Putu Wirantawan (Bali), "Ritual Alam Batin", 140 x 140 cm, Pencil di atas kertas, 2007/Foto: SAHABAT GALLERY

NUSANTARANEWS.CO – Sesungguhnya Jim boleh makan apa pun di pesta pernikahan Maria, mantan pacar yang meninggalkannya sepihak, tetapi kejadian dua hari silam seakan awal dari lahirnya suatu wabah berbahaya bagi keselamatan bayi-bayi.

Cerita ini barangkali sulit dipercaya, tapi aku mendengarnya langsung dari Jim. Ia betul-betul pergi ke pesta itu dengan mengenakan tuxedo terbaik dan menyiapkan mobil sport terbagus yang ia miliki, yang bahkan jarang diturunkan ke jalan kalau bukan demi urusan penting.

“Hari pernikahan Maria selalu penting,” jelasnya padaku.

Aku tak banyak merespons kata-katanya ketika Jim bercerita panjang lebar tentang malam itu; ketika ia mulai merasakan adanya debaran ganjil di perutnya. Debaran aneh ini menyebar seiring waktu ke sekujur tubuh sehingga lima menit setelah mobil sport tadi meninggalkan garasi, Jim merasa hidupnya bakal berakhir.

Tentu saja Jim tidak mati. Tidak ada yang mati dalam ceritaku, meski kalau boleh jujur, aku lebih mahir dan lebih suka mengisahkan kematian. Segala jenis kematian, di tanganku, adalah teror bagi siapa pun yang benci mimpi buruk dan pecinta berat buku. Cerita-cerita ini kubawa dalam bentuk catatan sebelum kusempurnakan menjadi naskah utuh.

Sebagai ghost writer, aku memang selalu mendapat klien penuh kejutan, meski tak semua bersifat menantang. Jim termasuk yang menantang. Ia mengaku, dua hari silam, sebelum pergi ke pesta pernikahan Maria, ia mendatangi ilmuwan yang begitu terobsesi pada penyelamatan nasib umat manusia di muka bumi. Jim tidak bermaksud apa-apa; ia hanya merasa ilmuwan itu teman dekatnya, dan cuma kepada temanlah kita bisa percaya bahwa hal-hal bersifat privasi dapat dibongkar.

Temannya punya gagasan, “Bahwa populasi manusia di bumi mengancam manusia itu sendiri.”

Jim tidak menangkap maksud kalimat tersebut, tetapi temannya menjelaskan data- data yang disiapkannya dalam tabel dan sebuah video dokumenter, tentang overpopulasi manusia yang memusnahkan ras manusia itu sendiri suatu hari nanti, sebab setiap abad, akan ada sekian miliar individu baru lahir ke bumi. Dan, jika dihitung secara teliti oleh rumus-rumus yang membuat kepala Jim pusing, tak lebih dari seratus tahun mendatang, manusia benar-benar akan punah.

“Lalu, maksudmu apa? Dan apa hubungannya semua ini dengan pesta pernikahan Maria yang akan kudatangi?” tanya Jim dengan kesal. “Aku datang ke sini untuk minta saran dan nasihatmu; kupikir kau cerdas, karena kau ilmuwan, sehingga tahu tata cara logis agar aku tidak terlalu mempermalukan diriku di sana, yang sebenarnya masih amat sangat mencintai Maria si pengkhianat!”

Ilmuwan itu pun menjelaskan, sebagaimana yang Jim kemudian tuturkan kepadaku secara gamblang, “Harusnya kau lebih bersabar. Tunggu penjelasanku dan akhirnya kau berterima kasih!”

Jim memberi waktu pada ilmuwan tersebut untuk menjelaskan. Overpopulasi tadi bisa diatasi dengan suatu cara, agar umat manusia tidak mungkin punah suatu hari nanti, yakni dengan penyebaran virus khusus yang dapat memusnahkan sepertiga penduduk bumi. Karena tak mau membuat Jim berpikir bahwa ia ilmuwan sinting yang harusnya dikurung di penjara tertutup, melebihi penjara superketatnya Hannibal Lecter, penjahat fiktif karya Thomas Harris itu, teman Jim menambahkan, “Tidak akan ada yang mati di sini.”

“Tidak akan ada yang mati?”

“Tidak akan ada yang mati, karena mereka yang terkena serangan virus itu hanya akan mandul.”

Jim mengernyit mendengar gagasan ilmuwan yang sudah berbelas tahun menjadi temannya ini. Dulu mereka bertemu waktu kuliah dan Jim merasa belum sepenuhnya tahu siapa temannya.

Tetapi, mungkin saja sang ilmuwan senang bercanda. Jim penggila berat buku, dan karena itu dia berkehendak membuat kisah asmaranya bersama Maria dapat terwujud dalam bentuk novel. Ia tidak sanggup menulis, lalu aku yang kemudian diserahi tugas mengemas seluruh kisah dalam naskah utuh. Jika itu ciri khas Jim, tidak heran ilmuwan tadi mendadak dianggap bercanda oleh Jim, sebab gagasannya amat sangat persis, tanpa ada sedikit pun celah, dengan gagasan Brtrand Zobrist, ilmuwan gila dalam novel sains fiksi karangan Dan Brown, Inferno. Di kamar Jim, asal tahu saja, ada sekian ribu bacaan berupa buku dan majalah dan jurnal-jurnal ilmiah. Ia tahu betul mungkin temannya kini sedang bercanda, karena ia sudah membaca Inferno.

