Berita Utama

Tidak Hanya China, Malaysia pun Recoki Natuna

Pesawat Malaysia diusir Pesawat Tempur Indonesia/Ilustrasi: SelArt/NUSANTARANEWS

Pesawat Malaysia diusir Pesawat Tempur Indonesia/Ilustrasi: SelArt/NUSANTARANEWS

NUSANTARANEWS.CO – Kekuatan kemanan di Kepulauan Natuna diperketat pasca tertangkapnya Han Tan Cou bernomor 19038 berbendera China oleh KRI Imam Bonjol-383 yang dikomandoi Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar), Jumat (17/6). Dimana Presiden Joko Widodo sampai hadir ke Natuna untuk menggelar rapat terbatas langsung di atas KRI anti kapal tersebut pada Kamis (23/6) pekan lalu.

Dalam rapat terbatas itu, Jokowi memberikan perintah pada Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmatyo supaya meningkatkan kekuatan militer di Natuna dengan segera. Hal ini disampailan sang Jenderal usai acara buka bersama yang juga dihadiri Jokowi dan Jusuf Kalla di Markas Besar (Mabes) TNI, Cilangkap, Jakarta, Senin (27/6).

“Saya melaporkan dan diperintah Presiden, prioritas akhir tahun ini dan 2017 harus ada pembangunan di Natuna,” terang Jenderal Gatot.

Dasar memperketat keamanan dan peningkatan kekuatan, bukan hanya untuk menghalau kapal-kapal ilegal dari China. Namun untuk menjaga kepulauan Natuna dari semua bangsa asing yang mencoba bercokol di kawasan Natuna.

Terbukti, pada akhir pekan lalu, Sabtu (25/06), pesawat militer Malaysia jenis Hercules C-130 diusir oleh dua pesawat tempur F-16 milik TNI-AU RI. Pengusiran dilakukan sebab pesawat Malaysia diduga melanggar wilayah Indonesia di kawasan Pulau Natuna waktu itu. Pasalnya, kedua pesawat TNI-AU dilesatkan dari Natuna pasca komunikasi jalur internasional tidak terespons dari pesawat Malaysia.

Menurut Gatot pesawat Hercules C-130 milik Malaysia terpantau melanggar wilayah udara Indonesia di Natuna, dimana aktivitas Hercules C-130 sempat tertangkap radar TNI-AU.

Liaison Officer (Perwira Penghubung) bilang tidak ada pesawat tapi begitu kita cek itu jelas pesawat berbendera Malaysia karena militer tidak mengakui, terpaksa kita giring keluar. Mereka (pesawat Malaysia) terbang terindikasi kemudian dari radar terpantau, kemudian para pilot F16 take-off untuk memberikan tanda, supaya membuka jalur internasional,” tegasnya.

Selain penguatan kekuatan militer di Natuna, lebih jauh Gatot menjelaskan, pihaknya juga diminta untuk meningkatkan kekuatan seperti pangkalan militer dan dermaga di wilayah lain yang antara lain adalah Morotai, Biak, Saumlaki dan Selaru. “Runway perlu ada perpanjangan lagi, perlu ada pesawat tempur lagi, perlu ada tambahan bahan bakar, perlu ada dermaga. Seperti kemarin (rapat terbatas di atas KRI Imam Bonjol di perairan Natura – Red) Presiden kan nggak bisa merapat kan, jadi ini perlu dibuat,” katanya.

Selain itu, Gatot juga mengatakan bahwa di wilayah yang dimaksud pun memerlukan adanya radar. Bahkan Gatot merasa penting untuk menarik pasukan dari Jakarta dengan alasan belum terpenuhinya pasukan pengamanan di wilayah pantauan TNI-AU. Sedangkan pembahasan rencana pengembangan khususnya di Natuna, kata Gatot akan dibahas nanti pada rapat terbatas di Istana Negara, Rabu (29/6) lusa. (Sule)

Komentar

To Top