Kondisi pembangunan Proyek Light Rail Transit (LRT) di samping jalan Tol Jagorawi di kawasan Cililitan, Jakarta Timur, Minggu (8/1). Foto: ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijaya
Kondisi pembangunan Proyek Light Rail Transit (LRT) di samping jalan Tol Jagorawi di kawasan Cililitan, Jakarta Timur, Minggu (8/1). Foto: ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijaya

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Pembelian rolling stock yang mencapai USD 1,8 juta per frame yang dilaksanakan pihak Jakpro dengan perusahaan asal Korea Selatan, Hyundai Rotem terkait Proyek LRT teramat fantastis.

Koordinator Investigasi Center for Budget Analysis (CBA), Jajang Nurjaman menilai, kendati Jakpro berdalih menggunakan dana perusahaan, pihak Jakpro menyiapkan anggaran sebesar Rp423 miliar, bukan dari anggaran pemerintah.

“Anggaran tersebut nantinya tetap harus ditanggung negara, termasuk jika terjadi kerugian karena nilai kontrak yang ditetapkan tidak sesuai dengan harga standar atau “kemahalan”. Dan kemahalan ini, ada dugaan Mark Up dalam pengadaan ini. Jadi jakpro, jangan bergelap-gelap dalam terang dalam proyek rolling stock,” kata Jajang kepada Nusantaranews.co lewat pesan WhatsApnya, Jumat (14/7/2017).

Jajang menyatakan, proyek LRT yang merupakan proyek strategis nasional dengan anggaran 27 triliun. Yang terdiri dari Rp 23,3 triliun untuk pra sarana (pembangunan jalur kereta api), dan Rp 4 triliun untuk sarana seperti rolling stock atau rangkaian kereta seharusnya diawasi dengan ketat.

Karena itu, CBA mendukung langkah Pemprov DKI Jakarta untuk melakukan pemanggilan terhadap pihak Jakpro guna mereview kontrak rolling stock.

“Jangan sampai kerjasama pembelian rolling stock yang dilakukan hanya mengutamakan targetan waktu pengerjaan dan mengesampingkan efisiensi anggaran,” tegas Jajang.

Pewarta/Editor: Achmad Sulaiman

Komentar