Sayangnya, teman itu tidak tertawa dan malah semakin berapi-api menjelaskan ke Jim, tentang fakta bahwa virus itu sudah dibuat olehnya. Virus itu mengubah susunan DNA manusia dengan ciri fisik tertentu, untuk menyetop laju kelahiran pada ras tertentu. Siapa pun yang terjangkit, hingga kapan pun tidak akan mempunyai anak, kecuali punya ciri fisik yang tidak sesuai dengan DNA sasaran virus itu sendiri.

Jim, dengan apa yang dia bawa dari rumah, yakni cerita keluh kesahnya soal Maria, mendengar tambahan kalimat dari teman ilmuwannya yang bikin merinding, “Kau bisa membalas dendam saat itu, tanpa adanya bukti bahwa kau pernah melakukannya. Maria bakal tahu siapa yang dia hadapi.”

Jim tahu arah ucapan ini, dan ia berpikir tentang penculikan Maria yang dibawanya ke suatu gudang untuk diperkosa dan segala macam. Lalu, perempuan itu dikembalikan ke rumah calon suaminya dalam keadaan sinting, tetapi tak bisa membuktikan kejadian buruk yang barusan menimpanya adalah hasil perbuatan Jim.

Jim tidak ingin melakukan itu, tetapi toh virus itu telah berada di dalam pembuluh darahnya; ia tidak sadar cara-cara ganjil sang ilmuwan dalam menyuntikkan virus sama sekali tidak elegan. Sampai di bagian ini, sejujurnya, aku tidak dapat mempercayai apa yang Jim katakan. Tetapi ia bilang, “Tulis sajalah.”

Maka, aku pun menulis. (Baca: Menjahit Tubuhmu ke Tubuhku – Cerpen Ken Hanggara)

Dua hari kemudian, setelah kunjungan tidak biasa ke rumah ilmuwan, Jim pergi ke pesta pernikahan Maria, dengan debaran aneh di perutnya, dan ia merasa hidupnya akan dipenuhi penyesalan karena membiarkan Maria pergi dinikahi tanpa diberi pelajaran. Ia juga merasa hidupnya tidak akan sama setelah tahu Maria mungkin masih dapat punya anak, selama virus tersebut belum disebar oleh sang teman, sementara dia sendiri sudah mandul.

Sesungguhnya Jim boleh makan apa saja, tetapi ia lebih memilih menjauh ke sudut terpencil lapangan tempat resepsi pernikahan Maria digelar. Ia menjauh dari pandangan Maria yang tadi disalaminya, yang terasa ramah namun penuh kepura-puraan. Jim tidak tahu apa lagi yang harus ia lakukan selain pulang. Tetapi, sebelum ia benar-benar balik ke mobil sport-nya, suatu dorongan alam memaksanya pergi ke toilet saat itu juga. Di dalam toilet, barulah Jim sadar kalau sang ilmuwan mengerjainya.

“Tidak ada virus, Bung. Tidak ada semua itu. Aku hanya memberimu serum khusus, yang kubuat agar seseorang terpaksa pergi ke toilet dalam waktu-waktu penting,” tutur ilmuwan tersebut. Dan serum tersebut memang luar biasa ampuh.

Aku, yang menulis kisah aneh ini, merasa Jim tidak serius dalam menggarap novel perjalanan cintanya. Aku berhenti mengetik dan mendatangi rumah Jim di luar jadwal, dan menyerbunya dengan rentetan pertanyaan, bahwa dia sama sekali menjatuhkan citra dirinya sendiri jika kisah konyol macam itu ditulis dalam suatu novel dan diterbitkan.

“Dan semua ini seakan-akan meledek kesakralan cinta!” kataku geram.

Jim tidak marah dengan seranganku, tetapi dengan lembut berkata, “Sobat, bahwa kisah soal Maria ini memang pahit bagiku, tetapi biarlah rasa pahit itu aku sendiri yang merasakan. Biarlah orang lain tahu efek baik yang dapat mereka tangkap. Apa kata orang-orang sok agamis itu?”

“Pencerahan?”

“Bukan.”  (Baca: Zikir Brondong Jagung – Cerpen Ken Hanggara)

“Hidayah?”

“Bukan. Ah, intinya begini; biarlah mereka tertawa dengan semua ini. Pelajaran di kisahku ini: bahwa cinta yang pahit tidak melulu berakhir pahit. Di sekitarmu ada begitu banyak manusia yang siap menghibur dengan cara-cara mereka.”

Aku tidak tahu bagaimana Jim bisa bicara soal ini, tetapi kurasa ada benarnya juga. Ia lantas mengisahkan pengalaman buruknya sewaktu berak tiada henti di toilet umum di pojok lapangan, sementara tamu undangan di pesta pernikahan Maria mengalir bagai air bah yang juga tak kenal henti.

“Bisa kau bayangkan,” tutupnya mengakhiri pertemuan dadakan kami malam itu, “di depan sana, Maria benar-benar melepas topengnya. Aku tahu, sampai seribu tahun lagi, pengkhianat jalang itu tidak akan melupakan bahwa hampir seluruh tamu undangan di sudut lapangan memilih kabur dan tak peduli hidangan macam apa yang menyambut mereka di meja-meja.”

“Sebenarnya, itu agak kejam.”

“Memang!”

Ken Hanggara
Ken Hanggara

Dan kami pun tertawa. []

 

Gempol, 28 Desember 2016

 

*Ken Hanggara lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, dan esai. Karya-karyanya terbit di berbagai media lokal dan nasional.

Komentar