Cover Buku Puisi
Cover Buku Puisi "Tanah Air Puisi, Air Tanah Puisi" karya Mahwi Air Tawar/Foto Istimewa (Dok. Pribadi)

Oleh  : Khairul Umam

NUSANTARANEWS.CO – Perkenalan saya dengan Mahwi bermula sejak 2011. Hujan begitu deras mengguyur saat ia dengan senyum khasnya datang dengan menenteng anak kandung pertamanya “Mata Blater”. Tidak ada komunikasi istimewa di sana. Namun, kemudian takdir berkata lain. Di antara perjalanan dan proses saya menulis, tiba-tiba saya sudah saling sapa dan kirim email: tentu saat itu saya belajar menulis kepadanya. Tidak hanya berhenti di sana, setelah beberapa tahun kami hanya saling kirim email ternyata takdir memertemukan kami. Tahun 2013 saya diberi kesempatan untuk melanjutkan studi ke Yogyakarta yang saat itu telah menjadi rumah dan saksi proses kreatif penyair ini. Maka, kami semakin intens bertemu di bawah temaran lampu-lampu, di atas alir sungai kali bedok, di kafe-kafe dan entah di mana lagi.

Awalnya, saya hanya tahu bahwa penyair ini adalah penulis cerpen dari Madura yang Sophisticated. Namun, belakangan, setelah komunikasi saya semakin intens baik dalam perjamuan sastra pun pertemuan sekadar melepas lelah, setelah seharian bekerja (tentunya di depan laptop), baru saya tahu bahwa penyair ini juga menulis puisi, esai dan lakon. Puisi “Tanah Air Puisi Air Tanah Puisi” ini merupakan puisi ketiganya yang berhasil lahir dengan selamat. Bahkan, Oktober lalu menjadi salah satu nominator 15 besar anugerah Hari Puisi Indonesia.

Berdasarkan track record yang telah ditorehkan oleh yayasan tersebut, penganugerahan puisi itu tidaklah sekadar main-main. Ada proses selektif yang ketat. Pembacaan yang sungguh-sungguh. Mendengar hal itu saya bersyukur. Setidaknya, dua orang penyair dari Madura telah menggondol nominasi tersebut. Ya, semacam guru dan murid. Ya, Mahwi Air Tawar dan Hidayat Raharja. Maka, berbekal ilmu seadanya, sebagai bentuk kebahagiaan saya atas prestasi itu, hati saya tergelitik untuk segera membaca dan menuliskan kebahagiaan dalam sebentuk esai ringan seringan memakan lontong dan pentol ikan yang menjadi makanan khas di tempat kelahiran penyair ini.

Pada Awalnya adalah pengembaraan

Sampai saat ini pun Suku Madura adalah terbesar keempat setelah Jawa, Sunda dan Melayu, meski tidak semuanya tinggal di pulau yang hanya memiliki luas 4500 km2 dengan panjang 180 km dan lebar 40 km itu. Hampir dua pertiga persen mereka tinggal di luar baik di Jawa, Kalimantan, Sumatera bahkan di beberapa negara tetangga.

Selain karena kepadatan penduduk dan faktor penjajahan, kepergian mereka dari tanah kelahiran terlebih disebabkan oleh karakter yang mendasarinya. Dalam sebuah ajaran disebutkan Sumenep ta’ abingker yang berarti Sumenep dan Madura tidaklah berbatas lokasi dan administrasi. Tidak hanya sebuah pulau pun KTP, ia adalah jiwa dan hidup itu sendiri. Selain itu peribasaha ja’ mara kata’ e dalem baluggung (jangan seperti katak di dalam tempurung kelapa) merupakan penegasan bahwa hijrah ke suatu tempat dalam rangka belajar, mengasah dan mengisi diri itu penting.

Maka, mengembara bukanlah suatu ketidakwajaran. Ia pun bukan suatu pengingkaran atas ke-Madura-an yang telah disandangnya sejak dilahirkan. Pengembaraan merupakan pintu awal meraih kesuksesan dan pembelajaran yang lebih intens dan maksimal meski pembelajaran itu tidak harus di bangku sekolah pun kuliah. Pengembaraan hanyalah bagian dari proses melihat kembali dirinya dari sudut terjauh karena dengan cara itulah kita bisa berintrospeksi diri. Tidak terkecuali Mahwi yang notabeni dilahirkan di sudut timur selatan pulau Madura.

