Ekonomi

Tingkatkan Surplus Ekspor Rambut Palsu, Indonesia Bidik 5 Negara Ini

Kepala BP3 Kemendag, Tjahya Widayanti/Foto: Dok. Humas Kemendag

NUSANTARANEWS.CO – Kementerian Perdagangan (Kemendag) berencana menyasar pasar potensial produk rambut palsu untuk meningkatkan prestasi surplus produk tersebut. Potensi meningkatkan surplus ini didasarkan analisis yang dilakukan oleh Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kemendag. Saat ini, ekspor produk rambut palsu Indonesia masih didominasi Amerika Serikat (AS).

Menurut Kepala BP3 Kemendag, Tjahya Widayanti, perdagangan produk rambut palsu Indonesia secara keseluruhan mencatat surplus yang cukup tinggi yakni US$338,5 juta pada 2015 lalu. Indonesia memiliki pangsa sebesar 7,28% terhadap total ekspor dunia.

“Untuk meningkatkan surplus, Indonesia perlu menggali potensi-potensi tersebut agar tidak terlalu bergantung pada AS, mengingat kondisi perdagangan luar negeri di AS yang diperkirakan akan lebih protektif terhadap impor di masa mendatang. Berdasarkan analisis kami, negara-negara pasar potensial untuk produk rambut palsu Indonesia, yaitu Bangladesh, Nigeria, Iran, Inggris, dan Belanda,” ungkapnya seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Nusantaranews, Jakarta, Sabtu (21/01/17).

Jika berdasarkan pada negara tujuan, AS merupakan pasar utama produk rambut palsu Indonesia dengan pangsa pasar sebesar 66,94% dan mencatat tren kenaikan rata-rata yang cukup tinggi sebesar 5,67%. Selain AS, produk rambut palsu Indonesia juga memiliki pangsa di Malaysia (12,66%), Inggris (4,69%), Jerman (3,42%), Korea Selatan (2,61), dan Kanada (0,83%.).

Tjahya menyebutkan, AS mendominasi permintaan produk rambut palsu dunia dengan pangsa 48,38% atau dengan kata lain, menyerap hampir setengah pasokan produk rambut palsu dunia. Pangsa selanjutnya diikuti Nigeria (9,86%), Jepang (4,68%), dan Uni Emirat Arab (4,12%).

Pasar AS juga masih menunjukkan tren impor yang positif sebesar 1,64%. “Hal ini menunjukkan bahwa permintaan impor produk rambut palsu diperkirakan masih akan meningkat. Tingginya permintaan impor terutama berasal dari tren kecantikan menggunakan hair extension yang terjadi saat ini di pasar AS. Pengaruh dunia entertainment yakni mengikuti tren rambut selebritas merupakan faktor utama tingginya permintaan produk rambut palsu di AS,” ujarnya.

Saat ini, Indonesia merupakan eksportir kedua terbesar rambut palsu di pasar dunia setelah Cina. Negeri Tirai Bambu itu masih menjadi pesaing utama Indonesia di pasar global dengan pangsa 78,59%. Ekspor rambut palsu Cina juga masih mencatat tren kenaikan yang signifikan yaitu 13,82%. Indonesia juga perlu mewaspadai negara kompetitor lain yang cukup tinggi tren kenaikan ekspornya, seperti Bangladesh (99,98%), Senegal (87,97%), Inggris (19%), AS (13,04%), dan Filipina (12,94%).

Tjahya juga memaparkan strategi khusus untuk mengoptimalkan ekspor produk rambut palsu Indonesia. Pertama, meningkatkan peran perwakilan perdagangan di luar negeri untuk melakukan koordinasi dan fasilitasi pertemuan bisnis antara pelaku usaha di bidang kecantikan, persalonan, dan ritel alat kosmetik di negara tujuan dengan produsen dan eksportir produk rambut palsu Indonesia.

“Kedua, mengikuti pameran dagang dengan mengikutsertakan pelaku industri produk rambut palsu serta industri kosmetik dengan membuka stan atau make over kosmetik untuk mempromosikan produk rambut palsu serta produk kosmetik Indonesia,” katanya.

Sekadar informasi, pada 2015 lalu, ekspor rambut palsu tercatat US$340,87 juta. Sementara pada periode 2012-2015, perolehan surplus neraca rambut palsu mengalami peningkatan rata-rata per tahun sebesar 7,8% dan kenaikan ekspornya 7,66%.

Sedangkan pada Januari-Oktober 2016, ekspor mencapai US$313,61 juta. Surplus neraca perdagangan rambut palsu mencapai US$311,7 juta atau meningkat 12,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Ekspor rambut palsu memiliki pangsa sebesar 0,29% terhadap total ekspor nonmigas Indonesia. Adapun komposisi ekspor rambut palsu terdiri atas ekspor rambut palsu utuh (wigs) dari bahan sintetik dengan pangsa 37,06%; jenggot, alis dan bulu mata palsu dari bahan sintetik sebesar 24,95%; wigs, jenggot, alis, dan bulu mata palsu dari rambut manusia sebesar 22,19%; serta dari bahan lain sebesar 15,80%. (Deni)

Komentar

To Top