Kreatifitas

Tragedi Bubat – Cerpen Anas G. Tinawun*

Ilustrasi Tragedi Bubat/Foto: Dok. zonasatu.co.id
Ilustrasi Tragedi Bubat/Foto: Dok. zonasatu.co.id

NUSANTARANEWS.CO – Pagi itu, para prajurit sibuk mempersiapkan segala perlengkapan untuk acara pernikahan Prabu Hayam Wuruk dengan Putri Diah Pitaloka, putri dari kerajaan Pasundan. Terlihat para prajurit bergotong-royong memasang tenda besar. Terlihat di langit-langit tenda itu begitu gemerlap dan tegantung banyak hiasan-hiasan dari emas dan jenis-jenis batu-batuan permata. Sementara prajurit yang lain sibuk memasang padi-padi yang berhiaskan bulu-bulu merak yang bekilau betabur Yakut berwarna hijau dan merah muda. Sungguh indah, seperti di surga.

Patih Amangkubumi Gajah Mada berdiri di pendopo agung. Tatapanya bagai busur panah. Telihat gagah perkasa dengan otot yang terlatih yang menempel di pundak, bahu, dan lenganya. Ia melangkah keluar pendopo. Tiba-tiba ada seorang prajurit yang tergopoh-gopoh menuju dirinya. Beberapa langkah lagi prajurit menghadap dengan berlutut, dengan kedua tangan di depan menyambungkan kedua bergelangan lalu di luruskan kemudian berkata.

“Ampun tuan patih, hamba melihat rombongan dari kerajaan sunda sudah tiba di perbatasan kota raja Majapahit”.

“Baiklah. Aku sendiri yang akan menjemputnya. silahkan bertugas kembali”.

“Hamba mohon diri”. Lalu prajurit itu hilang oleh krumunan oleh prajurit yang lain.

Kuda sudah disiapkan oleh prajurit. Kuda pilihan tentunya. Lalu Gajah Mada menaikinya. Sungguh gagah ia. Merontokan nyali para musuh-musuhnya. Matanya menyinarkan cahaya kesatria. Dengan wibawanya ia melangkah dan di dampingi oleh Arya Wisesa dan beberapa prajurit. Orang-orang yang ada jalan terkesima melihat armada Majapahit. Tak ayal Majapahit di sebut negeri penjajah. Beberapa kerajaan diserbu dan ditaklukkan oleh Gajah Mada untuk Majapahit antara lain; Swarnnabhumi (Sumatera), Bintan, Tumasik, Semenanjung Malaya, Bedahulu (di Bali), Lombok, sejumlah negeri di Kalimantan; Kapuas, Katingan, Sampit, Kotalingga (Tanjunglingga), Kotawaringin, Sambas, Lawai, Kendawangan, Landak, Samadang, Tirem, Sedu, Brunei, Kalka, Saludung, Sulu, Paser, Barito, Sawaku (Sebuku), Tabalung (Tabalong), Tanjungkutei, dan Malano. Tinggal satu kerajaan yang belum di taklukan yaitu Sunda. Mungkin karena faktor Hubungan darah antara Sunda, Galuh, dan Majapahit. Raja Singhasari yang berkuasa pada waktu itu, Prabu Wisnuwardhana, mengawinkan Jayadharma dengan salah seorang kemenakannya yang bernama Dewi Singhamurti atau Dyah Lembu Tal, anak Mahisa Campaka. Dari perkawinan itu lahirlah Sang Nararya Sanggramawijaya atau Raden Wijaya yang kelak mendirikan kerajaan Majapahit.

Gajah Mada perpegang teguh pada sumpahnya, untuk mempersatukan nusantara. Maka dengan cara apapun ia akan melakukan apa saja untuk mempersatukan nusantara. Maka dengan cara perkawinan, itulah cara yang tepat

Gemuruh kaki kuda menghentakan tanah, menggetarkan bumi. Berjalan dan terus berjalan. Sampai akhirnya bertemu dengan rombongan sunda. Sambutan hangat oleh pihak oleh Majapahit. Kata-kata santun terucap oleh mulut gaja mada kepada prabu linggabuana raja dari sunda. Lalu rombongan dari sunda ke kedaton Majapahit diiringi oleh patih gaja mada dan beberapa prajurit. Dan memasuki kedaton yang di sambut hangat oleh gusti prabu haya muruk dan keluara raja serta para bangsawan.  Upacara adat yang begitu megah dan tari-tarian adat untuk menyambut datangnya rombongan pengantin dari sunda. Berbagai aneka hidangan di hidangkan.

***

Dalam semedinya, Arya wisesa merasakan gejolak dalam batinya, ia merasakan akan ada hal yang tak diinginkan. Pikiranya menjadi tidak tenang.

