Kurnia Meiga gagalkan tendangan penalti Teerasil Dangda menit ke 80/Foto crop via Yotube
Kurnia Meiga gagalkan tendangan penalti Teerasil Dangda menit ke 80/Foto crop via Yotube

NUSANTARANEWS.CO – Tim Nasional Indonesia mungkin bisa dikatakan spesialis runner-up di ajang Piala AFF. Runner-up adalah prestasi mentok timnas sepakbola Indonesia setelah mencatatkan rekor lima kali tak pernah menang di partai puncak. Teranyar, timnas Indonesia antiklimaks di leg kedua Piala AFF 2016 usai Teerasil Dangda dkk sukses mengubur dalam-dalam mimpi timnas menjadi kampiun untuk pertamakalinya di ajang sepakbola bergengsi di kawasan ASEAN tersebut. Stadion Rajamangala adalah saksinya. Dan sekaligus mengukuhkan kegagalan lima kali secara beruntun.

Sedikitnya, timnas sepakbola Indonesia tercatat telah lima kali maju ke babak final, yakni 2000, 2002, 2004, 2010 dan 2016. Kans timnas Indonesia menjuarai Piala AFF 2016 sebenarnya sangat besar. Boaz dkk hanya butuh hasil seri di leg kedua yang digelar di Rajamangala, stadion tuan rumah Thailand. Pasalnya, di leg pertama yang digelar di stadion Pakansari, timnas sukses meraih kemenangan tipis berkat gol Hansamu dan Lilipaly. Tapi sayang, di leg kedua timnas justru tak mampu mencetak sebiji gol pun, sementara Thailand berhasil meletakkan dua gol. Walhasil, piala bergengsi AFF jatuh ke tangan Thailand lagi untuk yang keelima kalinya.

Harapan timnas Indonesia tampil sebagai juara pertama di Piala AFF 2016 awalnya membuncah. Seluruh rakyat Indonesia optimis timnas keluar sebagai pemenang karena bekal kemenangan di Pakansari. Namun di lapangan hijau berkata sebaliknya. Indonesia gagal lagi.

Apakah kita kecewa dan menyesal? Tentu saja. Meski runner-up adalah juga sebuah prestasi, tetapi menjadi juara sebenarnya bukan hanya sekadar mimpi. Sudah begitu, kerja keras timnas di dalam dan luar lapangan rasa-rasanya tak pantas jika hanya diganjar dengan medali runner-up. Meskipun secara permainan Andik dkk bisa dibilang tak menjanjikan di babak-babak sebelumnya, terutama di semifinal saat melawan Vietnam, tetapi kerja keras, semangat, optimisme dan konsistensi nyatanya senjata paling ampuh untuk menepis mitos bahwa keberuntungan jadi faktor dari sebuah usaha dan kerja keras. Lain daripada itu juga adalah perihal mentalitas. Dalam sebuah ajang besar, mentalitas merupakan aspek yang paling krusial untuk meraih hasil sempurna. Apalagi ajang sekelas Piala AFF, di mana setiap diri tak luput dari sorotan ribuan mata manusia beserta serak sorainya yang mengguncang langit dan cakrawala. Jebrettt! Dua gol Siroch Chattong pun berhasil meruntuhkan mentalitas para pemain timnas Indonesia. (Sego/Er)

Komentar