta penyebaran penyakit yang terbawa air dan serangga pembawa penyakit, perubahan iklim juga dapat menimbulkan bahaya kesehatan jangka panjang, kata laporan tersebut.

“Memang, bukti yang muncul menunjukkan adanya hubungan antara meningkatnya insiden penyakit ginjal kronis, dehidrasi, dan perubahan iklim,” kata para peneliti.

Para ahli yang mengomentari laporan tersebut setuju bahwa diperlukan penelitian lebih lanjut untuk secara jelas mengaitkan dampak kesehatan terhadap perubahan iklim. (ed)

Editor: Redaksi/NusantaraNews

Terpopuler