Berita Utama

Teknologi Satelit Mulai Diluncurkan Guna Mendata Masyarakat Miskin di Dunia

Teknologi Satelit
Teknologi Satelit/Ilustrasi Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Bank Dunia sudah mulai gencar mengidentifikasi dan mendata negara-negara yang masyarakatnya masih hidup di bawah garis kemiskinan akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi beberapa tahun belakangan, khususnya sepanjang tahun 2015-2016. Prediksi Bank Dunia, melambatnya pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang yang terjadi selama 2015, akan berlanjut pada tahun 2016.

Menyadari hal itu, Bank Dunia mulai cemas. Awal tahun 2016 ini, Bank Dunia menyebutkan lebih dari 40 persen masyarakat miskin dunia terdapat di negara-negara berkembang yang pertumbuhan ekonominya melambat sejak tahun 2015 lalu.

Berdasarkan kajian Prospek Ekonomi Global Bank Dunia Januari 2016, pertumbuhan global pada tahun 2016 masih lemah, tetapi diperkirakan akan dapat sedikit meningkat dari 2,4 persen pada tahun 2015 menjadi 2,9 persen pada tahun 2016. Tentu kenaikan ini tak cukup signifikan.

Kondisi perekonomian dunia memang sudah tak menentu. Inilah mungkin yang disebut situasi batas, di mana fokus membangun ketahanan kondisi perekonomian malah justru tampak semakin lemah, dan akhirnya masyarakat miskin makin tak terlindungi.

Bank Dunia mulai menyarankan kepada negara-negara berkembang untuk segera mereformasi pemerintahan dan kondisi bisnis agar lebih efisien. Itulah jalan alternatif yang dapat dilakukan demi mengatasi efek perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Setelah Bank Dunia merilis angka kemiskinan di negara-negara berkembang cukup tinggi, sekelompok peneliti dari Standford University baru-baru ini melakukan pemetaan masyarakat miskin menggunakan teknologi satelit. Peluncuran satelit ini sengaja dilakukan karena data kependudukan suatu negara kerap terkendala pada proses sensus yang menyita waktu terlalu lama, dan metode survei yang dilakukan secara manual door to door juga memakan waktu lama.

Oleh karenanya, teknologi satelit sengaja dirancang untuk mengatasi validitas dan proses sensus pemetaan masyarakat miskin yang sementara ini menyasar sejumlah negara-negara di Afrika seperti Nigeria, Tanzania, Uganda, Malawi dan Rwanda.

Kantor berita Xinhua melaporkan, data Bank Dunia dari tahun 2000 hingga 2010, sekitar 39 dari 59 negara-negara di Afrika yang terlibat dalam survei diketahui memiliki standar kemiskinan nasional yang representatif untuk menjadi sampel pemetaan satelit. Untuk itu para peneliti mendesain algoritma khusus yang mampu mempelajari data dan informasi tertentu mengenai masyarakat miskin  dengan menggunakan pemetaan satelit beresolusi tinggi tentunya.

Teknologi satelit pendeteksi angka masyarakat miskin ini diklaim menggunakan metode survei sangat akurat. Bahkan, dari sisi biaya jauh lebih efisien serta sanggup menjangkau area yang kondisi geografisnya rumit, hingga daerah-daerah konflik dan pedalaman jauh.

“Metode ini memungkinkan data bisa dipakai oleh publik dan mengubah upaya mendeteksi daerah-daerah miskin di negara-negara berkembang,” tulis tim peneliti yang dimuat dalam US Journal Science.

Teknologi satelit ini dirancang tentu bukan spontan dan instan. Akan tetapi, pendataan masyarakat miskin menjadi proyek besar di masa mendatang karena jumlahnya tentu miliaran orang. Bagi kaum kapitalis, jumlah miliaran itu tentu bukan angka yang sedikit, sehingga dapat dijadikan pasar potensial untuk selanjutnya disediakan berbagai komoditas yang dibutuhkan masyarakat, bahkan dengan harga yang sangat murah sekalipun.

Untuk itulah teknologi satelit ini benar-benar dirancang untuk kepentingan dunia di masa depan, serta diracik dengan berbagai domain ilmiah sehingga bisa lebih akurat, murah dan terukur. (eriec dieda)

Komentar

To Top