Connect
To Top

Surat Pajak dan Doa Istri – Puisi Hariyanto Nukman

Doa Istri

Istriku rajin sembahyang
dan berdoa panjang-panjang
tahajudnya menugal tanah ladang
duhanya masa panen jagung di musim penghujan
adalah harapan yang selalu dipanjatkan
pagi    siang    sore     malam

Anakku yang perempuan diajarinya berdandan,
cara bicara dengan senyuman menawan
tak lupa pula ia sisipkan
mantra pengasihan; penjinak hati si tampan beruang.
Anakku yang laki-laki dididiknya percaya diri dengan dasi,
cara memakai baju dan merapikan tali sepatu

Istriku rajin sembahyang
berdoa panjang-panjang
agar bulan depan namanya keluar dari tabung botol arisan
sebagai bahan pelengkap gunjingan, ia hidangkan masakan
ikan beragi rendang buat tetamu; ibu-ibu tetangga
membual kata-kata.

Istriku rajin sembahyang dengan doa macam-macam
sembari menunggu si tuan penagih hutang datang dengan riang
agar cicilan bulanan cepat dilunaskan dengan diskon bunga berjalan

Istriku rajin sembahyang pagi siang sore dan malam
pandai merawat diri; menyisir rambut dan potong kuku
setiap bulan ia rajin membeli baju dan ganti gincu
tak lupa pula dikumpulkannya nota-nota tagihan;
menjadi penanda pada buku agenda
dan tercatat di tanggalan keluarga.

Istriku rajin sembahyang
berdoa panjang-panjang
menghabiskan usia seperti rahasia
doa
kepedihan
yang dipanjatkan:

tanggal berapa sekarang?

Cakranegara, Desember 2016

Surat Pajak

Penagih hutang itu datang
di rabu gelap
bayang langkahnya lindap bersijingkat penuh gelagat
Aku baru saja selesai sembahyang
dua rakaat saat ketukan pintu berderak seperti isyarat yang buruk

pagi datang perasaanku rawan
gigil
kubaca surat
pada lipatan pertama tertera nama,
alamat tempat nomor pokok wajib pajak.

lipatan kedua kudapati angka-angka
tunggakan bunga dan denda
diketik apik dengan nominal huruf kapital
dari seorang admin akuntan bertangan dingin.

lipatan ketiga kudapati deretan kata
pernyataan dan ancaman
juga pertanyaan yang sama
seperti sediakala,
hari-hari sebelumnya
Tanggal berapa sekarang?

Cakranegara, Desember 2016

*Hariyanto Nukman, Lahir di Bima dan besar di Aikmel Lombok Timur pada 1983. Sering menulis esai dan opini dengan nama Antosa Rakatesa. Menjadi aktor di teater Embrio Lombok dan Pernah mendapat Penyutradaraan Terbaik II pada Lomba Monolog Peksiminas VIII di Makassar pada tahun 2006 mewakili Teater Putih FKIP Universitas Mataram.

Karya tulisannya dipublikasikan di Majalah Gong, Harian Suara NTB, Lombok Post, Koran Kampung, Risalah Seni, dan karya puisinya tergabung dalam antologi komunal; Kembang Mata (2014), Ironi bagi Para Perenang (2015). Ia juga sebagai salah satu founder Komunitas Akarpohon Mataram. Pernah bekerja di beberapa bank swasta nasional. Saat ini bekerja tidak tentu, sambil tetap aktif membidani Komunitas KlaSiKa Lombok.

Komentar