Berulang kulepas segala kedunguan

Berulang kusesap kejernihan dari persimpangan

Alangkah wangi aroma kegelapan

Alangkah berlebih pesona kebodohan

(Kelana)

Namun, pengembaraan yang hendak dilakukan membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit. Ia adalah proses penemuan dan kehilangan. Karena mereka yang mengembara akan menghadapi lingkungan, budaya dan karakter baru maka ia akan menemukan sesuatu yang tidak pernah ada sebelumnya, namun di balik penemuan itu ia harus benar-benar rela kehilangan lingkungan dan budaya lamanya yang (mungkin) telah begitu akrab dan terkesan memesona. Maka, setiap pengembaraan bermula selalu ada air mata dan hati yang kecewa menyertainya. Peristiwa ini tergambar dalam puisi pertamanya di buku ini “Penyeberangan”:

Kapal akan segera tiba

Sebelum bersandar di dermaga

diharap penumpang mengemasi kesenduan

dari lapisan tanah kelahiran

Jangan sampai ada seujung hidung

pun barang tertinggal di dalam jiwa

bila perlu, dendam dan barang bawaan lainnya

ditenggelamkan hingga di kedalaman palung

Meski aku lirik mencoba untuk membuat pernyataan pengingkaran, namun pada hakikatnya ia ingin menegaskan bahwa sendu dan dendam yang diakibatkan karena perpisahan tidak dapat dipungkiri dan diacuhkan. Pengingkaran itu justru semakin memerlihatkan dengan kentara bahwa aku lirik dalam puisi “Penyeberangan” ini sangat ketakutan pada kesenduan dan dendam yang dipendam dalam-dalam karena ia adalah api yang bisa melahap tekat yang sudah bulat atau air yang dengan gampang menghempas harapan yang sudah dipupuk sejak lama di kampung halaman. Maka, tidak ada pilihan lain keculai membuangnya ke dasar palung kalau tidak ingin pengembaraan itu berakhir sia-sia.

Bagaimanapun hal itu perlu dilakukan sebelum cita-cita benar-benar terhempas dan hilang. Mengacuhkan rencana yang sudah mapan. Membuang cita-cita demi kerinduan yang tidak bisa ditahan adalah perbuatan yang tidak menggambarkan ke-Madura-an. Maka ta’ ngalodu’ copa se la epalowa (tidak kembali menelan ludah yang sudah diludahkan) merupakan penegasan kepastian dalam melangkah. Tidak boleh kembali sebelum benar-benar berhasil, tidak boleh menyerah sebelum benar-benar merasa puas dalam pengembaraan. Madura tidak hanya sebuah lokasi pun satuan administrasi, ia adalah jiwa yang harus terus membara dan menyatu dalam dirinya seperti dalam puisi “Madura”:

Api sunyi Maduraku semakin merah

Asap karapan jelmaan tegal rempah

Abadikan kejantanan bertabur madah

Apa pun diri kan kembali ke tanah

Mahwi sungguh memahami hakikat ke-Madura-an yang telah dia sandang. Meksi raga tidak bisa menyatu kembali namun jiwa telah sungguh terpatri. Terisi penuh hingga di setiap detak jantungnya hanya Madura yang semakin memerah, semakin membara. Ia telah menjadi sapi karapan yang gagah perkasa menerobos hiruk-pikuk kehidupan yang pekak. Berebut tempat untuk dipandang. Berebut kesempatan untuk bisa memenangkan impian.

