Lola Dupre illustrates When Your Child Is a Psychopath. (theatlantic.com)
Lola Dupre illustrates When Your Child Is a Psychopath. (theatlantic.com)

Cerpen : Devian Amilla

Aku menatap mainan baruku yang sibuk menangis memohon belas kasih. Dia mengerjapkan matanya seolah ingin mengatakan sesuatu padaku. Kubuka perekat yang menempel di mulutnya dengan kasar.

“Kumohon, maafkan aku. Aku menyesal telah memanggilmu seperti itu.” Air matanya terus mengalir tanpa henti.

Aku memutar bola mataku kesal. Bodoh! Air matamu tidak akan bisa menolongmu. Aku sudah terlanjur kesal padamu. Siapa yang menyuruhmu dengan gagah memanggilku dengan sebutan Psycogirl di depan semua teman-teman kami. Aku tersenyum dan melanjutkan eksperimenku. Kuikat kedua tangannya di kursi lalu mulai kulumuri dengan minyak tanah. Aku menyalakan korek api tepat di wajahnya.

“Kita mulai permainannya ya, cantik. Ini mungkin sedikit sakit, tahanlah jika bisa menahannya.” Aku tersenyum.

“Jangan lakukan itu, kumohon…”, suaranya terdengar seperti berbisik. Wajah cantiknya penuh dengan air mata ketakutan.

Aku mengarahkan korek api ke tangannya dan dengan cepat api itu menyambar tangannya yang sudah kulumuri minyak tanah.

“AAAGHHHH!!”,teriaknya.

Teriakannya membuatku semakin semangat untuk menyiksanya. Selesai membakar tangannya, aku mengambil pisau yang berada di meja, lalu menyeringai ke arahnya.

“Hei, ternyata kau punya mata yang indah. Kau tidak keberatan kan jika memberikannya padaku?”

“Tt-tolong jja-ngan bu-nuh ak-uuu,” ucapnya terbata-bata lalu berteriak histeris.

Aku kaget saking kencangnya teriakannya. Oh, ayolah! Kita tidak sedang naik roller coaster. Tiba-tiba ia diam dan tak bergerak. Aku meletakkan jariku di depan hidungnya untuk memastikan ada CO2 yang keluar dari hidungnya. Ternyata masih ada, aku menghela napas lega. Aku tidak mau dia mati sebelum menyelesaikan permainan ini. Pemanasan saja belum, masa sudah menyerah, yang benar saja?

Anak berambut pirang dengan mata yang indah ini tiba-tiba terisak kecil. “Tolong maafkan aku, biarkan aku hidup.” Dia menatapku dengan wajah memelas. Tapi maaf, aku bukan orang yang berhati lembut.

Aku mendekatkan pisau tersebut ke matanya dan mulai mencongkel mata indah itu, lalu aku melihat darah segar yang keluar dari rongga matanya. Kutarik bola matanya keluar, lalu kuletakkan dengan asal di meja. Hal yang sama juga kulakukan untuk mata sebelah kirinya. Dengan begini, dia tak akan menangis lagi.

***

Namaku Eley, aku seorang gadis berusia 16 tahun. Saat ini aku tercatat sebagai siswi SMA ternama di kotaku. Aku tinggal bersama bibiku dan dua orang anaknya, orangtuaku meninggal dunia akibat kecelakaan saat aku berusia 5 tahun. Aku adalah gadis yang pendiam dan penyendiri. Aku kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang banyak. Di  sekolah juga tidak ada yang mau berteman denganku.

Kata mereka aku adalah gadis psikopat. Karena aku sering menyendiri dan berbuat kasar jika sudah bergabung dengan teman-temanku yang lain. Awalnya aku tidak marah karena aku tidak paham apa itu psikopat. Tapi setelah kutanya pada bibi, dan bibi menjelaskannya secara gamblang, aku mulai marah dan tidak segan-segan menyakiti siapa saja yang berani memanggilku dengan sebutan psikopat.

Orang yang pertama kali nyaris kubunuh adalah teman sebangkuku. Saat itu aku bertandang kerumahnya untuk mengerjakan tugas kelompok. Aku melihat ada kelinci di halaman belakang rumahnya. Aku mendekati kelinci itu dan bermaksud menggendongnya, tapi kelinci itu mencakar lenganku. Aku sangat kesal. Kuangkat kelinci itu tinggi-tinggi dan kubanting dengan kasar ke tanah, lalu kuinjak-injak sampai kelinci itu tak bernyawa.

Perbuatanku itu diketahui oleh April, teman sebangkuku. Dia marah melihat kelincinya sudah mati. Dia mendorongku hingga jatuh. Aku balas mendorongnya sekuat tenaga dan ia jatuh menghantam batu besar. Kepalanya mengeluarkan banyak darah dan teman-temanku yang lain langsung mengusirku dari rumahnya. Aku yang merasa tak bersalah langsung pulang dan bilang ke mereka kalau kelincinya lah yang sudah berbuat jahat padaku.

Sejak saat itulah aku berubah menjadi gadis yang kejam. Aku tidak segan-segan menyakiti bahkan membunuh siapa saja yang sudah membuatku kesal. Aku bukan tipe orang yang berhati lembut.