Patih Gajah Mada yang sebelumnya sudah merencanakan sesuatu untuk menjebak prabu linggabuana memaksa untuk mengakui kedaulatan Majapahit, dan meyerahkan diri. Lalu ia memanggil Arya wisesa.

“Ampun tuan patih, apa apakah gerangan memanggil hamba.” Dengan nada penasaran.

“Aku ingin negeri sunda menjadi bagian dari kekuasaan Majapahit. Aku ingin engkau mempersiapkan segala sesuatunya.” Tukas Gajah Mada.

“Ampun tuan patih. Maksud tuan patih ingin menjebak orang-orang sunda itu agar  mau tunduk kepada Majapahit, dengan pasukan kita yang sangat besar sendangkan dari Sunda hanya tak lebih dari sembilan puluh orang prajurit. Menurut hamba ini  tidaklah sebuah peperangan tetapi ini sebuah pempantaian. Apakah ini yang dinamakan kesatria, apakah ini yang dinamakan perjuangan membela tanah air.” Dengan raut wajahnya yang berapi-api, ia sanggup melontarkan kata-kata yang membuat dada Gajah Mada naik turun seperti akan meletup, giginya mengerit, sesekali menarik nafas panjang untuk mengatur jiwa yang tengah membara.

“Tutup mulutmu Arya Wisesa! Suara itu menggema di seluruh ruangan kepatihan. “tahu apa kau soal  jiwa kesatria. Jiwaku sudah menyatu dalam jiwa kesatria. Lihatlah yang kau hadapi sekarang, seorang yang sudah merasakan asin garamya menjadi kesatria, dan kau tak usah ajari aku tentang perjuangan, aku sudah keyang akan perjuangan.

“Hamba mohon maaf atas kelancangan hamba. Hamba siap menerima hukuman.” Dengan tertunduk.

“Jiwa pemberanimu menyelamatkan kau kali ini. Aku kagum dengan sikap memberanimu. Kali ini aku maafkan kau. Dengarkan anak muda, jagalah negerimu ini dengan segenap jiwamu.”

“Terima kasih ruan patih. Apa yang hamba lakukan untuk tugas ini?”

“Sebagai prajurit bayangkari yang aku percaya, aku tugaskan kau untuk menyiagakan para prajurit di sekitar kaputren. Jangan bertindak sebelum aku perintahkan”.

“Baiklah tuan patih. Hamba siap untuk menjalankan perintah tuan patih.” Di hati Arya wisesa masih ada yang mengganjal. Sepertinya ia sangat keberatan dengan tugas yang di berikan padanya.ia bimbang antara membela kaum terindas tetapi ia juga tak ingin melawan negerinya sendiri. Lalu ia menemui gurunya di lereng gunung arjuna, meminta petunjuk. Ia terus memacu kudanya. Malam semakin larut ia pacu kudanya tanpa henti, di hadapanya hanya ada gelap, sesekali anjing hutan menyemarakan malam itu. Sementara bulan, malu-malu menutup dirinya dengan kabut tipis. Hentakan kaki kuda memecah keheningan malam.

Bulan pun berganti fajar. Tak terasa perjalanan yang jauh itu akhirnya menemukan tepinya. Ia menempatkan kudanya di depan padepokan gurunya. Lelaki beramput putih dan berkumis putih dangan kening dan sekitar mata di penuhi guratan-guratan kriput, memakai jubah putih, rambut bersanggul itu nampak sudah tahu jika muridnya akan datang ke padepokanya. Kelihatanya dia sudah menunggu kedatangan muridnya. Lelaki tua itu menyambut Arya Wisesa dan mempersilahkan untuk masuk ke dalam. Sebagai rasa hormat kepada gurunya yang bernama Empu Saswi. Arya Wisesa berlutut dan memberikan salam hormat kepada gurunya.

“Ada ngger. Kelihatanya angger lagi kebingungan.” Empu Saswi memulai perbincangan.

“Ampun guru. Jujur, ada yang membuat hati saya bimbang. Di istana akan di adakan upacara pernikahan antara gusti prabu haya muruk dengan gusti putri Diah Pitaloka dari pasundan. Yang menjadi buah pikiran saya, adalah tuan patih amangkubumi Gajah Mada tak sekedar ingin mejalin persaudaran antara Majapahit dengan sunda. Tetapi tuan patih amangkubumi Gajah Mada ingin sunda menjadi bagian dari Majapahit. Tetapi jika gusti prabu linggabuana menolaknya, maka dengan terpaksa pihak Majapahit akan memaksa untuk mengakui kedaulatan Majapahit. Apapun itu caranya. Hampa di tugaskan untuk menyiapkan pasukan, untuk memberi serangan jika pihak sunda tidak terima. Apakah ini seorang kesatria, guru?”

