WEF Mencetak 100 Young Global Leaders Untuk Masa Depan Dunia/Ilustrasi - Foto: Scott Webb
WEF Mencetak 100 Young Global Leaders Untuk Masa Depan Dunia/Ilustrasi - Foto: Scott Webb

NUSANTARANEWS.CO – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Dunia yang jatuh pada 7 April lalu, WHO merilis depresi menjadi penyakit mental yang paling terpopuler di seluruh dunia. Menurut WHO, 10% orang mengalami depresi di seluruh dunia, 4% gangguan kecemasan, 4% gangguan akibat pengaruh alkohol, dan 14% gangguan-gangguan mental lainnya.

Masih menurut WHO, sedikitnya ada 300 juta orang di seluruh dunia mengalami depresi. Kondisi ini mengalami kenaikan tajam  dibandingkan antara tahun 2006 dan 2015 yang hanya mencapai 18%. Adapun salah satu faktor pemicunya ialah kurangnya dukungan bagi orang-orang yang mengalami gangguan mental. Ditambah lagi dengan rasa takut, serta tidak adanya binaan agar mereka hidup sehat dan produktif.

Berdasarkan data tersebut, WHO mendesak pemerintah negara-negara di dunia agar lebih perhatian lagi dalam menangani depresi. Sebab, selama ini rata-rata hanya 3% dari anggaran kesehatan pemerintah yang diinvestasikan untuk program kesehatan mental.  Di negara-negara berpenghasilan tinggi, hampir 50% orang yang mengalami depresi tidak mendapatkan pengobatan.

Mirisnya, di negara-negara berpenghasilan rendah investasi pemerintah bahkan kurang dari 1%. Dan paling tinggi, terutama di negara-negara berpanghasilan tinggi hanya 5% saja.

Depresi adalah penyakit mental yang umum ditandai dengan kesedihan terus-menerus dan kehilangan minat dalam kegiatan yang biasanya dinikmati orang, disertai dengan ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari selama 14 hari atau lebih.

Adapun ciri-ciri depresi menurut WHO di antaranya; kehilangan energi, perubahan nafsu makan, kurang tidur dan kebanyakan tidur, kegelisahan, kurangnya konsentrasi, keraguan, perasaan tidak berharga, rasa bersalah, putus asa serta pikiran ingin menyakiti diri atau bunuh diri.

Forum Ekonomi Dunia (WEF) memberikan perhatian serius pada permasalahan kesehatan mental, termasuk dalam menanggulangi depresi dan kecemasan. Bahkan, isu ini dimasukkan WEF dalam agenda Dewan Global Kesehatan Mental. Menurut rencana, WEF akan mendirikan sebuah organisasi khusus untuk menanggulangi depresi dan gangguan mental lainnya.

Menurut WEF, sedikitnya ada 7 langkah untuk menanggulangi depresi dan kecemasan, terutama di tempat kerja. Pertama, menyadari lingkungan tempat kerja. Sangat penting sebelum memulai kerja mengetahui informasi yang diperlukan tentang di mana anda bekerja untuk menentukan apa kebijakan paling cocok yang diterapkan pada perusahaan anda.

Kedua, belajar motivasi dari pada pemimpin organisasi. Pimpinan perusahaan harus pandai-pandai memotivasi karyawan-karyawannya untuk menghindari ancaman depresi yang berakibat pada menurunnya produktifitas kerja.

Ketiga, usahakan jangan terlalu menekan karyawan. Jangan membuat mereka seperti robot yang bekerja tanpa batas waktu. Prinsip ini dinilai harus benar-benar ditanamkan dengan menempatkan kebijakan tentang kesehatan mental di perusahaan.

Keempat, memahami peluang dan kebutuhan karyawan. Ini diperlukan untuk membantu pengembangan kebijakan yang lebih baik terkait kesehatan mental di tempat kerja. Setiap perusahaan pasti berbeda, dan akan memerlukan seperangkat kebijakan inovatif dan unik untuk memahami kebutuhan karyawan. Kebutuhan lain bahwa program kerja kesehatan mental di perusahaan bertujuan untuk mendidik dan membimbing para karyawan agar mampu mengatasi permasalahan mental yang menimpanya secara sendiri.

Kelima, sebuah perusahaan didesak membuat setrategi di tempat kerja untuk melindungi, mempromosikan dan mengatasi gangguan mental para karyawan. Salah satu cara yang patut ditempuh ialah membangun kemitraan internal dan eksternal. Sebab, keberhasilan program kesehatan mental juga bergantung pada pola kolaborasi.

Keenam, jangan sungkan bagi karyawan untuk meminta dukungan dari rekan-rekan lain. Ketujuh, mulailah bekerja dalam keadaan mental yang sehat dan stabil. Direktur Jenderal WHO, Dr Brock Chisholm mengatakan bahwa kesehatan menyal dan fisik terkait erat. Sebab, tanpa kesehatan mental tidak ada kesehatan fisik.

Reporter: Eriec Dieda
Editor: Achmad Sulaiman

Komentar