Garam Dapur. Foto: Prime.md
Garam Dapur. Foto: Prime.md

NUSANTARANEWS.CO – Garam merupakan salah satu kebutuhan pangan yang mendasar. Hampir seluruh umat di dunia menggunakan garam untuk berbagai kebutuhan dan pemberi rasa pada makanan.

Masyarakat Indonesia selain menggunakan berbagai rempah untuk mengolah makanan, garam menjadi kamoditas utama. Lidah masyarakat Indonesia rata-rata menyukai makanan-makanan yang memiliki rasa kompleks, seperti asin, pedas, manis, asam bahkan pahit. Saking pentingnya garam bagi masyarakat Indonesia, kita mengenal peri bahasa, “Bagai sayur tanpa garam.”

Berbicara soal garam yang saat ini tengah mengalami kelangkaan di Indonesia, sebuah penelitian mengatakan bahwa memiliki manfaat dan keberadaannya sangat penting bagi tubuh. Walaupun akhir-akhir ini berbagai kampanye justru menyerukan untuk mengurangi konsumsi garam, akan tetapi manfaat yang diberikan garam kepada tubuh kita harus dipertimbangkan kembali.

Garam, memiliki sifat anti bakteri yang baik. Dilansir dari TIME,  jurnal Cell Metabolism memuat sebuah artikel pada Mei lalu yang ditulis oleh Jonathan Jantsch, Universitas Regensburg-Jerman menerangkan bahwa garam bisa menjadi cara yang efektif untuk menangkal mikroba.

Dalam penelitian yang dilakukan bersama timnya, Jantsch menemukan bahwa garam dapat menjadi anti bakteri yang baik. Tim penelitian ini melakukan serangkaian eksperimen dengan menggunakan tikus dan sel manusia. Mereka melakukan perbandingan dengan memberikan makan yang rendah dan tinggi sodium (garam), lalu menginfeksi mereka dengan Leishmania mayor. Tikus-tikus yang memakan makanan bersodium tinggi menunjukkan respons kekebalan yang lebih kuat terhadap luka dan menyembuhkan luka mereka lebih cepat dari pada tikus yang memakan makanan dengan sedikit garam.

Dari sanalah kemudian muncul kemungkinan bahwa garam adalah penunjang dari sistem kekebalan tubuh yang selama ini belum dikenali. Kita ketahui bahwa tubuh manusia sangat membutuhkan beberapa zat untuk membentuk anti mikroba. Selama berabad-abad, masyarakat di dunia juga mengenal dan menggunakan garam untuk menghindarkan makanan cepat rusak akibat bakteri.

Jadi hal tersebut sangatlah masuk akal jika garam mungkin juga bekerja pada tubuh dengan cara yang sama. Setelah melakukan penelitian tersebut, Jantsch seakan sangat menyayangkan ia mengatakan, “Saya benar-benar berpikir bahwa garam adalah faktor imunitas yang tidak dihargai.”

Berdasarkan hasil penelitian di atas, para peneliti juga mengatakan bahwa garam adalah bahan yang sangat fleksibel. Mungkin kedepannya kita tidak hanya bisa mengaplikasikannya dalam makanan atau minuman tetapi juga dapat diaplikasikan sebagai salah satu bahan untuk obat luar dan lain sebagainya.

Sebagai bahan campuran makanan, garam juga dapat digunakan mengikuti kebutuhan tubuh. Kita dapat meningkatkan penggunaan ketika tubuh kita menggunakannya dan menguranginya saat tubuh kita kelebihan garam.

Sementara itu disebutkan oleh banyak peneliti lainnya bahwa mengurangi kinsumsi garam atau diet tinggi garam dapat menimbulkan kerusakan pada jantung.

Pewarta: Riskiana
Editor: Ach. Sulaiman

Komentar