Millennia generation

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Salah satu kritik terbesar yang ditujukan kepada generasi milenial adalah terkait hak tak terbatas yang telah diberikan. Generasi yang lebih tua mengatakan bahwa generasi milenial mengharapkan urusan dunia diserahkan kepada mereka saja karena segala perkara sudah bisa dilakukan dengan cara yang mudah.

Namun, kemungkinannya adalah baby boomers justru yang lebih berhak daripada generasi milenial. Mengutip berbagai sumber, baby boomers adalah generasi kedua (1946 – 1964) yang lahir dengan dilatarbelakangi oleh tingkat kelahiran tinggi pasca perang dunia kedua. Generasi ini diperkirakan berjumlah 30 persen dari total populasi dengan karakter sebagai seorang pahlawan yang  berorientasi pada kenyamanan dan merespon terhadap petunjuk pencapaian. Baby boomers disebut sebagai generasi penentu karena setiap individu telah mulai menentukan perubahan untuk masa depan kendati masih dalam skala yang sangat kecil.

Menurut sebuah studi baru seperti dikutip Independent, generasi milenial percaya bahwa orang harus mandiri secara finansial rata-rata satu setengah tahun lebih awal daripada baby boomers.

Usia 22 tahun dikatakan saat di mana milenial berpikir bisa membeli rumah, mobil dan barang-barang mewah lainnya dengan jerih payah sendiri.

“Milennial sering diberi stereotip sebagai pemilik hak,” kata Sarah Berger, seorang kolumnis dan analis di bankrate.com.

“Sangat menyegarkan untuk melihat bahwa milenial benar-benar memiliki harapan tinggi untuk mendapatkan kebebasan finansial dan melepaskan masalah keuangan dari orang tua mereka,” tambah dia.

Penelitian yang dilakukan oleh situs keuangan pribadi bankrate.com, mensurvei 1.000 orang dewasa dari seluruh AS. Milenial, generasi X, baby boomer dan silent generation (lahir antara tahun 1920an dan pertengahan 1940an) ditanya berapa usia yang harus dibayar orang untuk tagihan mereka sendiri.

Meskipun ada beberapa perbedaan antara wilayah dan sudut pandang politik, rata-rata mereka percaya bahwa orang harus dapat membeli barang-barang berharga dengan hasil keringat mereka sendiri. Temuan tersebut mengungkapkan bahwa kaum muda tidak ingin bergantung pada penghasilan orang tua mereka karena menganggap dirinya mampu berpikir sendiri.

Namun, meski milenial ingin mandiri secara finansial, bukan berarti semua orang muda mampu memenuhinya. Jika mengacu pada orang dewasa muda di Inggris, mereka justru tinggal bersama orang tuanya dan mencapai rekor tertinggi dengan 3,3 juta anak berusia 20-34 tahun. Artinya, keterlibatan orang tua untuk perkembangan finansial orang remaja masih relatif cukup tinggi. (ed/indept)

Editor: Eriec Dieda

Komentar