Hadirin yang dimuliakan impian

Telah tiba sepasang sapi jantan

dari seberang kelam lautan

berlenggok menjelma ombak

berebut tempat di hati nan onak

(Tanah Air Karapan)

Namun, sebagai pengembara yang terasing dari tanahnya sendiri, penyair sadar bahwa sejauh apa pun pencapaiannya tetaplah selalu menyisakan luka dalam yang sulit disembuhkan. Bukan karena luka itu yang membuatnya sulit sembuh, namun luka itu diam-diam sengaja disimpan rapi dan dijaganya sepenuh hati. Ia adalah luka yang tidak biasa. Luka yang di dalamnya terdapat rasa sakit pun nikmat. Luka yang kemudian hari selalu melecutnya untuk terus berlari seperti luka-luka pada sapi karapan yang membuatnya memacu semangat untuk segera sampai di tujuan.

Luka itu berupa Aku ingin melipat/baju pemebrian ibu/di lemari tua berpelitur hitam kenangan. Ibu dalam puisi ini tidak merujuk secara khusus kepada seorang perempuan yang telah membesarkan si penyair selama ini, ia adalah sebuah artikulasi dari Madura sebagai tempat yang sejak ia dilahirkan hingga menjelang remaja dengan suka hati merawat dan menjaganya. Maka, rasa nyaman dan aman yang diandaikan pada baju itu tidak bisa ia lupakan dan begitu saja dibuang di tempat sampah belakang rumahnya. Ia adalah jimat yang tetap harus dijaga dan dirawat. Bagaimanapun, penyair adalah sebuah pohon yang tumbuh, berkembang dan berbuah. Maka, sebagai sebuh pohon tidak bisa serta-merta mengacuhkan akar yang telah menyuplainya makan.

Karena latar belakang kesantrian yang pernah diperoleh sejak MI, maka tatakrama terhadap leluhur dan gurunya begitu kentara pada puisi “Catatan Harian I”. Sebagai jimat maka ia perlu untuk dipelihara dan disimpan di tempat tertinggi, ya di atas langit, bukan hanya di atas kepalanya.

Aku ingin menyimpan rapi engsel di langit biru

melumasi karat nyanyian cintaku yang pilu

di lemari tua, warisan pilu masa lalu

helai-helai rambut dan pakaian kelabu

Mengembara bukan hanya sekadar pergi dan kembali mengingat yang telah tiada, tapi ia adalah sebuah perjuangan untuk bisa eksis dan bertahan dari seagala mara bahaya. Bagaimanapun, tanah yang aman dan melindungi telah jauh di sana. Hanya tinggal diri sendiri sehingga mengembara diperlukan kesiapan matang. Hal ini bisa kita lihat pada puisi “Pinang Kupinang Engkau, Sayang”.

Dengan berbekal tiga helai pandan

tiga butir jagung, dan potongan tulang

rusukmu, kupinang buram masa depan

dari gelora remaja yang enggan dijelang

Penyair ini sadar betul jika kelak di tanah rantau berbagai ketidakpastian akan mudah menyerang dan mungkin menghantamnya hingga jatuh tersungkur dan tidak lagi terbangun. Namun, sebelum itu benar-benar terjadi ia harus memersiapkan diri dengan sekep. Paling tidak, penyair harus bisa berdamai dengan segala keadaan. Dia harus meminang dirinya sendiri di tanah rantau, mencoba mengadaptasikannya dan mengakulturasikannya dengan tidak harus kehilangan diri yang sudah terbentuk jauh hari di tanah kelahirannya. Proses peminangan hanyalah jalan untuk bisa berdamai dengan keadaan apa pun di lingkungan yang sama sekali baru. Di sana terlalu banyak tanjakan dan tikungan yang sulit ditebak dan diraba hingga tidak jarang semuanya nampak suram bahkan hitam. Seperti dalam bait Pada sebuah tikungan kuraba malam/…/Kuaklah pusara tubuhku/luruhkan peluhmu/di jalan setapak ini, niscaya aku temui alamat buta/rumahmu//.

Maka, yang perlu dilakukan oleh penyair di tanah rantau yang asing itu tidaklah hanya sekadar kelu kesah dan bernostalgia dengan asal-muasal. Dia harus realistis dan idealismenya sebagai orang Madura harus dipertahankan. Ia harus segera beranjak dan berkemas sambil menaiki halaman demi halaman, lingkungan demi lingkungan dan akhirnya sebuah dunia yang sejak masa kanak-kanaknya diyakini tidak selebar daun kelor. Sambil mencari keseimbangan/kudaki jenjang nasib dan kepingan/…/ sebelum jauh beserpih//.

