Pengamat militer dan intelijen, Susaningtyas Kertopati/Foto Istimewa
Pengamat militer dan intelijen, Susaningtyas Kertopati/Foto Istimewa

NUSANTARANEWS.CO – Keterlibatan Dian Yulia Novi dalam aksi terorisme di Indonesia mengejutkan banyak pihak. Istri dari terduga teroris M. Nur Sholihin yang ditangkap pada (11/12) lalu itu merupakan indikasi dan petunjuk awal bahwa teroris di Indonesia sudah menyasar kaum perempuan. Padahal, selama ini, khususnya di Indonesia teroris didominasi dari kalangan laki-laki.

Munculnya Dian ini di kalangan para teroris merupakan sebuah fakta menarik dari sepak terjang terorisme di Tanah Air. Sisi menariknya, perekrutan anggota teroris sudah berani menyasar semua kalangan, termasuk perempuan.

“Pengantin perempuan yang lagi trend ini banyak pertimbangan mengapa mereka saat ini dipakai. Perempuan kerap dilihat sebagai insan yang tahan akan tekanan, tetapi di satu sisi lain tingkat emosionalnya tinggi dan beberapa karakter perempuan ada unsur labil. Kelebihan kekurangan ini yang dijadikan alasan,” kata pengamat intelijen Susaningtyas kepada nusantaranews.co, Sabtu (24/12/2016)

Menurutnya, ada hal yang membuat publik tak begitu mencurigai perempuan sebagai pengantin, karena perempuan kerap terdeskripsi sebagai sosok Ibu/istri yang lekat dengan citra lemah lembut. Sehingga, terungkapnya Dian sebagai bagian dari anggota teroris di Indonesia memberikan pekerjaan ekstra kepada BNPT dan Densus 88 Anti-teror guna menelisik lebih dalam perihal keterlibatan perempuan.

“Baik BNPT maupun Densus 88 harus lebih mendalami karakteristik pengantin perempuan. Tentunya Deradikalisasinya pun tak boleh lepas dari konteks sosial budaya. Masyarakat diedukasi agar tak gampang percaya kepada propaganda dan ajakan radikal,” terang dia.

Ditambahkannya, BNPT dan Densus 88 harus segera melakukan upaya-upaya antisipasi agar ke depan perempuan tidak lagi dijadikan sasaran para teroris untuk menjadikannya sebagai anggota. Lebih dari itu, pergerakan terorisme di Indonesia mutlak diwaspadai di tengah-tengah kehidupan masyarakat, terutama mereka yang sudah mulai menyasar semua kalangan untuk dijadikan anggota demi eksistensinya.

“Tentu saja mengukur hubungan jaringan harus tepat dan cepat sebagai deteksi dini,” pungkasnya. (Sego/Er)

Komentar