Kanselir Jerman Angela Markel
Kanselir Jerman Angela Markel

NUSANTARANEWS.CO – Dalam Konferensi Perubahan Iklim yang diselenggarakan oleh PBB di Paris, 13 negara sepakat untuk melarang mobil-mobil bermesin bensin dan diesel beredar di wilayah mereka pada tahun 2050 mendatang. Tujuannya adalah untuk untuk mempercepat pemulihan kondisi lingkungan dan menggalakkan gaya hidup yang ramah lingkungan, utamanya di sektor transportasi. Untuk kendaraan penumpang, akan dianjurkan pemakaian mobil-mobil berbahan bakar alternatif seperti mobil listrik, mobil hidrogen, fuel cell, tenaga surya, dan energi terbarukan lainnya.

Menindak lanjuti kesepakatan itu, Jerman bertekad menjadi negara pelopor yang akan menerapkan peraturan ketat dalam penggunaan kendaraan bermotor. Setidaknya pada 2030, semua mobil yang dijual di Jerman harus bebas emisi.

Menurut Wakil Menteri Ekonomi Jerman, Rainer Baake, seperti dilansir Automotive News, beberapa waktu lalu, pemerintah Jerman berjanji akan memangkas keluaran karbondioksida 80 hingga 90 persen pada 2050. Namun, hal itu akan sia-sia jika pemerintah Jerman tidak membatasinya penggunaan kendaraan bermotor yang berpolusi.

Baake menyebut, biasanya mobil memiliki umur maksimal 20 tahun. Artinya, kata dia, penjualan mobil bermesin bensin atau mesin diesel harus dihentikan 15 tahun ke depan.

Pemerintah Jerman mendukung penggunaan kendaraan ramah lingkungan. Kanselir Jerman, Angela Merkel berjanji memberikan subsidi untuk mempercepat penjualan mobil listrik mulai tahun ini.

Saat ini, penjualan mobil listrik di Jerman masih kecil. Menurut otoritas registrasi kendaraan Jerman, hanya sekitar 130 ribu mobil plug-in hybrid dan 25.000 mobil listrik yang terdaftar di Jerman pada Januari lalu. Padahal, mobil bermesin bensin tercatat sebanyak 30 juta unit dan mobil diesel sebanyak 14,5 juta unit.(Banyu/dari berbagai sumber)

Berita terkait

  1. Indonesia Tidak Boleh Menjadi Negara Gagal Dalam Globalisasi Gelombang III
  2. Rakornas II, Pergerakan Kebangsaan Menjawab Tantangan Zaman Baru

Komentar