Lukisan
Lukisan "Melahirkan Pancasila" (2011) karya V.A. Sudiro/Foto: Dok. Majalah Griya Asri

NUSANTARANEWS.CO – Badan Pembudayaan Kejoangan 45, Pandji R Hadinoto mengatakan bahwa, kemuliaan Pancasila diyakini tetap menjadi kunci bagi keberlangsungan NKRI‎. Implementasinya dapat dijalankan lewat kiprahkan politik kemantapan Pancasila Indonesia 29 Januari 2017.

Politk kemuliaan Pancasila Indonesia juga mengindahkan strategi tujuh kesehatan, strategi tujuh ketahanan bangsa, dan strategi tujuh kemenangan.

“Strategi 7 (tujuh) kesehatan dalam konteks Tubuh Negara-Bangsa yakni (1) Sehat Bermasyarakat, (2) Sehat Berbangsa, (3) Sehat Bernegara, (4) Sehat Politik Hukum Perundang-undangan, dan dalam konteks Tubuh Manusia yaitu (5) Sehat Logika/Nalar, (6) Sehat Rohani/Jiwa, dan (7) Sehat Jasmani/Raga,” terang Pandji kepada nusantaranews, Selasa (31/1/2017).

Terkait dengan strategi 7 (tujuh) ketahanan bangsa sebagaiman dicetuskan HR Soeprapto (alm) yaitu (1) kehidupan Agama tidak Rawan, (2) kehidupan ideologi tidak retak, (3) kehidupan politik tidak resah, (4) kehidupan ekonomi tidak ganas, (5) kehidupan sosial budaya tidak pudar, (6) kehidupan HanKamNas tidak lengah, dan (7) kehidupan lingkungan tidak gersang.

“Strategi 7 (tujuh) kemenangan hidup seperti disebutkan Gus Sholeh yakni (1) yang tetap sejuk di tempat yang panas, (2) yang tetap manis di tempat yang pahit, (3) yang tetap merasa kecil walau telah menjadi besar, (4) yang tetap tenang di tengah badai yang dahsyat, (5) yang tetap bersyukur atas segala Karunia-Nya, (6) yang tetap istiqomah di jalan-Nya, dan (7) yang tetap menggantungkan harapan hanya kepada Tuhannya,” urai Pandji.

Sesuai wacana yang digulirkan penegak Konstitusi Proklamasi 1945, tambah Pandji, bina kemuliaan pancasila, secara strategik dilakukan di tengah situasi dan kondisi kontraksi politik deglobalisasi.

“Bahkan, bisa saja berlanjut ke arah deneoliberalisasi pasca deklarasi politik America First 20 Januari 2017‎ oleh Presiden Amerika Serikat Ke-45, Donald J Trump, seperti terindikasi dari peristiwa-peristiwa sosial politik susulan,” katanya.

Apalagi, kata Pandji, disinyalir ‎telah terjadi bergesernya pemahaman ideologi Pancasila sebagaimana tersurat dalam rekomendasi hasil Musyawarah Kebangsaan Pusat Studi Ketahanan Nasional dengan tema “Mencapai Mufakat Penyelamatan NKRI” di Universitas Nasional, Selasa (27/12/2016).

Pandji berharap, “politik kemuliaan Pancasila Indonesia” ini beriringan dengan “politik kemantapan Pancasila Indonesia 29 Januari 2017” bisa turut mendorong lebih bersegera kembali ke Konstitusi Pro Pancasila, dan UUD 1945.

“Sehingga jatidiri bangsa Indonesia terkokohkan tepat waktu dan tepat manfaat menghadapi hantaman arus ketidakpastian dampak deglobalisasi/deneoliberalisasi pasca 20 Januari 2017,” pungkas Pandji. (Sule)

Komentar