Cover Kumpulan Cerpen Umi Kulsum karya Djamil Suherman. Ilustrasi: NUSANTARAnews.co
Cover Kumpulan Cerpen Umi Kulsum karya Djamil Suherman. Ilustrasi: NUSANTARAnews.co

Esai: Mashuri Alhamdulillah

Ketika saya menjemput anak Khalila Posmoderna di sekolah, dan semua peserta didik mengenakan busana bebas tapi muslim, saya teringat Djamil Suherman, terutama pada cerpennya yang kondang “Umi Kalsum”. Hmmm.

Kali pertama saya mengenal Djamil Suherman memang dari cerpennya “Umi Kalsum”, yang saya baca dari sebuah buku kumpulan cerpen dari penulis Indonesia. Cerpen itu asyik, meskipun bahasa dan gaya penceritaannya sederhana. Repotnya, pertama kali membacanya, saya tergoda mengidentikkan diri sebagai tokoh “aku”. Apalagi posisi saya masih di udik dan merasa dekat dengan peristiwa yang diceritakan. Ah, dasar pengalaman pembaca kapiran!

Dalam sebuah esai sastra untuk menyoroti kelangkaan sastra berlatar belakang pesantren yang ditulis tahun 1970-an di Kompas, Gus Dur menyinggung Djamil sebagai pioner penulisan prosa dunia santri. Bertahun kemudian saya baru ngerti kalo Djamil berlatar belakang santri dan dilahirkan di Surabaya 24 April 1924. Selanjutnya, Gus Dur menyoroti kelangkaan penulis prosa berbasis santri dengan pendekatan psikologi budaya, sekaligus mengungkap kenapa banyak penyair berbasis santri. Saya pun ngebet untuk membaca karya Djamil yang lain dan tidak hanya sebuah cerpen.

Pada saat menyandang status yang hormat kita sebut mahasiswa, tepat di jurusan Sastra Indonesia, saya pun mencari kumpulan lengkap cerpen Djamil Suherman “Umi Kalsum, Kisah-Kisah Pesantren” ke beberapa perpus di Surabaya. Namun mungkin karena belom jodoh, tak ketemu jua. Begitu pula dengan karyanya yang lain: Muara (kumpulan puisi, 1961), Perjalanan ke Akherat (novel, 1963), Nafiri (kumpulan puisi, 1983), Sakerah (novel, 1985), Sarip Tambak Oso (novel, 1985), dan lainnya.

Pada tahun 2009, ketika saya menggarap penelitian kecil-kecilan cerita rakyat Sarip Tambak Oso, barulah saya ketemu dengan novel Djamil Suherman yang berjudul Sarip Tambak Oso. Ia menjadi salah satu data dari penelitian saya yang akhirnya menjadi buku bertajuk peran ibu dalam Sarip Tambak Oso. Berasal dari riset bandingan Sarip dalam tradisi lisan, novel, teater, ludruk, sejarah dan sebagainya. Gado-gado bumbu rujak, kalo jodoh pasti enak. Lho, gak nyambung, om!

Baru awal tahun 2017, saya mendapatkan buku Djamil Suherman “Umi Kalsum, Kisah-Kisah Pesantren”. Atas jasa baik Habib Fahmi Faqih, saya mendapatkan buku itu dengan tambahan Sakerah dan Sarip Tambak Oso, karena yang saya jadikan data penelitian saya dulu copian dari Om Indra Tjahyadi. Rezeki anak sholeh! Hadeh!

Kumcer itu tipis, sekitar 123 halaman, bentuknya buku sedang. Di dalamnya terdapat sembilan cerita yang sangat khas pesantren. Terdapat ulasan akhir di penghujung buku yang digurat HB Jassin, yang digelari dengan sedikit olok-olok sebagai Paus Sastra Indonesia. Buku yang saya dapat cetakan II tahun 1984 diterbitkan Mizan Bandung. Cetakan pertamanya tahun 1963 terbitan NV Nusantara Bukittinggi Jakarta.

Sebagai penutup dari catatan ringkas ini, saya kutip sedikit ulasan HB Jassin, sebagai berikut: “Lingkungan yang diceritakan Suherman seperti dikatakan di atas adalah salah satu lingkungan masyarakat di Jawa Timur, dan sebagai salah seorang dari masyarakat itu pengarang tentunya tak bisa melepaskan diri dari pengaruh lingkungannya”.

Demikianlah, waba’du.

Sidokepung, 10/06/2017 (9:07)

Komentar