Connect
To Top

Tujuan Akhir Tahun: Yogyakarta dan Pesona Kearifan Tempo Dulu (Bagian 1)

NUSANTARANEWS.CO – Sudah jadi tradisi, setiap akhir tahun banyak macam cara orang merayakan pergantian tahun. Salah satunya dengan berkunjung ke suatu tempat.

Sebagai pilihan, tampaknya kota Yogyakarta bisa menjadi alternatif sebagi tempat untuk tujuan menghabiskan peralihan tahun. Di kota ini, masih berdiri kokoh bangunan-bangunan yang menjadi saksi-saksi sejarah tempo dulu.

Bangunan cagar budaya yang hingga saat ini menjadi wajah kearifan sekaligus pesona kota Yogyakarta akan menarik untuk kita ziarah sebagai refleksi akhir tahun. Berikut deretan bangunan sejarah tempo dulu di Kota Pelajar:

Tugu Golong Gilig

Tugu  golong gilig Yogyakarta. Foto/istimewa

Tugu golong gilig Yogyakarta. Foto/istimewa

Bangunan Tugu Golong Gilig merupakan cagar budaya yang mejadi ikon kota Yogyakarta. Bangunan bersejarah ini berada diantara Jl. Mangkubumi, Jl. Diponegoro, Jl. Jendral Soedirman dan Jl. AM Sangaji. Dari pusat Keraton Ngayogyakarta, bangunan ini berjarak sekitar 2 kilometer.

Dulunya Tugu Golong Gilig dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwana I tahun 1756. Secara fisik, bangunan ini memiliki postur berbadan bulat dengan tinggi 25 meter. Sedangkan di atas bangunan terdapat sebuah benda bulat menyerupai bumi. Karena itu masyarakat sekitar sering menyebutnya dengan gunathole (tugu ana penthole) yang artinya tugu yang memiliki ujung bundar bak penthol bakso.

Masjid Gedhe

Masjis Gedhe Kauman Yogyakarta/Foto: Dok. Kemenag

Masjis Gedhe Kauman Yogyakarta/Foto: Dok. Kemenag

Komplek Masjid Gedhe Kasultananan (Masjid Agung Kasultanan) terletak di sebelah barat komplek Alu-Alun Utara. Bangunan masjid bersejarah ini dikelilingi oleh dinding yang tinggi. Pintu utama komplek berada di sisi timur.

Arsitektur bangunan induk berbentuk tajug persegi tertutup dengan atap bertumpang tiga. Untuk masuk ke dalam area masjid yang memiliki jejak historis ini, pengunjung bisa lewat pintu utama di sisi timur dan utara.

Saat menjejakkan kaki di bangunan masjid ini, kita akan disuguhi napak tilas sejarah keraton Ngayogyokarto di sini. Bagaimana Islam bergeliat di kampung kauman ini dulunya.

Pagelaran

Situs Pagelaran Keraton Ngayogyakarta/Foto Emer

Situs Pagelaran Keraton Ngayogyakarta/Foto Emer

Situs sejarah Pagelaran merupakan peninggalan Keraton Ngayogyakarta. Pagelaran adalah situs berupa bangunan layaknya hall besar. Bagunan bersejarah ini menghadap ke Alun-Alun Utara, kota Yogyakarta. Dulunya Pagelaran lebih dikenal dengan sebutan Tratag Rambat, yang memiliki jumlah tiang penyangga sebanyak 64 batang.

Pada zamannya, Pagelaran digunakan para abdi dalem berkumpul untuk menghadap Sri Sultan. Namun seiring perkembangan waktu, tempat ini tidak hanya difungsikan sebagai ruang berkumpulnya para abdi dalem, banyak beberapa even-even budaya dan religi dilangsungkan di tempat ini. Tentunya juga untuk upacara adat keraton.

Siti Hinggil

Sasono Hinggil atau Siti Hinggil/Foto Emer

Sasono Hinggil atau Siti Hinggil/Foto Emer

Siti Hinggil merupakan situs sejarah yang merekam banyak aktifitas Sultan dan orang-orang keraton Ngoyogyakarta pada masanya. Letaknya persis di sisi utara Alun-Alun Kidul.

Kata Siti Hinggil dalam bahasa Jawa berarti tanah yang tinggi. Siti Hinggil memang berwujud tanah yang permukaannya lebih tinggi dari alun-alun kidul. Pada zamannya, di komplek ini terdapat bangunan bangsal, dan di tengah bangsal itu terdapat dampar (tempat duduk) terbuat dari batu yang disebut Sela Gilang.

Di bawah kuncung atap yang menjorok ke selatan juga terdapat dampar Sela Giling, dan di sinilah dahulu Sri Sultan duduk untuk melihat latihan prajurit yang digelar di alun-alun kidul. Di halaman sekitar bangsal ditanam pohon mangga Cempora, kembang Soka dan pohon Gayam. Pada sisi utara terdapat Regol Semar Tinandu, jalan satu-satunya yang menghubungkan dengan komplek Kamandhungan Kidul. (Red-01)

Komentar