Merayakan Perjumpaan

Setiap kembara jelas memunyai tujuan tertentu. Dulu, di Madura dikenal dengan santri kelana. Mereka yang mengembara ke berbagai daerah baik di Jawa dan luar Jawa memunyai tujuan yang sama: mengaji kepada kiai-kiai yang alim dan allamah di bidangnya. Selain itu mereka punya visi mulya dengan memberikan kabar dari satu daerah ke daerah berbeda. Maka, sejarah mencatat, sejak dibangunnya rel kereta dan dioperasikannya kereta api di Jawa pada pertengahan abad ke-19 orang Maduralah yang tercatat sebagai penumpang paling banyak di setiap stasiun.

Mahwi tidak terkecuali dari itu semua. Meski awal hijrahnya yang dimulai sekitar tahun 1990-an ke sebuah pondok di Kota Sumenep dan dilanjutkan ke Jogja tahun 2004 adalah mondok dan kuliah, baginya itu hanya tujuan antara. Yang paling penting adalah memerdalam proses kreatif dan menjemput bakatnya. Sekolah dan pondok hanyalah tempat bersinggah ketika lelah dan kembali mengembara mencari jati diri yang sesungguhnya. Sapa se atane atana’, sapa se adagang adaging (Siapa yang bertani maka akan menuai hasilnya, siapa yang berdagang akan untung) merupakan kata bijak orang Madura yang sudah mendarah daging dan menjadi bekal awal dalam usaha pencarian itu. Tidak sia-sialah ia berpayah-payah, tidak mubazirlah ia berdarah-darah derita. Hal ini bisa dilihat pada puisinya “Taman Puisi”:

Merah kesumba taman senja

Jadi rebutan tunas penyair muda

Bunga, daunan gugur menjauh

Pena terselip di balik kutang lusuh

Meski sudah sejak usia SD ia dibesarkan oleh Syai’ir di radio Karimata, kitab syair yang diberikan enten-nya, berkelindan dengan buku dan kitab yang dibaca di pesantren dan rumah gurunya, Hidayat Raharja, baru kali ini ia betul-betul menemukan makna perjalanannya. Mungkin alam yang telah memaksa atau bahkan menunjukinya jalan, entahlah. Pengembaraan yang begitu jauh dan memaksanya menekan segala rasa pilu, derita dan sengsara telah tidak lagi dirasakan. Ia telah benar-benar bertemu dengan tujuan utamanya: puisi itu sendiri.

Maka di laut puisi, Mahwi bertemu dengan banyak penyair mulai dari Chairil dengan puisi perjuangannya, Hamzah Fansuri yang profetis, Umar Kayam yang punya seribu wajah, Gunawan Muhammad sebagai si Malin Kundang, Hamsad Rangkuti si tukang cerita yang mengingkari ceritanya sendiri, Ibu D. Kemalawati sang dokumentator dan penulis multi talent, Raudal si cerpenis sekaligus penyair yang memunyai jalan berkelok dalam pengembaraan literernya dan masih banyak penulis-penulis lainnya baik di dalam negeri pun lintas negara.

Setelah perjumpaan yang menyenangkan itu, serupa bunga yang mekar di taman dan telah menyumbangkan keharuman dalam perjalanan kembara Mahwi sampailah ia pada sebuah keindahan yang tiada tara. Maka, terbayarlah sudah kegelisahan dan derita yang pernah ia rasakan. Tidak ada pilihan lain kecuali menyesap dan mengisapnya hingga habis dan benar-benar puas seperti dalam puisi “Kembang Puisi”:

Puas sudah kusesap kelopak sajak

Dari dahan penyair tanpa suar

Dari buah kata dan kembang mekar

Dari sayap bahasa penyair puncak

Di sini bisa kita lihat kelahapan Mahwi dalam mencari jati dirinya dan menemukan tujuan pengembaraan yang sesungguhnya. Tidak hanya mencicipi dan merasakan sebentar, itu tidak cukup. Yang ia butuhkan adalah totalitas dan menyelam dalam-dalam. Mon bacca pabacca sakale, kalau sedang melakukan sesuatu harus total, tidak boleh setengah-setengah. Begitulah nenek moyang orang Madura selalu berwasiat. Dan ia telah melakukannya dengan penuh bahagia.