Lelaki tua itu mengkerit-kerit seperti tengah berpikir keras dan berjalan pelan, mondar-mandir, untuk mencari jalan keluar “Membela tanah air lebih baik dan membela yang tertindas adalah sebaik-baik martabat. Adipati Karna membela kurawa karena kurawa telah memberikan harga diri pada adipati Karna yang jelas-jelas melawan saudara-saudaranya sendiri. Demikian juga Bisma perperang melawan cucu-cucunya sendiri karena ada alasan yang pasti, yaitu membela tanah air, yaitu hastinapura. Tak ada keraguan jika ia memiliki jiwa yang pasti.

“Apa yang harus saya lakukan guru?”

“Ikuti kata hatimu.”

“Terima kasih guru atas pencerahanya.” Setelah berpamitan dengan gurunya Arya wisesa langsung kembali ke Majapahit.

Patih Gajah Mada mendesak prabu haya muruk agar putri Diah Pitaloka menerima sebagai taklukan bukan sebagai permaisuri. Prabu haya muruk terlihat ragu tetapi belum sempat berucap patih Gajah Mada langsung pergi menuju lapangan bubat di mana rombongan dari sunda berkumpul. Akhirnya patih Gajah Mada pemanggil untuk ikut serta menuju lapangan bubat. Arya wisesa sebagai pimpinan prajurit langsung mengumpulkan prajurit untuk menuju ke lapangan bubat.

“Ada apakah gerangan tuan patih datang kemari dengan pasukan sebanyak ini.” Prabu linggabuana memulai pembicaraan.

“Ampun, gusti prabu kedatangan hamba ke sini ingin mempertegas, bahwa sunda harus mengakui kedaulatan Majapahit. Dan putri Diah Pitaloka adalah taklukan bukan sebagai permaisuri. “ Tegas Gajah Mada.

Mata prabu linggabuana terbelalak, nafasnya naik turun, mulutnya menggerit, dan kedua tangganya mengepal. “Kurang ajar. Bedebah! Aku pikir selama kau adalah kesatria ternyata kau tak ubahnya ular kadut. Tidak. Aku tak pernah sudi menggakui sunda sebagai bawahan Majapahit. Kami bukan kalah perang. Kami punya harga diri yang harus kita peejuangkan sampai mati!” Teriakan prabu linggabuana berkobar-kobar. Begitupun dengan semangat para prajurit sunda yang tak banyak itu.

Gajah Mada tak tinggal diam. Ia memberi aba-aba untuk menyerang. “Demi keutuhan nusantara. Serbu!!”.

Akhirnya perang pecah. Genangan darah mengalir, jertitan-jeritan manusia memilukan melengking jauh tinggi ke langit. Ya, peperangan yang tak seimbang. Dengan gagah berani, prajurit sunda terus menggempur meski kalah jumlah. Memang tak realistis jika prajurit sunda yang menang. Akhirnya satu demi persatu prajurit sunda tumbang tetapi prajurit Majapahit juga banyak yang gugur. Melihat pembantaian itu Arya wisesa dalam hati kecilnya ingin membrontak oleh kelicikan Gajah Mada. Ia berusaha menerobos hadangan beberapa prajurit, dan hendak menemui patih Gajah Mada yang sibuk membabat leher lawan. “Ampun tuan patih. Hentikan ketidakadilan ini.”tutur Arya.

“Apa kau bilang, kau ingin menghentikan perang ini, kau ingin menghentikan tugas negara, kau tak ingin nusantara menjadi utuh di tangan panji-panji Majapahit. Kau ingin memberontak Arya wisesa? “ tanya patih Gajah Mada.

“Ampun tuan patih. Hampa tak ingin membrontak negeri ini tetapi hamba tak sependapat dengan jalan tuan patih.”

“Baiklah. Jika kau tak sejalan denganku maka hadapilah aku”. Tantang Gajah Mada.

Akhirnya Arya Wisesa dan Gajah Mada bertarung. Pertikaian mereka membuat angin mejadi ribut, badai yang di timbulkan oleh pukulan-pukulan meraka menerbangkan pepohonan. Tebing-tebing runtuh menimba bangun-bangun kedaton. Hanya dewa-dewa dari langit yang bisa menghentikanya. Hanya takdir dewa yang menentukan. Biar alur sejarah yang melanjutkanya. Meski pada akhirnya Arya wisesa terbunuh oleh keris patih Gajah Mada, karena  sebagai tokoh fiktif.

Prabu linggabuana gugur. Sementara putri Diah Pitaloka dan para dayang-dayang memilih jalan bela pati demi menjaga harga diri.

*Anas G. Tinawun, Lahir di Bojonegoro 25 September 1996. Aktif di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta

Komentar

To Top