Berita Utama

Yaman-Arab Sejatinya Pertarungan Amerika dengan China

Peta Yaman/Foto Istimewa/Nusantaranews
Peta Yaman/Foto Istimewa/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Tulisan Prof Michel Chossudovsky berjudul Yemen and The Militarization of Strategic Waterways yang dipublikasi pada tahun 2010 silam tampaknya masih sangat relevan sebagai pisau analisis untuk membaca situasi geopolitik yang berkembang saat ini. Dimana kepulauan Socotra di Yaman merupakan salah satu titik penting dalam menegakkan supremasi jalur perdagangan dunia.

Menurut Chossudovsky, posisi Socotra yang berada di persimpangan saluran air Laut Merah dan Teluk Aden membuat kepulauan Socotra begitu istimewa. Wajar jika Amerika Serikat (AS) begitu termehek-mehek dengan wilayah ini. Sehingga membangun pangkalan militer besar-besaran di sana. Tentu saja karena letaknya yang sangat strategis dan sangat menguntungkan dalam menancapkan supremasi maritim di halaqah Samudra Hindia.

Kepulauan Socotra Yaman di Samudera Hindia terletak sekitar 80 kilometer di lepas pantai Tanduk Afrika dan 380 kilometer selatan dari garis pantai Yaman. Pulau Socotra merupakan suaka margasatwa yang oleh UNESCO disebut sebagai Situs Warisan Alam Dunia.

Bahkan Perwira Angkatan Laut Amerika Serikat sekaligus seorang ahli geostrategic Alfred Thayer Mahan (1840-1914) dalam hipotesanya sebagaimana dikutip Chossudovsky mengatakan siapa pun yang mencapai supremasi maritim di Samudra Hindia akan menjadi pemain utama di kancah dunia internasional.

Dalam hal ini militer AS sangat  ambisius untuk menguasai wilayah ini mengingat jalur perairan di Socotra menjadi penghubung strategis dari Mediterania ke Asia Selatan dan Timur Jauh, melalui Terusan Suez, Laut Merah dan Teluk Aden. Karena ini merupakan rute transit utama dari kapal tanker minyak seluruh dunia.

Sebagimana diketahui bahwa sebagian besar ekspor industri Cina ke Eropa Barat misalnya, juga melakukan transit melalui perairan ini. Jalur perdagangan maritim dari Afrika Timur serta Selatan ke Eropa Barat juga transit tak jauh dari kepulauan Socotra. Dengan kata lain, dibangunnya pangkalan militer di Socotra oleh AS, sangat memungkinkan bagi AS untuk dapat mengawasi secara penuh pergerakan kapal dagang termasuk juga kapal perang yang keluar-masuk dari Teluk Aden.

Amjed Jaaved (2009) dalam penelitiannya berjudul A New Hot-Spot of Rivalry menjelaskan bahwa Samudra Hindia merupakan jalur laut utama yang menghubungkan Timur Tengah, Asia Timur dan Afrika dengan Eropa dan Amerika. Ia memiliki empat saluran air akses penting yang memfasilitasi perdagangan maritim internasional, yaitu Terusan Suez di Mesir, Bab-el-Mandeb (berbatasan Djibouti dan Yaman), Selat Hormuz (berbatasan dengan Iran dan Oman), dan Selat Malaka (berbatasan dengan Indonesia dan Malaysia).

Mencermati geopolitik semacam ini tentu akan memudahkan kita khususnya mencari benang merah terkait ambisi China dalam upayanya melakukan berbagai pendekatan deplomatik ke Timur Tengah. Sebelumnya, pemerintah China telah mengumumkan bahwa dirinya siap menghibahkan dana besar-besaran untuk terlibat penuh pembangunan insfrastruktur di Suriah. Ini tak lepas dari misi program China sendiri terkait one belt and road yang mana Damaskus adalah salah satu wilayah strategis dari Jalur Sutra.

Sementara itu, kaitannya dengan Yaman, China menggunakan Arab sebagai pendulum untuk masuk ke kawasan tersebut. Sebagaimana diketahui, secara geografis Arab dan Yaman merupakan dua negara yang berdekatan dan pernah memiliki catatan luka sejarah antar keduanya.

Supremasi Arab terhadap Yaman diklaim cukup tinggi dalam hal ini. Dengan begitu, setidaknya China bisa sedikit mereduksi intaian AS yang bercokol di kepulauan Socotra Yaman. Selain itu, China sendiri saat ini juga tengah membangun pangkalan militer besar-besaran di Laut China Selatan.

Penulis: Romandhon

 

 

Komentar

To Top