***

Aku menjatuhkan tubuhku di atas ranjang. Rasanya hari ini aku menghabiskan banyak tenaga untuk bermain dengan gadis bermata indah itu. Aku membujuk badanku untuk mandi dan membuang pakaianku yang penuh bercak darah. Setelah selesai mandi, aku turun kebawah untuk makan malam bersama bibi. Aroma masakan bibi selalu menggugah selera.

“Kenapa hari ini kau sangat lama tiba di rumah, Eley?”, tanya bibi padaku.

“Aku tadi mengerjakan tugas kelompok dirumah temanku, Bi.”, jawabku sekenanya.

“Jangan bilang kau melakukan hal-hal yang tidak kuinginkan?”, Bibi mengernyitkan dahinya.

“Aku tidak senekat itu, Bi.”, ucapku sambil tersenyum dan menyendok kuah sup yang baru diangkat Bibi dari kompor.

Aku lupa memberitahu kalian bahwa Bibiku lah satu-satunya orang yang mengetahui bahwa aku adalah Psikopat. Dan Bibi jugalah yang selama ini membantuku jika aku selalu mendapat masalah ketika menghabisi “mainan baru” ku. Bibiku lebih menyayangiku daripada kedua anaknya. Aku selalu dibela jika aku bertengkar dengan anaknya, padahal jelas sekali terkadang akulah yang salah, tapi Bibi tetap saja membelaku. Aku tidak tahu kenapa bisa seperti itu. Mungkin karena Bibi takut menjadi ‘mainan baru’ku selanjutnya. Aku selalu tersenyum membayangkan hal itu.

Cleo dan Luke ikut bergabung dengan kami di meja makan, mereka adalah anak Bibi. Cleo berumur 8 tahun dan Luke seusia denganku. Kami sekolah di tempat yang berbeda. Karena Luke tidak mau mengakui aku sebagai saudaranya. Luke selalu bilang aku adalah gadis yang tidak berperasaan. Luke berkata seperti itu karena ia pernah mendapati aku mencekik kucing tetangga kami hingga mati hanya karena menggangguku yang sedang makan. Meski Luke tidak menyadari aku adalah seorang psikopat, Luke sama sekali tak mau berhubungan denganku.

“Cleo, ambilkan sup itu untukku.”, ucap Luke pada adiknya.

Cleo mencoba menuangkannya untuk Luke tapi tidak berhasil karena masih sangat panas. Aku berniat untuk membantu Cleo tapi tanganku tiba-tiba saja di tepis oleh Luke.

“Aku tidak sudi makan sesuatu dari tangan seorang psikopat sepertimu.”. ucap Luke dingin.

Aku terkejut. Luke memang tidak menyukaiku, tapi dia tidak pernah mengataiku seperti ini. Wajahku memerah menahan amarah. Bibi langsung mengajakku menjauh dari Luke. Bibi mengajakku ke kamar untuk menenangkan diri. Bibi sangat paham watakku. Aku bisa sangat marah ketika mendengar seseorang memanggilku dengan sebutan psikopat.

“Apa Luke benar-benar sudah mengetahui bahwa aku psikopat, Bi?”

“Tidak sayang, Luke tidak tahu apa yang dia katakan tadi. Lupakan saja, ya.”, ucap Bibi dengan suara bergetar.

“Aku semakin membencinya sekarang.”, ucapku datar.

***

Waktu menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Aku keluar dari kamar membawa pisau dan martil di tanganku. Aku berjalan ke kamar Luke. Kulihat Luke sedang tertidur pulas. Di ranjang sebelah ada Cleo yang tidak kalah lelapnya. Aku tersenyum melihat wajah polos Cleo.

“Maafkan aku, Cleo. Malam ini kau hanya akan mempunyai satu saudara.”

Aku menikam dada Luke dengan pisau. Kulakukan berkali-kali. Wajahnya kututupi dengan bantal agar ia tak mengeluarkan suara yang berlebihan. Setelah itu kulanjutkan dengan menghantam kepalanya dengan martil. Ranjang Luke sekarang berubah warna menjadi merah. Kulihat Cleo masih tertidur pulas. Tapi, betapa terkejutnya aku ketika kulihat di depan pintu kamar sudah ada Bibi yang berdiri mematung melihatku menghabisi anaknya.

“Lanjutkanlah, setelah itu bersihkan semuanya.”, ucap Bibi datar.

Aku mengangguk dan tersenyum. Bibi menggendong Cleo keluar dari kamar Luke meninggalkan kami berdua. Benar kan yang kukatakan? Bibi lebih menyayangiku daripada Luke; anaknya sendiri. Aku melirik ke arah Luke yang sudah tak bernyawa. Kutikam sekali lagi ke arah jantungnya. Kubisikkan di telinganya, Aku bukan psikopat, Luke. Kalaupun kau tahu aku seorang psikopat, kau telah melakukan kesalahan terbesar karena telah mengatakannya tepat di wajahku.” Aku tersenyum sinis, lantas meninggalkan jasadnya yang membeku.

Devian Amilla
Devian Amilla

*Penulis adalah Alumni UMSU Jurusan Matematika, Beberapa karyanya seperti puisi, cerpen dan opini pernah dimuat di media lokal maupun luar daerah.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Komentar