Connect
To Top

Tapi Kita Telah Mengalami Erosi Jati Diri

Marsekal Muda TNI (Purn) Teddy Rusdy/Foto: intelejen.co.id

Marsekal Muda TNI (Purn) Teddy Rusdy/Foto: intelejen.co.id

NUSANTARANEWS.CO – Marsekal Muda TNI (Purn) Teddy Rusdy menegaskan bahwa satu-satunya modal Indonesia di abad ini yang paling berharga adalah jati diri yang menjadikan kita bangsa Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

“Era globalisasi tujuannya adalah terbentuknya masyarakat global. Kalau bangsa Indonesia tidak tangguh, akan terseret kehilangan jati dirinya. Untuk menjadi NKRI yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, langkah modal awalnya adalah pelihara jati diri bangsa Indonesia,” ujar Teddy dalam sebuah perbincangan, Selasa (27/9).

Ia mengkritik keras tindakan kaum reformis yang menurutnya telah dengan sengaja melakukan tindakan manipulasi dan pembodohan yang berujung pada ditinggalkannya falsafah Pancasila sebagai jati diri bangsa Indonesia. UUD 1945 yang diamandemen sebanyak empat kali oleh kaum reformis, kata dia, membuat ruh dan jiwa Pancasila dan UUD 1945 yang asli hilang dari bangsa Indonesia.

“Akibatnya, kehidupan berbangsa dan bernegara dewasa ini mengalami masalah besar, karena kita hidup dalam satu sistem yang jelas berbeda dengan jati diri bangsa Indonesia, Pancasila,” papar Teddy berapi-api.

“Banyak elit negara yang sudah meninggalkan jati diri bangsa Indonesia,” kata dia. Jati diri, dijelaskannya lebih lanjut, adalah totalitas sifat, karakter serta kekhasan yang dimiliki Indonesia yang dapat membedakannya dengan negara-negara lain. Salah satu yang paling khas di Indonesia adalah Pancasila. “Tapi kita telah mengalami erosi jati diri,” sambungnya.

Lebih lanjut, pria kelahiran 1939 ini menjelaskan bahwa perubahan UUD 1945 membuat produk hukum yang diturunkannya di berbagai bidang mengakibatkan masyarakat Indonesia menjadi cenderung individualis.

“Padahal, masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang hidup dengan sifat kekeluargaan yang tinggi dengan budaya gotong-royong. Alam liberalistis ini bila dibiarkan akan berkembang cepat atau lambat dapat menjadi ancaman disintegrasi nasional,” paparnya.

Tak hanya persoalan sosial dan budaya, ancaman-ancaman sekulerisme itu juga menurut Teddy telah menimpa seluruh bidang kehidupan lainnya seperti sistem politik, sistem ekonomi, sistem konstitusi, sistem pertahanan keamanan negara, sistem pemerintahan bahkan sampai persoalan ideologi negara.

“Lihat saja golongan Islam radikal yang ingin menjadikan negara Islam Indonesia, ataupun partai komunis Indonesia dan ideologi liberal yang lain yang ingin mengacaukan keutuhan NKRI dan merongrong Pancasila,” pungkasnya. (Sego/Red-02)

Komentar