Peneliti YLKI Eva Rosita pada acara Talkshow 'Menyoal Tingkat Keamanan Pada Buah', di Jakarta, Senin, (5/12/2016)/Foto Andika / NUSANTARAnews
Peneliti YLKI Eva Rosita pada acara Talkshow 'Menyoal Tingkat Keamanan Pada Buah', di Jakarta, Senin, (5/12/2016)/Foto Andika / NUSANTARAnews

NUSANTARANEWS.CO – Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) baru saja melakukan survei terkait peredaran buah di Jakarta. Dari buah yang telah disurvei minim informasi sehingga rawan untuk dikonsumsi.

Peneliti YLKI Eva Rosita mengatakan, telah melakukan survei mulai September 2016. Survei dilakukan pada lima pasar yang terdiri dari tiga ritel modern dan dua pasar tradisional.

YLKI melakukan survei 20 sampel buah yang terdiri 11 buah impor dan 9 buah lokal. Hasilnya, terkait label untuk buah impor hanya 63 persen diketahui dan buah lokal hanya 36 persen.

“Informasi didapatkan minim, hanya informasi pada buah sendiri hanya 63 persen, lokal 36 persen yang diiketahui,” ujar Eva Rosita dalam acara ‘Menyoal Keamanan pada Buah Segar’ di Cikini Jakarta, Senin (5/12/2016).

Eva mengatakan, untuk buah impor hanya 66 persen yang diketahui negara asalnya.

“Hanya 66 persen produk buah impor yang diketahui asal negaranya. Itu pun tercantum buahnya. Masih bingung juga apakah benar-benar dari negara asal, atau bibitnya saja dan ditanam di sini,” ucap dia.

Menurutnya, dari pengujian residu pestisida baik buah lokal dan impor tidak menunjukan ada residu pestisida jenis organofosfat.

“Tidak terdeteksi pestisida namun kita ketahui macam-macam pestisida sangat banyak bukan hanya organofosfat, tapi pestisida lain bisa jadi karena belum diketahui,” tutur Eva. (Andika)

Komentar