Donald Trump/AP Photo/Evan Vucci
Donald Trump/AP Photo/Evan Vucci

NUSANTARANEWS.CO – Jika presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ditanya oleh penasihat bisnisnya yang duduk di dewan eksekutif ihwal kebijakan energi, apa jawaban yang akan didapat? Tak lain adalah ketertarikannya terhadap sektor energi baru terbarukan (EBT).

Hal ini tampak terlihat pada jumlah gelontoran dana yang mencapai miliaran dolar AS yang dialirkan para anggota dewannya untuk fokus pada energi terbarukan dan program pengurangan karbon. Dengan kata lain, Trump paham bagaimana nasib ketahanan energi di masa datang.

Dalam sebuah ulasannya, Selasa (14/3/2017) Green Tech Media (GTM) melaporkan bahwa hampir setiap perusahaan yang diwakili dewan penasihat bisnis Trump melakukan investasi besar-besaran pada proyek-proyek EBT. Investasi sekala luas ini digencarkan oleh pemerintahan Trump dalam rangka menjaga kelangsungan ketahanan energi (energy security).

Termasuk dana pajak untuk ekuitas tenaga surya dan angin. Pengadaan EBT ini meliputi fasilitas listrik, efisiensi dan upaya penurunkan biaya energi. Selain untuk mengatasi pemanasan global, banyak perusahaan di AS yang tengah ramai melirik sektor energi terbarukan untuk memperkuat ekonomi mereka.

“Guna menjadikan Amerika besar, tanggap terhadap iklim adalah logis. Ini optimisme dalam ¬†penciptaan lapangan kerja dan membuka peluang untuk pertumbuhan ekonomi,” kata Anggota Chief Executive dan dewan Gedung Putih Doug McMillon.

Selain AS, saat ini, negara-negara yang tengah gencar menyisir sektor EBT adalah Jerman dengan kapasitas energi surya yang terpasang sebesar 32,4 GW, Italia 16,4 GW, dan China 7 GW. Sementara energi angin terpasang dari China dan Amerika Serikat dengan kapasitas masing-masing sebesar 75,3 GW dan 60 GW.

Untuk energi angin dunia, kapasitas terpasang tetap dipegang oleh Uni Eropa yang menguasai 37,5% pangsa pasar dunia dengan kapasitas 106 GW. Dimana energi angin mampu menyumbang 11,4% dari total kapasitas energi terpasang di Uni Eropa.

Penulis: Romandhon

Komentar