Berita Utama

Strategi Penangkalan Preventif Keamanan Nasional (Pembentukan Intelijen Ekonomi)

Letnan Jenderal TNI (Purn.) Sjafrie Sjamsoeddin/Foto Istimewa
Letnan Jenderal TNI (Purn.) Sjafrie Sjamsoeddin/Foto Istimewa

Kolom: Letnan Jenderal TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin

NUSANTARANEWS.CO – Menyadari bahwa mengatasi akar masalah ancaman keamanan adalah melakukan deteksi dini terhadap suatu kompleksitas informasi yang begitu terbuka dan terus menerus memasuki ruang kehidupan masyarakat, maka tugas utama dari intelijen ekonomi adalah pertama, mengamati seluruh fenomena politik ekonomi global, mengumpulkan informasi dari segenap sumber informasi, termasuk dari sumber Badan-badan lntelijen Nasional.

Kedua, menyeleksi informasi berdasarkan suatu logika paradigma baru ancaman keamanan nasional yang diakibatkan oleh suatu aktivitas di bidang perekonomian, sehingga informasi yang dimanfaatkan benar-benar relevan untuk digunakan sebagai basis pengolahan data.

Ketiga, mengorganisasikan serta mengintegrasikan seluruh data dan informasi yang diseleksi untuk dianalisa, disimpulkan, sehingga menghasilkan suatu sintesa masalah yang akan menghasilkan berbagai rekomendasi baik teknis, maupun non teknis ekonomis, namun fokus utamanya adalah masalah Keamanan Nasional.

Keempat, melakukan evaluasi seluruh siklus tersebut di atas dari waktu ke waktu dan berkelanjutan untuk memperoleh ketajaman, serta keakuratan hasil akhir, mengingat dimensi “perubahan” adalah salah satu elemen pokok dari era globalisasi, sehingga perubahan informasi yang cepat dan signifikan akan selalu memberi dampak ancaman yang berbeda, yang berarti solusi dan rekomendasi kepada para pengambil keputusan pun dapat berubah sesuai dengan dinamika proses ekonomi global maupun regional.

Untuk dapat melaksanakan hal tersebut, maka intelijen ekonomi harus dibekali dengan berbagai pengetahuan dasar lintas disiplin, baik politik, ekonomi, perbankan, maupun pertahanan dan keamanan. Dengan demikian, terbentuknya suatu intelijen ekonomi haruslah mempunyai persyaratan meliputi:

(1). Adanya pembentukan suatu infrastruktur, acuan yang berisi indikator perekonomian yang memberi batas bagi suatu sinyal bahaya yang dapat menimbulkan ancaman pada masalah keamanan nasional. Acuan yang dijadikan rujukan tingkat ancaman ini dapat berubah dari waktu ke waktu disesuaikan dengan perubahan dan perkembangan tingkah laku pelaku politik ekonomi dunia. Dengan demikian unsur fleksibilitas menjadi faktor penting mekanisme intelijen ekonomi.

(2). Dengan keharusan untuk mampu membaca dan menganalisa masalah yang multidimensi, maka keterlibatan lintas disiplin akan lebih efektif bila melibatkan para pelaku fungsional itu sendiri, baik pelaku politik maupun pelaku ekonomi (termasuk pelaku pasar uang) dan pelaku keamanan. Dengan demikian, maka hasil akhirnya merupakan suatu sintesa forum multidisiplin yang diorganisasikan dan diintegrasikan. Berdasarkan hal tersebut, maka intelijen ekonomi tidaklah dapat disubordinasikan pada badan-badan intelijen yang cenderung terorganisasi secara kaku dan struktural. Dengan demikian, sesuai sifat intelijen yang dapat diartikan kegiatan rahasia, maka intelijen ekonomi mempunyai inti (core) organisasi yang tertutup, dan suatu jaringan komunitas intelijen yang sifatnya terbuka dan terdiri dari para ahli ekonomi, profesional dan praktisi. Unsur organisasi inti yang kuat, yang mengutamakan landasan kepentingan keamanan bangsa menjadi kerangka berdirinya intelijen ekonomi.

(3). Spektrum kegiatan intelijen ekonomi tidak dibatasi oleh waktu dan pada suatu kondisi kemungkinan timbulnya ancaman. Namun sesuai dengan tugasnya, maka sasaran yang dituju tetap mempunyai fokus yang spesifik, yakni seluruh aktivitas ekonomi baik di luar maupun di dalam negeri yang dapat memberi suatu resultan ancaman keamanan yang berskala lokal dan nasional.[]

Baca: Strategi Penangkalan Preventif Keamanan Nasional (Sistem Deteksi Dini)

Editor: Romandhon

Komentar

To Top