Ekonomi

Tahun 2030, Empat Sektor Pekerjaan di AS Gunakan Tenaga Robot

Sebuah Robot Sedang Mengolah Masakan/Foto via express/Nusantaranews
Sebuah Robot Sedang Mengolah Masakan/Foto via express/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.COPrice Waterhouse Cooper (PWC) mengungkapkan bahwa hingga 38 persen dari pekerjaan di Amerika Serikat bisa dilakukan dengan metode otomisasi pada tahun 2030 mendatang. Adapun statistik untuk Inggris 30 persen dari pekerjaan, Jerman 35 persen dan Jepang 21 persen.

Tapi Departemen Keuangan AS, seperti dilansir Express mengatakan masih kurang percaya bahwa robot (metode otomisasi) dapat mengambil alih pekerjaan manusia dalam waktu secepat yang diperkirakan.

Sementara Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin mengatakan kalau dirinya tidak khawatir perpindahan pekerja manusia dengan robot yang akan terjadi di AS. Sama seperti komentar Departemen Keuangan AS, Mnuchin juga memprediksi hal itu hanya akan terjadi 100 tahun lagi sehingga tak mungkin segera terjadi.

“Ini tidak masuk radar di layar kami, 50-100 tahun lagi. Saya yakin,” kata dia. Miliarder Mark Cuban mengaku terkejut dengan ketidakpedulian Mnuchin.

Laporan PWC mengatakan AS dan Inggris memiliki kondisi ekonomi yang sama, tetapi lebih luas sektor jasa keuangan sehingga memungkina otomatisasi bisa terwujud dalam waktu dekat.

“Pekerjaan keuangan dan ritel di AS oleh metodologi kami dinilai sebagai kenyataan yang signifikan dan jadi lebih automatable dari rata-rata pekerjaan sektor keuangan di Inggris dengan lebih besar pada keuangan internasional dan investasi,” tulis laporan tersebut.

Di AS, PWC mengatakan kans robot menggantikan peran pekerja yang tertinggi di sektor seperti transportasi, penyimpanan (56 persen), manufaktur (46 persen), grosir dan eceran (44 persen). Di sektor keuangan dan asuransi, AS dimungkinkan akan lebih membutuhkan tenaga robot dibandingkan Inggris.

“Analisis lebih lanjut dari data yang menunjukkan bahwa perbedaan utama adalah terkait dengan tingkat pendidikan rata-rata profesional keuangan yang secara signifikan lebih tinggi di Inggris daripada AS,” tulis laporan itu lagi.

Penulis: Eriec Dieda

Komentar

To Top