Sebuah Dialektika Literer

Meski pertemuan demi pertemuan telah membukakan pintu cakrawala baginya, ia hadir tidak serta-merta mengikuti arus yang deras dan menghanyutkan. Sebagai seorang yang berada di tengah-tengah pusara, Mahwi sangat paham dan berani mengambil sikap. Maka, dari guru-gurunya, baik langsung pun tidak langsung, ia coba mencari apa yang bisa diambil dan membuang atau mengritisi apa yang tidak pantas dan mungkin saja bertentangan dengan jiwanya. Hal ini bisa dilihat pada puisi “Dari Poso ke Sarajevo”:

Mungkim Munir dalam narasimu akan tampak nyinyir

Kami tak ingin memimpikannya seperti dirimu

Berharap Frida Kahlo datang dalam mimpi pilu

Narasi kami sudah penuh dengan peristiwa di tanah

air:

Di sini kita bisa melihat proses dialektika literer terjadi dalam diri Mahwi. Sebagai seorang yang dilahirkan di sebuah desa di ujung Madura ia telah memunyai estetikanya sendiri yang kemudian bertemu dengan estetika-estetika bermacam wajah. Maka, sebuah sikap harus segera diambil jika ia ingin tetap bertahan dengan aman. Tidak mungkin ia terus bertahan dengan estetika yang telah mendarah daging namun tidak bisa diterima jika pada akhirnya ia hanya menjadi pengekor yang tidak punya kemandirian. Maka, sebuah pilihan tepat jika ia memutuskan untuk berguru sekaligus mendebat seperti tergambar dalam puisi yang sama di bawah ini:

Peristiwa berdarah; Aceh, Sampit, Papua, dan Poso

Biarlah Frida Kahlo menari dalam puisimu

Kami, anak muda akan menjahit rasa malu

Dalam lipatan selendang berdarah Wiji Tukul Solo

Perjalanan yang penuh onak dan duri ini tidaklah membuatnya berhenti ketika di tengah-tengah itu terdapat taman yang sejuk dan indah, bahkan setelah semua warna bunga dan harumnya ia sesap. Ia harus terus mengembara, mengembangkan bakat dan kemampuan literernya. Tidak heran ketika pada akhirnya ia pun bertemu dengan berbagai dunia baru yang berupa cerpen, lakon, esai dan juga novel. Seketika itu pula keinginannya untuk menyesap dan menikmati sungguh kembali mekar dan membara.

Ah, Madura memang bukan hanya sebatas administrasi dan lokasi, ia adalah jiwa yang memahat makna. Merantau hanya salah satu cara untuk bermuhasabah dan mengasah diri lebih mandiri. Sejak dua belas tahun lalu Mahwi telah mencobanya dan tidak sia-sia. Tidak ada kata berhenti untuk melangkah karena perjalanan masih panjang dan pengembaraan masih harus terus diulang hingga pada waktunya semuanya berpulang dan tidur dengan tenang di pangkuan ibu, di bekapan dingin tanah kelahiran, pada sebuah pelabuhan kekal.

Api sunyi Maduraku semakin merah

Asap karapan jelmaan tegal rempah

Abadikan kejantanan bertabur madah

Apa pun diri kan kembali ke tanah

(Madura)

 

Dianjurkan bagi penumpang kapal

dengan tujuan pelabuhan kekal

bertahan sejenak dari sakal

biarlah ombak jadi bantal

(Penyeberangan)

*Khoirul Umam, kolumnis dan aktivis pemerhati lingkungan dan anggota BATAN, sekretaris MWC NU Gapura dan Guru di MA Nasa1. Alumni pascasarjananya UGM-FIB Antropologi. Tulisannya berupa cerpen, puisi, esai, artikel, opini, resnsi telah dimuat di media local dan Nasional. Penulis bisa dihubungi di 087866184534.

Komentar