Plengkung Gading saat Malam Hari/Foto Istimewa
Plengkung Gading saat Malam Hari/Foto Istimewa

NUSANTARANEWS.CO – Sebagai kota yang menyimpan banyak sejarah beserta keunikan pemerintahannya membuat Yogyakarta memang benar-benar terasa istimewa. Deretan bangunan-bangunan tuanya, seakan bisa menyihir siapapun yang berkunjung ke kota yang terkenal dengan makanan khas gudeg dan bakpia.

Menghabiskan akhir tahun kali ini, beberapa situs sejarah tempo dulu yang wajib dikunjungi selain yang sudah disebutkan pada edisi sebelumnya di Yogyakarta antara lain sebagai berikut:

Alun-Alun Kidul

Wajah Alun-alun Kidul di malam hari/Foto istimewa
Wajah alun-alun Kidul di malam hari/Foto istimewa

Alun-Alun Kidul Kota Yogyakarta terletak di area komplek keratin. Sekalipun hanya berupa lapangan luas, namun Alun-Alun Kidul memiliki nilai historis tersendiri dalam perjalanan keratin Ngayogyakarta.

Dulunya Alun-Alun Kidul ini difungsikan sebagai pusat latihan para prajurit keraton. Sehingga tertutup bagi warga. Namun seiring perubahan waktu, Alun-Alun Kidul dibuka untuk umum.

Keadaan lapangan hasil peninggalan Kasultanan Ngayogyokarto itu, kini dilingkari jalan beraspal yang seakan menjadi batas tepinya. Di sekitar Alun-Alun ditanami mangga pakel dan kweni sebanyak 50 pohon, serta pohon gayam sebanyak 8 pohon.

Plengkung Nirbaya

Plengkung Gading saat Malam Hari/Foto Istimewa
Plengkung Gading saat Malam Hari/Foto Istimewa

Plengkung Nirbaya merupakan bangunan sejarah berupa pintu gerbang besar atau gapura pada tembok benteng Keraton (Baluwarti) sisi selatan. Banyak orang yang menyebutnya sebagai Plengkung Gading. Hal ini dikarenakan letaknya yang berada di desa Gading.

Situs sejarah ini memiliki arsitektur bangunan tempo dulu yang khas. Bangunan ini terletak di bagian selatan alun-alun kidul yang masuk dalam area komplek keraton Ngayogyakarto Hadiningrat.

Bangunan Pelngkung Gading memiliki ketebalan 8-9 meter. Dulunya dikhususkan untuk lewat jenazah Dalem. Jadi setiap kali ada orang Dalem meninggal, maka proses pengiringan jenazah dilakukan dengan melewati Gapura Nirbaya (Plengkung Gading) ini.

Makam Imogiri

Makam Imogiri/Foto Emer
Makam Imogiri/Foto Emer

Makam Imogiri merupakan komplek pemakaman yang didirikan oleh Sultan Agung pada tahun 1632-1640. Lokasinya berada di Dusun Pajimatan, Desa Giriloyo, Kecamatan Imogiri, Bantul, Yogyakarta.

Komplek Makam Imogiri mulai dibuka pukul 08.00 sampai 16.00 WIB. Di sana ada para abdi dalem yang menjaga makam sampai 24 jam penuh. Untuk bisa sampai makam, pengunjung harus berjalan kaki melewati anak tangga, karena memang letaknya di atas bukit. Berdasarkan pembagiannya, kompleks Makam Imogiri dibagi menjadi tiga.

Pulo Kenanga

Pulo Kenanga/Foto Wildan Sari
Pulo Kenanga/Foto Wildan Sari

Kompleks bangunan ini terletak di area kompleks Tamansari. Pulo Kenanga berdiri kokoh dengan bangunannya yang menjulang tinggi. Dari pusat keraton Ngayogyakarta, bangunan bersejarah ini berjarak kurang lebih 400-500 meteran. Atau lebih spesifiknya berada di belakang Pasar Ngasem.

Pulo Kenanga sendiri merupakan bangunan tertinggi dibandingkan dengan bangunan di sekitarnya. Gedong Pulo Kenanga berfungsi sebagai tempat peristirahatan dan beberapa kegiatan seni, antara lain tari dan tempat untuk kerajinan batik dll.

Bagian atas gedong sebagai tempat untuk melihat panorama sekitar kompleks Pesanggrahan Tamansari dan sekitar keraton. Nama “kenanga” terkait dengan keberadaan tanaman bunga kenanga yang berada di sekitar halaman gedong tersebut.

Panggung Krapyak

Panggung Krapyak/Foto Erem
Panggung Krapyak/Foto Erem

Panggung Krapyak atau biasa disebut Kandang Menjangan oleh masyarakat sekitar merupakan salah satu situs peninggalan bersejarah pada zaman Mataram Islam.

Bangunan kokoh ini sudah berdiri lebih dari 250 tahun lamanya. Letaknya berada di di Jl. Pandjaitan, Krapyak, Bantul, Yogykarta. Dari pusat keraton Yogyakarta, situs ini berjarak sekitar 3 km. Persis di bagian selatan Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak.

Dulunya bangunan ini digunakan oleh raja-raja Mataram untuk berburu kijang. Sebelum menjadi kawasan yang berpenduduk padat. Awalnya daerah ini dikenal sebagai hutan lebat yang dihuni oleh banyak binatang buruan, sepert kijang (rusa), babi hutan, merak dan lain sebagainya. (Red-01)

Komentar