Peternakan Sapi di Kalimantan Timur / Nunsataranews / Dok. duniaternak
Peternakan Sapi di Kalimantan Timur / Nunsataranews / Dok. duniaternak
Peternakan Sapi di Kalimantan Timur / Nunsataranews / Dok. duniaternak
Peternakan Sapi di Kalimantan Timur/Ilustrasi: Nunsataranews/Dok. Duniaternak

NUSANTARANEWS.CO – Bukan hal mengejutkan kalau masalah selalu saja datang dan dijadikan alasan ketika pemerintah gagal menjalankan programnya, termasuk perihal program swasembada sapi. Kali ini, problem krusial yang dihadapi pemerintah dalam menjalankan program swasembada sapi adalah adanya penyakit keguguran janin sapi atau Brucellosis, seperti dikemukakan anggota Komisi IV DPR RI, Sulaiman Hamzah.

Sulaiman menuturkan, di beberapa daerah penghasil sapi, seperti Kendari dan Sulawesi Selatan kerap ditemukan penyakit Brucellosis yang menyerang ratusan bahkan ribuan sapi. Akibatnya, indukan yang seharusnya produktif melahirkan bibit sapi malah mengalami keguguran pada kehamilan 5-8 bulan.

“Brucellosis masih menjadi momok di beberapa tempat, seharusnya memang Pemerintah memerangi penyakit keguguran tersebut kalau memang menargetkan swasembada. Tanpa dibasmi mustahil bisa mencapai target,” ungkapnya saat ditemui di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Senin (18/7/2016).

Dalam kondisi yang terbilang mustahil ini, Sulaiman berharap program swasembada sapi yang dicanangkan Pemerintah bisa terlaksana dalam waktu dekat demi mencapai target dalam menekan harga daging sapi yang masih sebatas janji pemerintah selama ini. Terakhir, harga daging sapi bahkan sempat menimbulkan kegaduhan dalam negeri serta kepanikan pasar dan para pedagang akibat ulah pemerintah yang seakan tak mampu berbuat apa-apa menghadapi mahalnya harga daging sapi. Padahal, sebelum bulan puasa lalu Presiden bahkan berjanji harga daging sapi akan berada pada angka Rp80.000 per kilo. Namun nyatanya, hingga kini permasalahan tersebut tak terselesaikan lalu tenggelam sebelum akhirnya Sulaiman mengungkapkan permasalahan yang terjadi, yakni adanya penyakit Brucellosis yang berdampak pada gagalnya target pemerintah menekan harga daging sapi.

Baca: Pencitraan Jokowi Penyebab Harga Daging Sapi Mahal

Sulaiman menambahkan, demi mewujudkan hal tersebut, kuncinya adalah Pemerintah mau untuk mengembangkan varian sapi lokal yakni sapi Bali dan sapi Nusa Tenggara Barat (NTB). Alasannya, kata dia, kedua varian sapi tersebut paling ideal untuk kondisi geografis Indonesia.

“Selain tahan penyakit, Sapi Bali dan NTB dinilai cocok untuk konsumen Indonesia dibanding sapi impor yang mengandung banyak lemak,” demikian Sulaiman yang merupakan politisi Partai NasDem ini. (Deni/Red)

Komentar