Berita Utama

Survei ComRes: 38 Persen Publik Inggris Mendukung Langkah Trump

Penembakan 59 rudal Tomahawk Cruise dari USS Porter dan USS Ross ke lapangan udara Sharyat di Homs Barat (Ilustrasi). Foto: Dok. Trump.ma
Penembakan 59 rudal Tomahawk Cruise dari USS Porter dan USS Ross ke lapangan udara Sharyat di Homs Barat (Ilustrasi). Foto: Dok. Trump.ma

NUSANTARANEWS.CO – Serangan rudal Amerika Serikat atas perintah Donald Trump terhadap Suriah diketahui menuai pro dan kontra publik Inggris. Inggris adalah sekutu tradisional Amerika Serikat. Namun, penembakan 59 rudal Tomahawk Cruise dari USS Porter dan USS Ross ke lapangan udara Sharyat di Homs Barat sebagian ditolak publik Inggris.

Seperti diwartakan, beberapa waktu lalu Trump memerintahkan serangan rudal Tomahawk ke Suriah sebagai pembalasan terhadap penggunaan senjata kimia terhadap penduduk sipil, yang diduga dilakukan oleh rezim diktator Bashar al-Assad meski Bashar mengatakan hal itu tidak benar. Namun, AS yakin Bashar telah menggunakan senjata kimia untuk menyerang warga sipil tak berdosa.

Atas serangan AS ini, ComRes seperti dikuti Independent melakukan jajak pendapat. Hasilnya ditemukan 38 persen responden percaya bahwa langkah Trump sudah tepat. Sementara 35 persen lainnya responden tidak setuju dengan serangan tersebut, dan lebih dari 20 persen responden mengaku tidak tahu.

Menurut Trump, serangan senjata kimia yang dilakukan rezim Bashar di Idlib adalah tindakan kejam. Tak sedikit warga sipil terpapar gas beracun yang disebut-sebut diluncurkan melalui pesawat tempur milik rezim Suriah.

Lebih lanjut, jajak pendapat juga menemukan bahwa orang dewasa di Inggris lebih cenderung mengatakan bahwa pemerintah Inggris tidak harus mengambil tindakan militer terhadap Presiden Assad. Sebanyak 42 persen tidak setuju dan 25 persen lainnya setuju serta sepertiga dari responden tidak tahu.

Sementara itu, ketika ditanya apakah setuju dengan pernyataan bahwa situasi di Suriah akan lebih baik bila Inggris dan sekutu Barat lainnya menggunakan kekuatan militer pada tahun 2013 silam. Jajak pendapat menemukan 31 persen responden setuju dengan pernyataan tersebut, sedangkan 27 persen lainnya tidak setuju.

Tak sampai di situ, ComRes juga mengajukan pertanyaan apakah Kemenlu Inggris Boris Johnson adalah halangan untuk tujuan kebijakan luar negeri pemerintah. Masyarakat juga terpecah; 37 persen setuju sedangkan 32 persen tidak setuju.

Terkait ketegangan di semenanjung Korea, responden percaya kalau Korea Utara adalah ancaman besar bagi perdamaian dunia. Bahkan, jajak pendapat menemukan ancaman Korut malah lebih besar dibandingkan ancaman senjata kimia di Suriah. Pasalnya, nuklir Korut dinilai sangat berbahaya bagi pedamaian dunia. Walhasil, 46 persen responden menilai nuklir Korut adalah ancaman perdamaian dunia. Sebanyak 22 persen tidak setuju dengan pendapat tersebut, dan 30 persen reponden menjawab tidak tahu.

Pewarta: Eriec Dieda
Editor: Achmad Sulaiman

Komentar

To Top