Connect with us

Khazanah

Tatacara dan Filosofi Makan Saprahan Masyarakat Sambas sambut Ramadan

Published

on

NUSANTARANEWS.CO – Tradisi makan Saprahan yang yang penuh filosofi merupakan tradisi masyarakat Sambas (Urang Sambas/Melayu Sambas) yang beragama Islam. Masyarakat atau suku Sambas sebagian besar tinggal di Kabupaten Sambas, Kabupaten Bengkayang, Kota Singkawang dan sebagian kecil Kabupaten Mempawah-Kalimantan Barat.

Tradisi makan Saprahan yang juga juga diadakan dalam acara nikahan sudah ada jadi budaya sejak lama. Menurut penuturan tokoh masyarakat setempat, masuknya tradisi makan Saprahan dibawa oleh pedagang-pedagang Arab yang singgah di Sambas. Sebab zaman dulu daerah Sambas menjadi tempat srategis bagi persinggahan kapal-kapal sekaligus menawarkan barang-barang dagangan.

Terbukti, kata Saprahan ternyata berasal dari Arab. Adapun maknanya, menurut kepercayaan masyarakat setempat, Saprahan Saprahan adalah sopan santun dalam beradab, kebersamaan yang tinggi atau gotong-royong. Tradisi mengandung semangat duduk sama rendah berdiri sama tinggi.

Pada prinsipnya, taradisi Saprahan merupakan tradisi adat Melayu. Dalam tradisi ini ada tatacara khusus tak tertulis yang terdiri dari cara makan, menghidang, dan menu hidangan. Disebut sebagai tradisi ada melayu lantaran di Kalimantan Barat, khususnya suku Sambas, Mempawah dan Pontianak berbudaya Melayu. Tradisi mengakar begitu kuatnya secara turun temurun karena tradisi ini dilakukan bersama banyak orang yang duduk di dalam satu barisan, saling berhadapan duduk satu kebersamaan.

Tradisi makan Saprahan terus dilestarikan dengan tujuan mempererat kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat serta memupuk rasa bergotong royong. Atas dasar makna filosofisnya yant tinggi, dalam penyajian makanan pun dijadikan media pendidikan etika.

Dalam perspektif keagamaan, tradisi makan Saprahan dalam kehidupan masyarakat Sambas identik dengan agama Islam, yang mana kuat berpedoman pada 6 (enam) rukun Iman dan 5 (lima) rukun Islam. Makna bersaprah yang disantap oleh 6 (enam) orang setiap saprahannya diartikan dengan rukun Iman, dan lauk-pauknya yang dihidangkan biasanya 5 (lima) piring diartikan rukun Islam. Istimewanya, tidak ada perbedaan menu masakan untuk sajian saprahan antara rakyat biasa dengan pemimpin, semuanya sama saja.

Baca Juga:  Terciptanya Masyarakat Gotong Royong Menuntut Teladan Seorang Pemimpin

Intinya, keistimewaan tradisi makan Saprahan pada masyarakat Sambas adalah kesederhanaan hidup yang diikat dengan rasa kekeluargaan dan kebersamaan yang tinggi tanpa memnadang status sosial, memupuk rasa solidaritas dan gotong royong,  sebagai wahana interaksi dalam menyampaikan informasi, dan yang paling penting adalah melestarikan warisan budaya leluhur.

Sebagai informasi dalam tradisi makan Saprahan terdapat dua bentuk Saprahan yaitu Saprahan Memanjang dan Saprahan Pendek.

Saprahan Memanjang merupakan sajian makanan yang disusun kemudian disajikan di atas kain yang memanjang di dalam ruangan yang telah disiapkan tuan rumah. Kemudian tamu dipersilahkan duduk berhadapan ditengah-tengahnya sajian yang telah disediakan. Namun sekarang ini bentuk Saprahan Memanjang ini sudah jarang ditemui di Kabupaten Sambas, adanya di Pontianak dan sekitarnya.

Adapun Saprahan Pendek diadakan dengan menghamparkan kain saprahan berukuran 1×1 meter, di atasnya diletakan sajian makanan yang akan disantap para tamu (khusus undangan). Setiap saprahan pendek dihadapi oleh 6 (enam) orang setiap saprahan.

Nah, bentuk Saprahan ini yang masih dilaksanakan oleh masyarakat di Kabupaten Sambas sampai saat ini, baik di kota maupun di desa. Tradisi Saprahan pendek ini masih terdiri dari 3 jenis Saprahan yaitu Saprahan Bulat, Saprahan Membujur Dengan Alas Saprah, dan Saprahan Membujur Dengan Alas Baki.

Dalam Tradisi Makan Saprahan memiliki tata cara tertentu dalam menyajikan hidangan. Baik dalam peangkatan sajian maupun cara-cara menyodorkan saprahan, biasa pesurrung (tim penyaji) dianggotakan minimal 5 (lima) orang. Besurrung diartikan sebagai pengangkat sajian kehadapan tamu undangan yang sudah menunggu di atas tikar maupun permadani yang telah disediakan khusus untuk tamu.

Penyurrung biasanya bukanlah orang sembarangan yang dipilih, tetapi orang yang sudah bisa dalam besurrung, penyurrung penampilannya sangat rapi dengan pakaian Melayu sambas. Tata cara penyajian makanan (besurrung) pun dilakukan oleh 5 orang yang mempunyai tugas masing-masing. Penyurrung 1, barisan terdepan yang bertugas mengatur meletakan sajian dan perangkatnya di atas hamparan tikar; Penyurrung 2 bertugas membawa pinggan saprah yang berisi nasi; Penyurrung 3 tugasnya membawakan baki lauk-pauk; Penyurrung 4 membawakan pinggan/piring nasi; dan Penyurrung 5 bertugas membawa baki becil yang berisi cawan air minum.

Baca Juga:  Plt Gubernur DKI Djarot Larang Sahur On The Road

Dari kelima orang tersebut mengambil bawaan masing-masing dan menyusun menurut tugasnya. Mereka mengambil posisi secara berurutan, mulai dari memasuki ruangan, berjalan, duduk dan lain-lain. Sajian saprahan disampaikan secara sambung menyambung. Demikian, tatacara tradisi makan Saprahan dalam masyarakat Sambas yang dilaksanakan di bulan Sya’ban menjelang bulan puasa Ramadan. (Sel)

Loading...

Terpopuler